Tegas, Pemkab Pati Robohkan Bangunan Tersisa di LI

oleh -222 Dilihat
Diantara puing - puing, Bupati Pati H. Haryanto, SH; MM; MSi (berpayung) memimpin langsung pembongkaran bangunan tersisa di kawasan LI.

PATI, Jumat (18/02/22) suaraindonesia-news.com – Pemkab Pati membuktikan ketegasannya tidak tebang pilih dalam pembongkaran bangunan tidak berijin yang disebut digunakan sebagai tempat prostitusi, dikenal dengan nama Lorok Indah (LI), turut Dukuh Bibis, Desa / Kecamatan Margorejo.

Sebanyak 70 bangunan yang berdiri di kawasan itu, sebelumnya pada Kamis (03/02/22) lalu, telah diratakan dengan tanah menyusul tindak lanjut Deklarasi Penutupan Tempat Praktik Prostitusi oleh Forkopimda Pati.

Namun, pembongkaran yang ditargetkan rampung pada hari itu, masih menyisakan bangunan, alias belum keseluruhan dibongkar.

Salah satu warga pemilik bangunan yang digunakan untuk bengkel kerja di kawasan itu, beberapa hari lalu telah membongkar sendiri bangunan miliknya. Atas kesadaran bongkar mandiri itu, pemilik bangunan mendapat apresiasi Pemkab Pati.

Satu bangunan tersisa, yang masih berdiri kokoh di ujung kawasan, yang diklaim sebagai bangunan pondok pesantren, hari ini, Jumat (18/02/22), dilakukan bongkar paksa oleh aparat dengan menggunakan alat berat ekskavator.

Pembongkaran dipimpin langsung Bupati Pati, Haryanto, didampingi Kapolres dan Dandim Pati, Kasat Pol PP, serta Forkopimcam Margorejo. Hadir pula, Ketua PD Muhammadiyah dan Ketua PCNU Pati.

Dibawah guyuran hujan cukup deras, pembongkaran berlangsung lancar tanpa ada perlawanan.

Bupati Haryanto mengatakan, pembongkaran bangunan di LI tidak membeda-bedakan, sehingga seluruhnya harus dibongkar setelah dilakukan tahapan, mekanisme dan prosedur.

“Dalam hal ini sudah jelas, bahwa kami tidak membongkar pondok pesantren, melainkan membongkar bangunan liar yang tidak berijin, tidak mempunyai ijin usaha dan NIB, serta menempati lahan pertanian berkelanjutan dan dipakai untuk tempat prostitusi,” tegas Haryanto.

Sebelum pembongkaran, sebut bupati, pihaknya juga telah berunding dengan putra kyai yang disebut sebagai penerima wakaf atas tanah dan bangunan tersebut.

“Gus Nova sudah menyampaikan bahwa PGN (Patriot Garuda Nusantara, ormas yang dipimpinnya), tidak ada di belakang tempat prostitusi. Gus Nova dan abahnya, Gus Nuril, juga sudah mengikhlaskan (untuk dibongkar) demi kepentingan bangsa dan negara maupun daerah,” jelas Haryanto.

Dia mengungkapkan, telah mengantongi bukti formal bahwa tidak ada tanah di LI yang diwakafkan secara sah untuk pondok pesantren.

“Kalau diwakafkan, harus ada pernyataan wakaf dari KUA. Dan saya punya bukti formal dari KUA Margorejo bahwa tidak ada wakaf untuk itu,” ungkapnya.

Menurut bupati, pondok pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama, harus mengurus administrasi di RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) NU.

Sedangkan yang diklaim sebagai pondok pesantren itu, lanjut bupati, juga belum terdaftar di RMI.

Reporter : Usman
Editor : Redaksi
Publisher : Syaiful

Tinggalkan Balasan