‘Tersihir’ Isu Kiamat, Belasan Warga Jember Hijrah ke Malang

Foto M. Romli pengasuh Ponpes Miftahul Falahil Mubtadin (Foto: Istimewa)

JEMBER, Jumat (15/3/2019) suaraindonesia-news.com – Tak hanya warga Ponorogo, 15 warga yang terdiri dari 8 kepala keluarga (KK) yang berada di wilayah Dusun Sumberejo, Desa Umbulsari dan Desa Gunungsari, Kecamatan Umbulsari, Jember, hijrah ke Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Falahil Mubtadin di Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon Malang.

Sebelum berangkat hijrah, belasan warga itu menjual harta benda miliknya karena merasa tidak bermanfaat ketika kiamat akan datang pada tahun 2019 ini. Bahkan mereka akan mondok di ponpes tersebut, untuk mencari perlindungan dan selama kurang lebih selama 90 hari atau 3 bulan, untuk menetap di sana.

Berdasarkan informasi warga, tokoh masyarakat yang mengajak sekitar 15 warga itu untuk eksodus ke Malang, diketahui bernama Ustaz Mudasir.

Menurut Kades Umbulsari Fauzi, sebelumnya belasan warga itu diajak ustaz Mudasir ikut dalam Jamiyah Sholawat MUSA AS. Dimana kegiatan aliran tersebut, sudah berjalan 2 tahun.

“Kemudian muncul desas desus akan ada kiamat di tahun 2019 . Saya bisa bicara, karena ada salah satu saudara saya ikut dalam aliran itu, saudara saya itu telah menjual tanah miliknya. Menurt mereka harta dan tanah tidak berguna lagi jika kiamat,” kata Fauzi saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (15/3/2019).

Namun ada hal yang sangat ganjil, kataFauzi, pasalnya uang hasil penjualan tanah malah digunakan untuk membeli mobil. “Mereka telah pamit ke saudara-saudara yang ada di Desa, sudah dapat3 hari mereka meningalkan desa yang katanya mau pergi ke Malang,” terang dia.

Lebih lanjut, Fauzi juga menyampaikan, terkait sosok ustaz Mudasir yang mengajak belasan warga untuk ikut Jamiyah Sholawat MUSA AS. Ustaz Mudasir oleh warga Desa kenal sebagai orang yang bersosok agamis kuat.

“Tapi saat saya mencari tahu tentang apa yang diajarkan aliran itu. Antara jamaah satu dengan lainnya, memiliki pemahaman berbeda. Aneh memang. Seperti alasan saudara saya tidak bekerja, dan menjual tanah karena kiamat, pengikut lainnya bilang, salah tafsir,” terangnya.

Namun meski demikian, mereka pengikut jamaah itu tetap berangkat ke Malang.

“Bahkan tanpa kabar, dan mengajak keluarganya. Ada warga saya yang bernama Bu Rini, dia sampai diancam akan dicerai oleh suaminya jika tidak mau ikut. Dan dari hasil penjualan tanah sebesar Rp 80 juta, Rp 3 juta untuk urus cerai,” pungkasnya.

Reporter : Guntur Rahmatullah
Editor : Amin
Publisher : Imam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here