Sejumlah Warganet Tanggapi Pemudik yang Dikarantina

oleh -241 views
Ilutrasi covid-19

LUMAJANG, Senin (6/4/2020) suaraindonesia-news.com – Sejumlah Warganet menanggapi adanya pemudik yang di karantina oleh pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang.

Salah satunya, Mas In, dalam akun facebooknya menuliskan bahwa pemudik menjadi unik. Dibiarkan langsung pulang ke rumah (tanpa karantina), banyak yang protes ke Pemkab.

Mereka akan di karantina selama 14 hari di Sekolah Unggulan Terpadu (SUT) dengan biaya sendiripun tak kalah banyak yang protes.

Duhai asyiknya jadi Bupati/Wakil Bupati.
Note:
1. Perlu di jelaskan, siapa yang masuk kategori pemudik? Apakah yang pulang dari pondok atau sekolah/kuliah (dengan segala kategori umur) juga termasuk pemudik dan harus di karantina.

Org yang habis bepergian dari zona merah, apakah juga perlu di karantina?

2. Terkait biaya, apakah Pemkab telah menghitung, berapa perkiraan biaya yang akan di keluarkan kalau semisal Pemkab yang harus membiayai pemudik selama di karantina? Apakah terlalu besar sehingga tidak mampu?

3. Sebaiknya adakah open donasi, untuk biaya konsumsi selama karantina.

Selain Mas In, ada juga yang menyayangkan hal pemudik yang harus dikarantina. Warganet itu atas nama pemilik akun facebook Ittaqullah.

Saran. Bagaimana jika Dana CSR yang katanye Milyaran itu sementara dialihkan untuk penangan Covid-19 dulu ?? Daripada yang yang karantina suruh pakai biaya sendiri. Mereka yang pulang dari luar kota itu karena tempat kerjanya terkena dapak covid juga dan diliburkan dan tidak dapat penghasilan makanya mereka pulang. kalau ingin mereka gak pulang kampung ya silahkan gaji mereka.

CATATAN :
Lek moro2 kolom komentar dinonaktifkan
yo wero dewe opo’o..

Pemilik akun Facebook atas nama Andrean Adi Zeva, warga Lumajang, Asli Perumahan Dawuhan Indah Blok CC02, Dawuhan Lor, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, memohon maaf kepada
Admin Grup Facebook Tongkrongan Arek-Arek Lumajang (TAAL) Taufiq Marzuki dan terutama Bupati Pak Thoriq dan Bunda Indah.

Andrian menanyakan apa benar warga Lumajang yang merantau tidak boleh mudik???? dan jika mudik akan di karantina 14 hari dan di kenakan biaya sendiri???

Sekarang Andrian domisili di Pulau Bali, kerja di sektor pariwisata. Bekerja sebagai karyawan hotel di Bali.

“Saya tidak merasa keberatan dengan keputusan Pemerintah, terutama Pemkab Lumajang, asal di balik himbauan harus ada solusi untuk warga yang merantau, khususnya yang berada di Pulau Bali,” ungkapnya.

Menurutnya, ada sekitar 45 persen warga Lumajang berada di Pulau Bali dan semua sektor pekerjaan disini tergantung sama sektor Pariwisata. Jika Pariwisata ambruk yang lain ikut ambruk dan mengakibatkan PHK massal. Sedangkan di Bali dirinya bersama perantau lainnya butuh makan dan butuh bayar kost untuk berteduh.

“Jika bapak Bupati ingin kami warga Lumajang tetap di tanah perantauan, sedangkan kami banyak yang menjadi pengangguran karena Pariwisata lagi ambruk di Bali, mohon kami diberikan solusi yang terbaik untuk warganya yang berada di tanah perantauan dimanapun itu,” ucapnya.

Mungkin bapak Bupati bisa koordinasi dengan pihak Disnakertrans untuk berkordinasi dengan Kemnakertrans Propinsi Bali atau bapak Bupati bisa berkoordinasi dengan pihak Propinsi Bali langsung untuk menitipkan warganya.

“Dimungkinkan Propinsi Bali dengan bantuan sosial atau apalah, agar kami disini bisa bertahan hidup. Jika kami tidak di perbolehkan pulang kampung,” keluhnya.

Reporter : Fuad
Editor : Amin
Publisher : Ela

Tinggalkan Balasan