Suara Indonesia News.Com – Magetan, Tradisi selamatan buka’ Giling yang dilakasanakan setiap taun oleh Pabrik Gula, PTPN XI PG Poerwodadie yang beralamat di Desa Pelem, Kecamatan Karangrejo. Kab, Magetan Jawa Timur sangat sepi pengunjung di banding tahun- tahun yang lalu, dan hanya dimeriahkan oleh para pedagang dan hiburan anak-anak yang datang dari luar daerah yang ingin menjajakan barang dagangan dan hiburanya..
Adanya tradisi selamatan buka’ giling ini, biasanya masyarakat sekitar Pabrik Gula menyambut dengan senang hati, pasalnya akan mendapatkan hasil tambahan dari hasil Parkir kendaraan sepeda motor, sewa tempat lapak dan sewa tempat hiburan untuk mainan anak-anak.
Namun, selamatan Buka Giling tahun 2015 yang jatuh pada hari ini Sabtu tgl 23/5 sangat sepi pengunjung, sehingga perolehan parkir, pendapatanya juga ikut sepi, hal ini di sampaikan oleh Riyanto/Sableng [23] yang biasa ikut parkir musiman kepada wartawan Suara Indonesia News beberapa hari yang lalu.
Ditambahkan, ia tidak mempersoalkan sepi atau tidaknya mendapatkan hasil, yang penting ikut memeriahkan dan sambil mejeng nonton pengunjung sudah puas, meskipun Pabrik Gula sendiri tidak mendatangkan hiburan sama sekali dari luar daerah, “ saya sudah puas” imbuhnya.
Lain yang di ungkapkan warga setempat sekitar Pabrik Gula [PG], ia sangat sedih dan menyayangkan pengunjung dan pedagang itu. pasalnya, pedagang dan para pengunjung itu kalau buang sampah di sembarangan tempat.
Ini berkelanjutan, saat Giling tebu tiba, dijelaskan, selama lima [5] bulan lebih warga masyarakat sekitar Pabrik Gula di hujani debu yang keluar dari asab cerobong, kustin Pabrik Gula itu, “ tradisi selamatan buka giling ini di samping membawa berkah juga membuat warga susah” ungkapnya.
Asap limbah keluar dari cerobong itu sangat berbahaya untuk Kesehatan, dikatakan, apa bila bercampur air bak untuk mandi, kulit biisa bengkak kemerahan dan gatal-gatal apalagi kalau kena Mata, sangat berbahaya dan bisa kebutaan.
Penelusuran wartawan Suara Indonesia News di lapangan yang kebetulan juga asli warga masyarakat sekitar PG, menyebutkan, bahwa Abu jlogo yang keluar dari cerobong pabrik Gula itu sudah beberapa kali di protes, dan sudah ada pembenahan dari pihak PG, namun sampai detik tahun ini belum ada perubahan yang signifikan.
Warga sekitar PG yang protes saat itu, sudah bungkam mereka yang dulu suaranya keras, sudah tutup mata, tutup telinga, karena mereka mereka yang suaranya keras itu sudah ditawari kerjaan, untuk anak-anaknya, dan saudaranya, meski kerjaan itu hanya sebagai kuli rendahan yang bergubel dengan abu/awu kethelan.
Sekarang jamanya sudah berbeda, ganti pimpinan ganti permasalahan dan ganti tradisinya, jangan harap, angin segar yang di tawarkan pimpinan PG dulu itu, direalisasikan oleh pimpinan yang baru sekarang ini. [tar].
