Solar Langka, Petani Blora Terancam Gagal Panen

Ngasimin Petani Desa Kapuan saat Melihat kondisi sawahnya yang mengering.

BLORA, Selasa (25/6/2019) suaraindonesia-news.com – Petani padi di Kabupaten Blora, tepatnya di Desa Kapuan, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, terancam puso atau gagal panen.

Pasalanya, para petani kesulitan mendapat bahan bakar minyak (BBM) dikarenakan langkanya BBM jenis solar. Akibatnya, puluhan hektar sawah tanaman padi terlihat mulai mengering dan terancam gagal panen atau puso, disebabkan kelangkaan solar, sebagai bahan bakar pompa air yang di gunakan untuk mengairi sawah yang ada tanamannya.

“Saat ini beberapa sawah mulai mengering, dan seminggu ini, sejak tanggal 18 Juni 2019, kami kesulitan air,” kata Ngasimin petani Desa Kapuan, Selasa (25/6/2019).

Hingga hari ini dirinya merasa kelabakan mencari solusi untuk mendapatkan solar, sedangkan dari pihak Desa sendiri yang biasa dimintai surat rekomendasi untuk membeli solar di SBPBU sudah tidak dilanyani.

Sementara Kepala Desa Kapuan, Hariyono saat dikonfirmasi suaraindonesia-news.com, terkait kelangkaan solar untuk bahan bakar pompa air yang mengairi petak sawah dilokasinya, membenarkan terjadinya kelangkaan BBM jenis solar.

“Benar, warga saya yang mayoritas adalah petani, sepekan ini mengalami kesulitan solar,” katanya.

Ia juga mengatakan, bahwa untuk kebutuhan solar semua warga khusunya petani Desa Kapuan membutuhkan 500 liter per hari untuk mesin traktor. Dan kali ini para petani di Desanya mengalami kesulitan untuk medapatkan solar, sedangkan kondisi petak sawah yang saat ini sudah ada tanaman padinya terlihat daunnya mulai menguning dan tanahnya mengering.

Sementara Suma Novendi Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas), Dewan Pengurus Cabang (DPC) Wilayah Pati, Jawa Tengah, menyangkal jika dirinya dianggap tidak melayani.

“Jika ada yang beli kita layani,” tandasnya singkat.

Dia juga mengatakan bahwa beberapa waktu yang lalu ada rapat antara hiswana migas dengan indakop yang hasilnya boleh dilayani kebutuhan pertanian dengan surat rekomendasi.

“Dari hasil rapat tersebut bahwa kita bisa melayani sesuai aturan (1.) Penjualan bisa ke media Jerigen 10 Liter menggunakan rekomendasi kelurahan. (2.) Penjualan bisa lebih dari 10 Liter ke media Jerigen dengan menggunakan surat dari Disperindag (3.) Sebelum mengesahkan hal tersebut diatas disperindag mau konsultasi dulu dengan pihak terkait, hasilnya kemarin sementara seperti itu,” ungkapnya.

“Mungkin SPBU takut melayani karena sudah ada yang melaporkan ke PT Pertamina pada saat pembelian menggunakan jerigen dan saat ini sudah ada pihak SPBU yang kena skorsing,” pungkasnya.

Reporter : Lukman
Editor : Amin
Publisher : Imam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here