Program Pemberdayaan Ekonomi Warga Lingkar Operasi Blok A Binaan PT Medco Dinilai Gagal

oleh -183 views
Dok Sosialisasi program pertanian padi SRI organik binaan PT Medco E&P Malaka.

ACEH TIMUR, Selasa (03/11/2020) suaraindonesia-news.com – Program pertanian tanaman padi SRI (Sistem of Rice Intencification) organik dan Rosela yang dibangga -bangakan sebagai program perberdayaan ekonomi masyarakat lingkar tambang ekplorasi gas Blok A binaan PT. Medco E&P Malaka out put dan out came nya jauh panggang dari api.

M. Irwandi, Tokoh masyarakat Indra Makmue mengatakan, Pengucuran dana Comunity Development (CD) dan anggaran Corperate Social Responbility (CSR) sebagai tanggung jawab sosial perusahaan, seharus nya mampu memberikan dampak positif dan azas manfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Namun ketika melihat beberapa objek program yang telah di laksanakan oleh PT. Medco masih jauh dari harapan, pertanian organik yang dititik beratkan pada tanaman padi sri organik, seperti halnya di Desa Blang Nisam, yang merupakan Gampong di mana CPP berada, tidak ada satupun petani yang melaksanakan program tersebut, di karenakan kesulitan dalam hal perawatan dan pengendalian hama serta kendala non teknis lainnya,” Kata Ustad Wandi panggilan akrab M. Irwandi.

Akibatnya kata Ustad Wandi, mimpi padi organik menjadikan komoditi unggulan di Blang Nisam gagal di tengah jalan, begitu pula hal yang sama di alami di Desa Alue ie Itam.

“Beradasarkan pengamatan kami selama 2 tahun sudah berjalan, terkesan petani di eksploitasi untuk mensukseskan program dengan modal swadaya seadanya dan berakibat satu persatu petani yang pada awalnya semangat menjalankan program memilih mundur secara terhormat,” jelasnya.

Lanjutnya Ustad Wandi menjelaskan, hayalan untuk menjadi lumbung padi organik, sebagai pemasok utama kebutuhan konsumsi untuk kantin Medco sendiri, hanyalah sebuah isapan jempol belaka.

Nasib yang sama juga di alami oleh Kelompok Wanita Rosela Desa Alue Ie Itam, dengan bangga management medco menyatakan keberhasilan mendapatkan PIRT, yang di muat media online, salah satunya media lokal edisi (08/07/2020) dengan judul, Siap Pasarkan Produk Lebih Luas, Kelompok Binaan Medco Peroleh PIRT dari Pemkab Aceh Timur.

Mengutip pernyataan susanto General Manager PT.Medco E&P Malaka ”pembinaan ibu ibu di sekitar wilayah operasi medco merupakan salah satu komitmen perusahaan untuk terus meningkatkan tingkat ekonomi masyarakat”.

“Apa yang di utarakan Susanto di perkirakan ada hal yang sangat keliru yang di terima laporan dari bawahannya, hal ini di sebabkan sangat bertolak belakang dengan statement yang di nyatakan, konsistensi PT. Medco pada program hilirisasi atau pemasaran produk hasil kelompok binaan patut di pertanyakan, salah satu contohnyan adalah kelompok Alue ie itam sudah dapat memproduksi pupuk kompos,” terang Ustat Wandi

Pernah ada yang pesan dan membeli 30 ton untuk kebutuhan program penanaman komodity lainnya, namun ironisnya kata Ustad Wandi, PT.Medco punya kegiatan penanaman pohon di area CPP yg di laksanakan pihak ketiga (subkon) tapi mereka lebih memilih menggunakan kotoran hewan mentah yang di pesan dari Desa sekitar proyek.

“Ketika kami pertanyakan kepada salah satu tim comdev, mereka memberikan jawaban yang tidak masuk akal hanya karena beda divisi jobdesk pekerjaan, dari sini sangat terlihat bahwa antar divisi PT. Medco tidak sinkron dalam mensukseskan program yang menyangkut masyarakat lingkar tambang,” beber Ustad Wandi.

Begitupula dengan kelompok wanita Rosela Alue itam kita apresiasi atas capaian perolehan PIRT no 204110510007-25 untuk penganan gorengan, kerupuk malaka hasil olahan sayur, akan tetapi perlu di lihat lebih mendalam bahwa fakta di lapangan tidaklah seindah untaian kata.

“Semenjak PIRT di terbitkan kelompok wanita Rosela tidaklah berproduksi yang dapat meningkatkan ekonomi, sebagaimana harapan semua pihak, pertama cara memperoleh PIRT terkesan di paksakan untuk kesuksesan program, kedua home industri yang disurvei penerbit izin merupakan rumah kost pendamping yg di sulap,
ketiga produk kerupuk tersebut berbasis organik sementara bahan baku tidak tersedia di sebabkan lahan untuk menanam beberapa jenis tanaman yang di butuhkan terlantar dengan beberapa persoalan mendasar yang tidak pernah di tanyakan dan di diskusikan dengan tim Medco,” terangnya lagi.

Oleh karenanya kata Ustad Wandi, kita sarankan kepada tim Medco untuk lebih terbuka dan mencari format baru agar program tidak hanya menghabiskan dana mubazir, tidak mampu memberikan nilai positif secara ekonomi kepada masyarakat wilayah operasional Medco.

Reporter : Masri
Editor : Amin
Publisher : Ela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *