KOTA BOGOR, Selasa (20/10) suaraindonesia-news.com – Momentum peringatan HUT ke-62 Partai Golkar menjadi kesempatan bagi jajaran pengurus dan kader untuk merefleksikan kepemimpinan serta memperkuat komitmen terhadap kepentingan organisasi.
Anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Bogor sekaligus Ketua PDK Kosgoro 1957 Kota Bogor, Heri Cahyono, S.Hut., M.M., mengajak seluruh pengurus dan kader agar menempatkan kepentingan partai di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Menurut Heri, pesan tersebut penting menjadi bahan evaluasi bagi pemimpin partai di semua tingkatan, mulai dari daerah hingga kecamatan dan desa atau kelurahan.
“Kita diberi amanah untuk membesarkan Partai Golkar, bukan untuk merasa memiliki, apalagi menguasainya. Partai ini adalah rumah perjuangan bersama, bukan milik pribadi atau kelompok tertentu,” ujar Heri dalam refleksi HUT ke-62 Partai Golkar.
Ia menjelaskan, membesarkan partai berarti memperkuat kelembagaan, membangun kebersamaan, menghargai setiap kader, serta memastikan organisasi memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sebaliknya, menurut Heri, kewenangan dalam organisasi perlu dijalankan secara bertanggung jawab agar tidak bergeser menjadi sarana memperbesar pengaruh pribadi. Ia menilai, kepemimpinan seharusnya dijalankan berdasarkan aturan, keadilan, dan kepentingan bersama.
Dalam refleksinya, Heri juga mengaitkan kepemimpinan dengan nilai-nilai tasawuf dalam ajaran Islam. Ia menyebut pentingnya membersihkan diri dari sifat sombong, tamak, angkuh, serta kecenderungan mencintai kekuasaan secara berlebihan.
Salah satu konsep yang disorotnya ialah tazkiyatun nafs, yakni upaya menyucikan jiwa dari sifat-sifat tercela. Menurutnya, konsep tersebut dapat menjadi bahan introspeksi bagi setiap orang yang menerima amanah kepemimpinan.
“Terkadang tantangan terbesar seorang pemimpin bukanlah menghadapi orang lain, tetapi menghadapi hawa nafsu dan egonya sendiri. Seseorang mungkin mampu mengendalikan organisasi, tetapi belum tentu mampu mengendalikan kesombongan, amarah, dan ambisi dalam dirinya,” ungkapnya.
Heri juga menekankan nilai tawadhu atau kerendahan hati. Ia berpandangan bahwa jabatan tidak semestinya membuat seseorang merasa paling benar, paling berjasa, atau paling berhak menentukan segala sesuatu.
Menurutnya, seorang pemimpin perlu membiasakan diri mendengarkan aspirasi, menghargai perbedaan pendapat, dan mengambil keputusan secara adil melalui mekanisme organisasi.
Selain itu, ia menyinggung konsep muhasabah, yaitu introspeksi terhadap sikap dan keputusan yang telah diambil.
“Pemimpin harus berani bertanya kepada dirinya sendiri apakah keputusan yang diambil sudah mencerminkan keadilan, kejujuran, dan kepentingan organisasi, atau justru lebih banyak dipengaruhi keinginan pribadi,” ujarnya.
Heri mengingatkan bahwa loyalitas terhadap Partai Golkar tidak seharusnya dimaknai sebagai kepatuhan tanpa batas terhadap kehendak seorang pemimpin. Menurutnya, loyalitas perlu berlandaskan nilai perjuangan, aturan organisasi, tanggung jawab, serta kepentingan bersama.
Ia juga menilai perbedaan pendapat tidak semestinya langsung dianggap sebagai bentuk permusuhan. Kritik yang disampaikan dengan itikad baik, kata dia, dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat organisasi.
“Jangan sampai loyalitas kepada partai berubah menjadi kewajiban untuk selalu membenarkan kehendak pribadi seorang pemimpin. Kita harus mampu membedakan kepentingan organisasi dengan kepentingan perseorangan,” tegasnya.
Ia menambahkan, kewenangan harus digunakan sesuai aturan dan prinsip keadilan, bukan untuk menekan atau merendahkan pihak lain.
Untuk menggambarkan kepemimpinan yang diharapkan, Heri menggunakan filosofi pohon beringin yang menjadi lambang Partai Golkar.
Menurutnya, pohon beringin dapat tumbuh besar karena ditopang oleh akar, batang, cabang, ranting, dan daun. Ia mengibaratkan unsur-unsur tersebut sebagai bagian organisasi yang saling mendukung dalam menjaga kekuatan partai.
“Seorang pemimpin ibarat penjaga pohon beringin. Tugasnya merawat, menyuburkan, dan menjaganya agar tetap kokoh serta memberikan keteduhan. Bukan menguasainya seolah-olah pohon itu milik pribadinya,” katanya.
Ia menilai, kekuatan organisasi politik tidak hanya bergantung pada pemimpinnya, tetapi juga pada kerja bersama seluruh unsur organisasi. Karena itu, keberadaan Partai Golkar diharapkan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat melalui kerja nyata, kepedulian sosial, dan pengabdian kepada kepentingan publik.
Heri juga mengutip pesan dalam Surah An-Nisa ayat 58 yang berkaitan dengan kewajiban menunaikan amanah dan menetapkan keputusan secara adil. Menurutnya, nilai tersebut mengingatkan setiap pemegang kewenangan agar menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh pertimbangan moral.
Melalui peringatan HUT ke-62 Partai Golkar, Heri mengajak jajaran pengurus di semua tingkatan untuk menjadikan kepemimpinan sebagai sarana memperluas pengabdian, bukan sebagai alat memperbesar ego dan kepentingan pribadi.
Ia berharap budaya organisasi semakin mengedepankan kebersamaan, keterbukaan, keadilan, serta kedisiplinan dalam menjalankan aturan.
Menutup refleksinya, Heri kembali menekankan pentingnya kemampuan seorang pemimpin mengendalikan diri sebelum menggunakan kewenangannya.
“Dalam jalan tasawuf, manusia diajarkan untuk menguasai hawa nafsunya, bukan dikuasai olehnya. Begitu pula seorang pemimpin, hendaknya mampu mengendalikan egonya sebelum menggunakan kewenangannya.”
“Jangan hanya berusaha menjadi orang besar di dalam Partai Golkar. Jadilah orang yang sungguh-sungguh bekerja untuk membesarkan Partai Golkar,” pungkasnya.
Heri berharap peringatan HUT ke-62 Partai Golkar dapat menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, melakukan evaluasi kepemimpinan, dan meningkatkan pengabdian organisasi kepada masyarakat, bangsa, dan negara.












