Wujudkan KBM Nyaman, Disdik Bidik Pembangunan Sapras Pendidikan

Nampak salah satu pembangunan/rehab gedung sekolah dalam kota Kayuagung.

OGAN KOMERING ILIR, Jumat (8/11/2019) suaraindonesia-news.com – Ditahun 2019, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) wujudkan pembangunan sarana prasarana (Sapras) pendidikan bagi sekolah yang tersebar di 18 Kecamatan. Sebagai upaya wujudkan kegiatan Belajar mengajar (KBM) nyaman.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten OKI Muhammad Amin, melalui Kepala Bidang Peningkatan Pembangunan Fasilitas Pendidikan, Umar Hasan, saat dikonfirmasi wartawan perihal tersebut.

Dirinya mengakui, tahapan pembangunan tersebut membutuhkan proses yang panjang. Tercatat, di tahun 2019 ini, bersumber dari dana apbn dan apbd baik untuk sd maupun smp telah mengcaver pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) sebanyak 40 lokal, rehab sebanyak 93 lokal, pembangunan Jamban baru sebanyak 15 unit dan rehab jamban sebanyak 111 unit yang tersebar di 18 kecamatan dalam wilayah Kabupaten OKI.

Tambahnya, sesuai dengan perkembangan jumlah siswa yang tidak sesuai dengan ruangan yang ada karna itu diadakan penambahan ruang kelas baru. Demi pemenuhan standar pelayanan minimal (SPM) sekolah.

“Dengan begitu, kita berharap standar mutu pendidikan di Kabupaten OKI dimasa-masa yang akan datang kian membaik. Dimana salah satu kebutuhan siswa bisa diakomodir seperti kebutuhan ruang belajar,” tuturnya.

Diperkiraan ditahun 2020 mendatang akan dibangun rkb sebanyak 50 lokal, rehab ruang sebanyak 120 lokal,pembangunan Wc (jamban) sebanyak 18 unit dab rehab jamban sebanyak 107 unit.

Namun umar menambahkan masih banyak lagi sekolah- sekolah yang lain butuh perhatian.

“Disdik OKI terus berjuang sehingga bisa mendapatkan bantuan dana baik prasana dan sarana bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), seperti dari kemen PUPR, DAK, blockgrand ataupun melalui dana crs dari perusahaan yang ada diwilayah Kab. OKI,” ungkapnya.

Ia menambahkan, dalam tahap pengusulan perbaikan bangunan ataupun penambahan ruang kelas baru, kita berharap pihak sekolah harus peduli masalah sarana dan prasarana.

“Apabila ada kerusakan ringan harusnya ditanggulangi jangan sampai meluas,” imbuhnya.

Lebih lanjut Ia merincikan, misalkan tingkat kerusakan kisaran 35 persen kebawah dari nilai kerusakan seluruh gedung atau bangunan dikategorikan rusak ringan bisa ditanggulangi pihak sekolah sendiri.

“Dan bila tingkat kerusakan mencapai angka 35 sampai dengan 45 persen dikategorikan rusak sedang bisa diusul untuk mendapat bantuan rehab,” jelasnya.

Umar menjelaskan, adanya usulan yang diajukan kepusat ditolak akibat dari perbedaan data yang diusulkan dengan data yang ada di dapodik menjadi salah satu penyebabnya.

“Pihak sekolah harus mengaktifkan data pokok pendidikan secara rill, jangan yang rusak dibilang baik. Demi menjaga citra sehingga bangunan yang rusak diangap baik akhirnya tidak mendapat bantuan terutama dana dak dan dana lainnya,” ujar Umar.

Reporter : Firman
Editorial : Amin
Publisher : Oca

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here