Tak Punya Biaya, Hasrat Anak Disabilitas untuk Mondok Didayah Kandas

oleh -115 views
Marhamah (14) penyandang disabilitas yang ber cita-cita untuk belajar mengaji di Dayah/Pesantren.

ACEH TIMUR, Sabtu (03/06/2020) suaraindonesia-news.com – Satu anak penyandang stabilitas (cacat fisik sejak lahir) luput dari perhatian, dimana kondisi kehidupannya sangat memprihatinkan.

Marhamah (14) anak penyandang stabilitas cacat fisik sejak lahir asal Dusun Matang Tengoh, Desa Matang Pudeng, Kecamatan Pantee Bidari, Kabupaten Aceh Timur, sangat mengharapkan uluran tangan dermawan untuk membantu kebutuhan sehari-hari, sedang orang tuanya dari keluarga dhuafa yang berprofesi sebagai buruh tani.

Keseharian hanya bermain sendiri dirumah, paling hanya bisa merangkak sampai dipintu rumah.

Kondisi tempat tidur nya pun tidak layak, ia tidur di ruang terbuka bagian dapur rumah.

Ramli (59), Ayah kandung Marhamah sangat mengharapkan bantuan untuk membiayai kehidupan putri nya, dulu Marhamah sempat duduk dibangku sekolah sampai kelas 3 SD, namun setelah ia pindah lokasi sekolahnya jauh dari rumah tempat tinggal. Sehingga ia tadak mampu mengantarnya, sebab di samping tidak memiliki kendaraan dan biaya sekolahnya. Makanya Marhammah sudah beberapa tahun tidak sekolah lagi.

Padahal Marhamah selalu menyampaikan keinginan untuk sekolah, saat ini pun dia masih sangat berharap dan bercita-cita untuk bisa belajar di pesantren atau di dayah.

“Sering iya menanyakan kapan diantarkan ke dayah, tapi apa daya nasib kami belum mampu memenuhi keinginan nya,” kata Ramli dengan nada sedih.

Ia mengatakan jika anaknya sangat berkeinginan untuk mengaji ke dayah, agar bisa menghafal dan membaca ayat sembahyang dan bisa membaca doa.

Saat ditanya apakah pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah, menurut Ramli mengaku pernah sekali mendapatkan bantuan berupa kursi roda.

“Itupun sudah lama sekali, pada saat itu marhamah masih kecil,” terang nya.

Menurut Ramli, keadaan diri nya sebagai buruh tani tiap hari bekerja banting tulang hanya mampu untuk mmbeli satu bambu beras, dan lauk seadanya, sebab pendapatan rata-rata Rp 20 – 25 ribu perhari.

“Itupun tidak setiap hari nya, ini saja sudah sepuluh hari tak punya pekerjaan,” ucap Ramli.

Reporter : Masri
Editor : Amin
Publisher : Ela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *