6.260 Balita di Aceh Utara Alami Stunting Sejak Tahun 2020 Hingga 2022

oleh -70 views
Foto: Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara, Samsul Bahri, saat diwawancara media ini di ruang kerjanya.

ACEH UTARA, Kamis (01/12/2022) suaraindonesia-news.com – Sejak tahun 2020 hingga akhir Desember 2022, sebanyak 6.260 anak alami gejala stunting di Kabupaten Aceh Utara.

Angka ini menunjukan sebesar 17 persen anak di bawah lima tahun (balita) mengalami stunting dari total data akurat Dinas Kesehatan Aceh Utara sebanyak 41.000 jiwa balita.

Jumlah data real ini merujuk kepada data sasaran Posyandu desa di kabupaten tersebut, angka ini muncul meliputi 27 kecamatan dan 32 unit Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Amir Sarufuddin melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Aceh Utara, Samsul Bahri kepada wartawan mengatakan, angka signifikan terjadi pada tahun 2020 lalu.

“Sejak 2020 Dinas Kesehatan Aceh Utara melai melakukan pendataan kasus stunting, dan kita juga mencadangkan program penanggulangan kasus ini,” ungkap Samsul Bahri, saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Kamis (01/12).

Guna mengantisipasi kasus darurat nasional ini, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara pun mengeluarkan peraturan penanganan kasus stunting anak. Di mana, pada tahun 2020 diawali dengan pendataan, penyuluhan dan sosialisasi masyarakat dan juga melakukan evaluasi program.

Angka stunting Aceh Utara turun drastis pada tahun berikut 2021. Samsul Bahri menjelaskan, keikut serta leading sektor pemerintah terkait sanitasi.

Diantaranya Dinas Kesehatan, Pendidikan, BPM, PUPR, Kebersihan, Lingkungan Hidup dan Perumahan Rakyat dan Pemukiman Masyarakat serta kerjasama Pemerintahan Desa mampu menurunkan angka stunting kabupaten terkait menjadi 3.167 jiwa.

“Tahun berjalan ini yakni 2022, kapasitas layanan terus kita tingkatkan, Alhamdulillah tahun ini angka stanting kembali berkurang dari sebelumnya 3.167 atau sekitar 8 persen jiwa balita menjadi 2.167 jiwa balita atau sekitar 6 persen,” terang Samsul Bahri.

Saat ini, lanjutnya, sebanyak 5 kecamatan yang masih mengalami tingkat gejala stunting tertinggi di Aceh Utara, diantaranya Kecamatan Paya Bakong, Meurah Mulia, Krueng Mane, Syamtalira Aron dan Seunudon.

“Stunting ini tidak hanya berpengaruh pada kekurangan gizi saja, tapi factor lingkungan juga. Maka, sanitasi sangat penting, guna menanggulangi angka stunting Balita,” pungkasnya.

Reporter : Efendi Noerdin
Editor : M Hendra E
Publisher : Nurul Anam

Tinggalkan Balasan