Awal Februari, Harga Beras di Kabupaten Pati Melambung Naik

oleh -37 views
Foto: Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Pati, Hadi Santosa, AP; MM.

PATI, Selasa (13/02/2024) suaraindonesia-news.com – Harga beras ditingkat pedagang pasar di Kabupaten Pati melambung naik. Dalam kurun waktu satu minggu, yakni diawal Februari, harga beras jenis premium tercatat mengalami kenaikan cukup tinggi, dari 14.800 rupiah menjadi 16.000 rupiah. Sedangkan beras kategori medium, per hari ini, harganya 15.000 rupiah.

“Awal bulan Februari harga beras naik cukup lumayan. 1 Februari harga 14.800, 2 Februari 15.000 dan 6 Februari 16.000. Itu untuk beras premium”, kata Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Pati, Hadi Santosa, di kantornya, Selasa (13/02).

Kabupaten Pati saat ini, menurutnya, termasuk daerah dengan Indeks Perkembangan Harga (IPH), yaitu perbandingan harga salah komoditas pada periode tertentu, cukup tinggi. Yakni menempati urutan ke-3 dari 7 daerah di Jawa Tengah.

“Awal minggu ini, IPH Pati sebesar 1,8 persen. Naik dibandingkan pada minggu kemaren yang hanya 1,0 persen”, jelasnya.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Hadi, ada 90 kota di Indonesia, yang dilakukan survey Indeks Harga Konsumen (IHK), untuk menghitung nilai inflasi. Di Jawa Tengah sendiri ada 5 daerah yang disurvey.

Pati sebagai daerah lumbung beras, ungkap Hadi, mencatatkan neraca beras pada angka plus. Dalam arti, bahwa kebutuhan dibandingkan produksi, masih lebih besar produksi.

Baca Juga: Pemilu 2024 di Kabupaten Pati, 3 Kecamatan Belum Terdistribusi Peralatan

“Namun demikian, ternyata hasil produksinya banyak yang keluar daerah”, ungkapnya.

Meskipun begitu, pihaknya memastikan stok beras di Kabupaten Pati masih cukup aman dan tidak ada terjadi kelangkaan.

Diketahui, kebutuhan beras di Bumi Mina Tani ini rata – rata mencapai 8.000 ton per bulan. Sedangkan persediaan beras yang ada di gudang – gudang Bulog saat ini terdapat 3.000 ton.

“Itu belum dihitung termasuk yang ada di gudang beras milik pedagang, di rice mill (penggilingan padi) dan stok di pasar – pasar”, tambahnya.

Pihaknya mengaku belum bisa menghitung secara valid persediaan beras di luar gudang Bulog, mengingat perputaran distribusi yang dilakukan oleh pedagang.

Disisi lain, dinas yang dipimpinnya tersebut, tidak memiliki kewenangan untuk mencegah pelaku usaha perberasan untuk tidak mengirimkan beras ke luar daerah.

“Mendekati panen raya ini, mudah – mudahan harga bisa turun. Karena beras menjadi penyumbang terbesar bobot angka inflasi”, harap Hadi.

Menjelang bulan puasa tahun ini, diungkapkannya pula, ada kecenderungan kenaikan harga untuk beberapa kebutuhan pokok masyarakat, antara lain beras, minyak goreng, telur dan gula.

Reporter : Usman
Editor : Amin
Publisher : Eka Putri

Tinggalkan Balasan