Pluralisme Dalam Prespektif Agama Islam

oleh -58 views
Penulis : Akh. Fauzi

OPINI, Senin (07/11/2022) suaraindonesia-news.com – Ahmad Syafii Maarif lahir di tanah Minang yang dikenal memiliki latar belakang budaya yang kaya kultur keislaman yang sangat kental serta dinamika masyarakat yang beragam.

Hal tersebut telah menjadi nilai lebih tersendiri guna terbangunnya watak dan mandiri. Seperti diakui oleh Buya Syafii Maarif latar belakang kondisi tersebut begitu membekas dalam perkembangan pengembangan kepribadian-nya.

Ahmad Syafii tumbuh menjadi sosok memiliki wawasan keislaman kuat dan luas namun hal tersebut tidak menjadikan seorang yang anti pati terhadap keyakinan diluar agama Islam.

Ia tidak mengalami kesulitan untuk memahami berbagai pandangan hidup dan pada gilirannya hal itu sangat menunjang perluasan wawasan terhadap pluralitas dan peri kehidupan manusia pada umumnya.

Ia bahkan dikenal sebagai sosok yang membunyikan dialog antar agama yang berorientasi pada program kemanusiaan yang ada saat ini.

Sebagai ahli filsafat sejarah ia banyak merefleksikan kehidupan manusia di Indonesia khususnya, yang menjadikan cermin untuk menata dan memformulasikan gagasan-gagasan intelektualisme Islam dan pluralisme agama, guna membangun perdamaian umat islam.

Pemikirannya ditanam sebagai pondasi perdamaian dan kecemerlangan masa depan. Terbukti dalam berbagai karyanya terdapat banyak sekali himbauan-himbauan yang kaya akan nilai-nilai kemanusiaan yang dikemas dalam gagasan intelektualisme Islam.

Karena itu penulis memandang bahwa ia adalah sosok yang memiliki cita-cita perdamaian yang kuat antara sesama umat beragama dan sesama umat Islam.

Ahmad Syafii Maarif sangat mengkritisi kenyataan bahwa selalu terdapat jurang pemisah yang nyata di antara umat Islam manusia, antara miskin dan si kaya, antara kaum mayoritas dan minoritas, antara kaum pemeluk keyakinan yang berbeda dan lain sebagainya.

Hal tersebut justru membuat cita-cita kesatuan humanitas dan prinsip-prinsip keadaan semakin jauh dari apa yang akan digapai.

Dalam pandangan Ahmad Syafi’i Maarif, manusia seperti tertera dalam Al-Quran merupakan makhluk Istimewa karena pada proses penciptaannya telah ditiupkan ruh Tuhan padanya yang kemudian dijadikan ia makhluk yang mulia.

Namun kemudian manusia bukanlah tanpa syarat dikarenakan ia sudah dengan potensi baik dan potensi jahat dalam dirinya. Sehingga tidak ada jaminan bahwa ia akan selamanya melakukan hal-hal baik yang hidupnya.

Maka bagi Buya Syafii Maarif manusia harus di didik dengan gagasan Intelektualitas dan pluralitas agar ia bisa mengembangkan potensi baik yang dimilikinya, dan mampu mengawas potensi jahatnya dengan mengarahkan agar tidak teraktualisasi dalam kehidupan masyarakat.

Namun kini manusia harus dihadapkan dengan kenyataan pahit sejarah yang selalu penuh konflik. Fenomena (konflik) di atas menunjukkan kesenjangan (gap) antara dialitas agama sebagai ajaran dan pesan suci Tuhan dengan realitas empirik yang terjadi dalam masyarakat.

Pembahasan pluralisme dalam Syafii Maarif, dinamakan pendekatan setuju dalam perbedaan. Gagasan ini menekankan bahwa pemikiran Syafii Maarif dalam agama manapun yang ia peluk itulah agama yang baik.

Walaupun demikian ia mengakui antara agama yang satu dengan agama yang lainnya selain terdapat perbedaan-perbedaan juga terdapat persamaan-persamaan. Inilah esensi dari pemikiran Syafii Maarif yang bercorak pluralis sehingga menghargai atas perbedaan agama baik dari keyakinan, praktek keagamaan dan banyak hal lainnya tapi tidak menyetujui bahwa seluruh teks suci keagamaan mengajarkan akan kebaikan dan perdamaian.

Pluralisme Agama
Pluralisme merupakan terminologi filsafat yang berkembang di dunia Barat. Istilah ini muncul dari pertanyaan ontologis tentang ”yang ada” (what is being?).

Oleh karena itu untukmenjawab pertanyaan tersebut kemudian muncul empat aliran yaitu: monisme, dualisme, pluralisme dan agnotisisme. Monisme beranggapan, bahwa ”yang ada” itu hanya satu, yang serba spirit, serba roh dan serba ideal.

Aliran ini kemudian dikenal dengan monisme-idealisme yang dipelopori oleh Plato. Dualisme beranggapan, bahwa ”yang ada” itu terdiri dari dua hekikat, yaitu materi dan roh. Aliran ini dipelopori oleh Descartes.

Pluralisme beranggapan ”yang ada” itu tidak hanya terdiri dari materi dan roh atau ide, melainkan terdiri dari banyak unsur. Lalu agnotisisme mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat materi maupun rohani termasuk juga yang mutlak dan transenden.

Wacana pluralisme yang digulirkan oleh john Locke (1634-1704), Leibnez (1664-1716) dilakukan untuk menetralisir kontroversi antara Gereja Anglikan dan Gereja Katolik serta kemunculan demonisasi (sakte- sakte) yang ada dalam Protestan.

Dari sinilah kemudian para filsuf penggagas perlunya kebebasan beragama tanpa ada dominasi kelompok mayoritas Katolik terhadap minoritas di Perancis abad 17.

Ajaran toleransi dan kebebasan beragama yang digagas oleh locke terdapat tiga poin: pertama, hanya ada satu jalan atau agama yang benar; kedua Tidak seorangpun yang akan diselamatkan bila tidak percaya pada agama yang benar; ketiga kepercayaan tersebut diperoleh manusia melalui akal budi dan argument, bukan melalui kekuatan untuk mempropagandakan kebenaran dan keselamatan.

Oleh karena itu tidak seorangpun, baik secara pribadi maupun kelompok dan bahkan lewat institusi berhak menggunakan kekuatan untuk tujuan tersebut.

Sejalan dengan locke, keprihatinan Leibniz terhadap konflik Katolik Kristen yang berjuang pada perang selama 30 tahun (1618-1645) orangnya untuk berpikir secara plura.

Dalam pandangan dunia ini terdiri dari bagian-bagian kecil dan substansi-substansi sederhana yang disebut monade, setiap monade mencerminkan dunia secara keseluruhan universal. Oleh karena itu konflik atau perang berarti berlawanan dengan harmoni universal dunia.

Sementara itu menurut Muhammad Legenhausen, terdapat lima macam wajah agama: pertama pluralisme agama moral. pluralisme agama ini menyeru kepada semua pihak, khususnya umat Kristiani untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan agama lain, menjauhkan arogansi dan menyebarkan toleransi.

Tokoh pencetus pluralisme agama ini adalah Fridrich Schleiermacher, Rudolf Otto dan John Hick. Legenhausen menyebutkan sebagai pluralisme religus normatif; kedua organisme agama soteriologis. Pluralisme agama ini berpandangan bahwa selain itu umat Kristen juga bisa memperoleh keselamatan Kristiani.

Pluralisme Agama ini merupakan lanjutan dari religius normatif; ketiga pluralisme agama epistimologis. Pluralisme agama ini menegaskan bahwa umat kristen tidak memiliki kebenaran yang lebih mantap atas keimanan mereka dibanding para penganut agama lain.

Oleh karena itu para Penganut Agama besar di dunia ini memiliki kedudukan yang sama dalam konteks justifikasi keyakinan agama yang menurut Hick paling tepat dalam pengalaman keagamaan; keempat pluralisme agama aletis.

Pluralism agama ini menegaskan bahwa, kebenaran agama harus temukan dalam agama agama selain Kristen dengan derajat yang sama sebagaimana dapat ditemukan dalam agama Kristen; kelima menurut agama ini bahwa pada kebenaran daur sejarah tertentu.

Tuhan memberikan Wahyu untuk membuat manusia melalui Seorang nabi atau Rasul perintah dan kehendak Ilahi ini terus menyempurnakan dan melahirkan keragaman tradisi agama.

Ditetapkannya Muhammad sebagai pembawa risalah Islam terakhir memutuskan mata rantai penyempurnaan tradisi agama sekaligus menuntut seluruh umat manusia untuk memeluk agama terakhir ini sebagai konsekuensi konsekuensi dari pengamalan dan pelaksanaan perintah Ilahi.

Dalam konteks ini terdapat dua kelompok pemikiran besar dalam merespon plurilisme agama tersebut. Kelompok pertama menganggap bahwa pluralisme agama sebagai sesuatu yang niscaya, sedangkan kelompok kedua menganggap bahwa proses agama sebagai paham yang bukan hal yang niscaya.

Menurut kelompok yang menolak pluralisme agama berpendapat bahwa “pluralitas agama” dan “plurarisme agama” merupakan dua hal yang berbeda. Pluralitas agama adalah kondisi dimana berbagai macam agama wujud secara bersamaan dalam suatu masyarakat atau negara.

Sedangkan “pluralisme agama” adalah suatu paham yang menjadi tema penting dalam disiplin sosiologi teologi dan filsafat agama yang berkembang di barat dan merupakan agenda penting globalisasi.

Oleh karena itu menganggap “pluralism agama” sebagai sunnatullah adalah klaim yang keliru dan berlebihan.
Di barat sendiri terdapat dua aliran besar terkait dengan pluralism, yaitu paham yang dikenal dengan program teologi global dan Paham satuan-satuan agama atau dengan istilah lain paham “modern” atau paham “tradisional”.

Munculnya kedua aliran diatas latar belakangi oleh motif yang berbeda. Bagi aliran pertama (modern) yang pada umumnya diwarnai oleh perspektif sosiologis, motif utamanya adalah tuntutan modernisasi dan globalisasi.

Atas ini maka agama harus dikaitkan dengan dua tuntutan dimaksud. Gagasan yang ditawarkan oleh kelompok ini adalah konsep dunia tanpa batas geografis, cultural, ideologis, teologis dan seterusnya. Artinya, semua identitas tersebut harus dilebur dengan zaman modern. Mereka yakin bahwa agama agama itu ber volusi dan pada gilirannya akan saling mendekat, tidak ada perbedaan, alias “semua agama sama”.

Sementara aliran kedua (tradisional) yang pada umumnya menggunakan pendekatan filosofis dan teologis, justru menolak dua tuntutan modernisasi dan globalisasi tersebut yang cenderung mengetapikan agama. Kelompok ini berusaha mempertahankan eksistensi agama dan tradisi terjadinya melalui pendekatan religius filosofis.

Agama tidak bisa di begitu saja diubah menjadi suatu tuntutan zaman modernisasi atau globalisasi. Namun kelompok ini kemudian juga menawarkan konsep yang diambil secara paralel dari tradisi-tradisi agama. Salah satu konsep pertama adalah “Sophia Perrenis” atau dalam Hindu disebut sanatana Dharma.

Senada dengan penjelasan tentang latar belakang munculnya pluralisme agama ini Anis Malik Thoha mengungkapkan bahwa proses masuknya agama muncul dilator belakangi oleh pemikiran liberalisme di bidang sosial politik yang menandai tatanan dunia abad modern.

Agama harus mampu menyesuaikan diri dengan wacana wacana modern Global, seperti ; HAM, demokrasi, egalitarianisme dan pluralism.

Jika Proses liberalisi politik di barat telah melahirkan “realisme agama” yaitu komposisi kan semua agama sebagai sama benarnya. Dengan demikian menurut Anis lahir dari rahim liberalisme politik.

Di antara tokoh pengusul mazhab pluralisme agama ini adalah Ernst Troelth (1865-1923) seorang teolog Kristen liberal yang menganggap bahwa tidak ada kebenaran mutlak dengan semua agama, alias bersifat relatif. Lalu diikuti oleh tokoh lain seperti William E. Hocking dan Arnold Toynbee (1889-1975).

Menurut Anis realisme agama dunia islam masih merupakan wacana baru yang tidak dimiliki akar ideologis atau teologis yang kuat. Ide pluralisme Agama Islam adalah akibat dari pengaruh penetrasi Barat modern yang muncul pada masa perang dunia kedua, yaitu ketika para generasi muda Islam telah mengenyam pendidikan barat.

Kemudian menyusul pemikiran Islam melalui karya-karya barat muslim seperti Fritjhof Schun.
Di kalangan agamawan Indonesia baik Islam maupun Kristen agama juga di respon dan dimaknai secara berbeda-beda (terdapat pro dan kontra).

Bagi kelompok Islam radikal seperti Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dan Front Pembela Islam (FPI) dengan tegas Mereka menolak agama. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Ismail Yusanto juru bicara HTI, bahwa pluralism agama adalah absut.

Senada dengan Anis, Yusanto menegaskan bahwa pluralism agama adalah paham dari barat yang dikembangkan dari teologi inklusif yang bertentangan dengan Alquran surat 3:85 ; yang berbunyi “barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang merugi”.

Berdasarkan hal tersebut Yusanto yakin bahwa kebenaran hanya milik dan Monopoli umat Islam. Di kalangan Kristen pandangan ini sudah dikenal sejak lama bahwa bahkan sejak abad pertama, sehingga dikenal dengan ekstra tidak ada keselamatan di luar gereja. Tokohnya antara lain Karl Bath dan umumnya para teolog evangel.

Sementara itu fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharamkan pluralisme agama adalah pluralisme dalam pengertian, bahwa “semua agama adalah sama”.

Karena menurut MUI implikasi Muhammad seperti ini akan mengubah aspek-aspek baku dari suatu ajaran yang mengikuti ajaran lain yang demikian itu tidak dikehendaki oleh ajaran manapun sejalan dengan MUI, Frans Magnis Susseno juga tidak setuju dengan paham relativisme agama-agama ini.

Menurut Suseno bukanlah relativisme dan bukan pula paham yang mengakui bahwa semua agama adalah sama benarnya, melainkan Prisma adalah suatu realitas yang harus diterima bahwa manusia hidup bersama dalam kebenaran perbedaan baik budaya maupun agama.

Di sini Suseno meniscayakan “pluralisme”, tetapi tidak dalam pengertian “relativisme”.
Teologi inklusif dan pluralis dikembangkan untuk mendukung upaya dialog antar agama.

Dari kalangan Kristen, nama-nama seperti Karl Rahner dan Goorge Khodr dikenal sebagai tokoh-tokoh inklusif, sementara W.C Smith, john Hick dianggap sebagai tokoh-tokoh pluralis.

Di kalangan Islam, teologi inklusif dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Muhammad Abdul, Rasyid Ridha, mereka ini mendasarkan pandangan pada Quran al-Baqarah (2) : 62 dan al-Maidah ayat ayat yang menunjukkan keselamatan kepada Penganut Agama Kristen, Yahudi dan Shabi’en.

Sementara itu sayyed Hossein Nars dan Fazlurrahman di anggap sebagai tokoh yang mewakili pandangan pluralis. Sebagai contoh Fazlurrahman Yang berpegang pada semangat al quran surat al-baqarah (2) : 228 dan Al Maidah (5) : 48 menegaskan tentang arti pentingnya perbedaan agama dan agama setiap pemeluk agama saling kompetitif untuk berbuat kebajikan bukan sebaliknya, saling bermusuhan dan di akhirat kelak Tuhan akan menjelaskan perbedaan perbedaan itu.

Di kalangan muslim Indonesia yang tergolong pluralis misalnya Mukti Alawi shihab dan Abdurrahman Wahid, sementara yang tergolong seperti Jhohan Efendi dan Nurcholis Madjid.

Sementara yang kita ketahui bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural ditinjau dari berbagai aspek, baik etnis bahasa, budaya, maupun agama. Ini artinya, bahwa pluralitas merupakan realitas dan jenis sayuran bagi masyarakat Indonesia.

Menurut heldred Geertz, sebagaimana yang dikutip oleh Zada bahwa di Indonesia terdapat lebih dari tiga ratus etnis masing-masing etnis memiliki kebudayaan Sendiri lebih dari duaratus lima puluh bahasa yang digunakan, dan hampir semua agama besar dunia terdapat di dalamnya selain dari ragam agama itu sendiri.

Seperti pengamatan Coward, bahwa setiap agama muncul dalam lingkungan yang ditinjau dari sudut agama dan membentuk dirinya sebagai tanggapan terhadap proses tersebut.

Oleh sebab itu pluralisme agama tidak jika tidak dipahami secara benar dan arif oleh masing-masing pemeluk agama akan menimbulkan dampak tidak hanya berupa konflik antar umat beragama tetapi juga sosial dan disintegrasi bangsa.

Menurut Abu Rabi meskipun Islam telah menjadi kekuatan nilai dalam menumbuhkan etos bolisme keagamaan Sejak Indonesia merdeka, namun potensi untuk menjadi gerakan sosial yang mundur ke belakang dengan sentimen anti-Kristennya tetapi terbuka lebar.

Berbagai kecenderungan dan pola pemikiran keislaman yang muncul akhir-akhir ini menggambarkan posisi Islam berbeda-beda dalam berhadapan dengan komunitas agama lain.

Oleh sebab itu menurut Robby aspirasi politik keagamaan yang berkembang akan tetap membuka peluang bagi tumbuhnya gerakan sosial Islam yang sulit menunjukkan tinggi nilai-nilai toleransi, keterbukaan dan modernisasi dan ini merupakan tantangan yang sama yang semakin nyata seiring dengan perkembangan wacana keagamaan pasca-modern.

Pluralisme dalam Perspektif Islam
yakni pada masalah prioritas agama akan menjadi tampak jelas sekali jika diberikan penjabaran dasar-dasar teoritis yang terdapat dalam Alquran dan sunah serta implementasi dasar teoritis dalam masyarakat Islam sepanjang sejarah.

Pandangan Islam terhadap agama lain pada dasarnya berangkat dari aqidah tauhid yang dituangkan dalam kalimat Lailahaillallah (tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) yang merupakan esensi dasar agama Islam dan realitas fundamental dalam akidah Islam.

Dalam sebuah sistem atau negara yang menerapkan Islam maka muslim dan non muslim harus diperlakukan secara sama sebagai warga negara secara khusus malah yang wajib bagi Muslim Tidak wajib bagi muslim, seperti membayar zakat, ini tidak wajib bagi yang beragama non Islam.

Dalam kehidupan publik warga non muslim mendapat perlakuan sama dengan yang muslim. Seperti keduanya berhak mendapat perlindungan keamanan pendidikan layanan kesehatan gratis.

Jika seorang muslim tidak boleh dicerai jiwa diambil hartanya tanpa hak, maka begitu juga atas non muslim. Nabi terakhir kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam juga mengajarkan toleransi yang sangat tinggi. Toleransi bukan hanya menerima kehadiran orang lain yang berbeda berstatus, keyakinan, serta perbedaan lainnya, tetapi justru secara aktif ikut terlibat untuk saling mengeluarkan tangan dalam menciptakan perdamaian.

Pengertian ta’awanu ala birri wattaqwa harus dicerna sebagai bagian dari kesediaan untuk mengalirkan tangan solidaritas dalam membangun Dalam usia dan harmonis.

Nabi Muhammad telah mencontohkan perilaku yang sedemikian itu beliau selalu mencari titik temu dari berbagai golongan yang berbeda di sekitar Madinah, dengan terlebih dahulu mengakui eksistensi mereka sebagai tertera dalam komitmen Madinah.

Begitu juga Khalifah Umar Bin Khattab meneruskan sunnah Rasulullah, beliau ketika memasuki Yerusalem, yang terkenal sebagai piagam Aelia. Apa yang diteladankan oleh Muhammad dalam sunnah beliau yang kemudian diteruskan Omar bin Khattab, terus dipertahankan oleh para khalifah lainnya.

Misalnya khalifah di Andalusia dengan konsisten dan mengagumkan menyayangkan sikap politik kemajemukan.
Bagi seorang muslim, sikap fanatik atau memutlakkan ajaran agama adalah tertuju pada dirinya sendiri, bukan kepada orang lain seorang muslim jauh dari wajah otoriter untuk memaksakan sikap mutlak ini kepada orang lain karena dia terhalang oleh sebuah ayat laa ikraha fiddin tidak ada paksaan dalam beragama.

Hilangnya sejarah kelahiran Rasulullah dari hati orang-orang Islam dan tidak ada respon dari mereka terhadap sejarah, telah membuat kaum muslimin terjerumus ke dalam bencana yang diakibatkan oleh sikap terlalu kaku dan terlalu longgar.

Diantaranya fenomena sikap longgar dan Lala itu adalah adanya anggapan bahwa liberalisme dan dan ketidak acuan terhadap norma-norma agama adalah sebuah kemajuan peradaban. Ini betul-betul sebuah tanggapan yang sama sekali tidak memiliki dasar yang masuk akal sedikitpun.

Tidak benar dipandang dari sudut apapun. Pluralisme Ahmad Syafii Maarif Pemikiran pluralisme Ahmad Syafii Maarif dipengaruhi oleh pendekatan Neo modernisme Islamnya fazlur Rahman.

Seperti dijelaskan oleh Rahman sendiri bahwa gerakan pembaharuan bertumpu pada pertama, perumusan pandangan dunia Alquran. Kedua, menciptakan suatu analisis yang sistematis terhadap ajaran ajaran moral Alquran dan pada gilirannya akan tercipta etika Alquran.

Ketiga, merumuskan sistem dan formula hukum yang selaras dengan kebutuhan kontemporer berdasarkan etika tersebut. Arah gerakan Rahman ini mengambil bentuknya pada hipotesanya tentang arus kebangkitan Islam yang menyebar di dunia yang muncul sebagai reaksi yang kuat terhadap kelemahan ulama tradisional dan kegagalan Negara Islam dalam menanggulangi pengaruh Barat Singkatnya model berpikir Neo-modernisme Islam ala Rahman seperti yang secara kritis diungkapkan juga oleh Farid Essack dalam bukunya Quran, Liberation & Pluralisme.

Dalam rumusan model di atas, pemikiran Islam Ahmad Syafii Maarif mengenai dasar Islam apakah itu konsepsinya tentang Alquran dan sunnah nabi lahir dari bentuk pemahaman yang diperolehnya dari Sang Guru Neo modernisme Islam fazlur Rahman.

Sementara pada sisi yang lain, selain pengaruh Rahman, Buya Syafi’i juga terpengaruh dalam pemikiran seperti Toynbee, Iqbal dan harta yang menurut hemat saya memberikan fondasi bagi lahirnya pemikiran kritisnya. Pendekatan kritis yang dimaksud, seperti yang diulas juga oleh Haryatmoko, nampak pada empat pernyataan, yaitu pertama, agama tidak selalu berdaya mengawal perilaku penyimpangan kekuasaan yang dilakukan penguasa muslim.

Mereka maka perlu sikap kritis untuk jujur terhadap masa lampau. Kedua, sejarah kepahitan harus dikatakan dan dibongkar meskipun harus menelanjangi diri karena sejarah merupakan pedoman bertindak dalam batas ruang dan waktu. Ketiga, ada kecenderungan manusia untuk menyembunyikan kepentingan kepentingan di balik ayat-ayat suci.

Keempat, tinggalkan sikap bangga dalam kesemuan, pakai ukuran akurat untuk berkaca diri sebagai kritis, jangan menunjukkan kelemahan diri dan bersiaplah menyatakan diri sendiri.

Menurut haryatmoko, pendekatan krisis ini, selain mampu membongkar mitos-mitos masa lampau dan legitimasi kekuasaan, juga merupakan kritik ideologi atau kritik terhadap keyakinan keyakinan yang bisa berubah menjadi ilusi.

Pengambilan jarak kritis ini memungkinkan membuka cakrawala baru sejarah dan terobosan di dalam melihat masa depan karena tidak terpasang oleh penafsiran yang apologetic.

Kemampuan diri sendiri adalah bentuk kebebasan dan keterbukaan untuk berubah. Cara berfikir Ahmad Syafii dengan mengelaborasi modernis Islam dan pendekatan kritis menjadikan sebagai seorang yang memiliki integritas keislaman yang unik dan independen pemahaman Islam yang kontekstual dan substantif tapi tetap kritis pada alur perubahan yang bergerak.

Islam Agama Damai Terbuka dan Dinamis

Pada bagian ini dimulai dengan mengupas soal dalam Islam dalam pemahaman Ahmad Syafii. Dengan mengetahui pandangan beliau mengenai agama ini, maka setidaknya kita bisa mengetahui Grand naratif yang anda diciptakan kepada publik.

Dan inilah yang menjadi dasar spektrumnya terhadap semua persoalan yang dipotretnya, pemahamannya tentang Islam mewarnai pemikiran tentang tema lainnya.

Dengan mengutip apa yang dikemukakan oleh Frithjof Schoun (1985:10), bagi Ahmad Syafii Islam dipahami sebagai agama secara tegas menawarkan prinsip keseimbangan pada manusia, karena tujuan yang hendak dicapai oleh Islam adalah tegaknya prinsip prinsip persamaan, keadilan, persaudaraan, dan toleransi.

Pandangan ini didasarkan pada ayat Al Qur’an Al Quran surat Al-Hujarat, 49: 10, 13, 15 ; An-Anisa’, 4:58.

Nilai-nilai di atas, menurut Syafii, telah menghilang dari kehidupan umat hingga Iskan dilihat seorang tampil dalam periode tertentu dalam sejarah dengan wajah topeng, jauh dari Anggun.

Diantara Sebab utama Mengapa situasi ini memudar adalah karena dasar Etik yang dipedomani dalam kehidupan bukanlah sepenuhnya etik Alquran, tapi lebih banyak etik golongan, suku, bangsa, kelompok kepentingan.

Apabila hal ini terjadi, maka perbedaan maka peradaban sebuah masyarakat akan mengalami kemunduran bahkan akhirnya digulung waktu ketika para pemimpinnya secara sadar membunuh Nalar kreativitasnya dalam menanggapi berbagai tantangan yang menghadangnya.

Prinsip Islam yang terbuka dan dinamis dan dasarkan pada etika Alquran nampak sekali Pada perjalanan sejarah Islam Indonesia. Seperti nyata oleh bahwa proses penyebaran islam ke nusantara secara damai.

Islam sebagai pendatang baru telah menggeser peran dua agama besar sebelumnya (Budha dan Hindu). Gelombang besar Islamisasi terjadi pada masa Portugis, sebagian besar bangsawan masuk Islam sebagai upaya mereka melawan kristalisasi zaman Portugis.

Sedangkan kristenisasi yang didukung oleh pemerintah kolonial misalnya Gubernur Jenderal Jan Pieters Zoon Koen (1567-1629) tidak berpengaruh besar terhadap berpindahnya agama, meski menggunakan politik beras.

Terhadap cara ini, Buya Ahmad Syafii menyatakan, “Dalam perkembangan sejarah kemudian cara-cara koin tidak pernah efektif karena pada umumnya iman yang dibeli dengan benda adalah sebuah iman yang berkualitas rendah.”

Singkatnya adalah ketidak tepatan membaca sejarah nilai-nilai etika Alquran itulah yang menjadikan bahwa Islam menjadi brutal anarkis dan beku.

Tempat Toleransi dalam Islam

Berbicara tentang keragaman agama dan budaya tidak bisa dilepaskan dengan prinsip kebebasan yang merupakan salah satu pilar utama demokrasi. Tetapi di mata Al-Qur’an, kebebasan itu bukanlah tanpa batas, yaitu dibatasi oleh ruang lingkup kemanusiaan itu sendiri.

Fenomena keragaman agama dan budaya di kalangan umat manusia dari zaman dahulu kala sampai hari ini adalah fakta yang tidak mungkin diingkari. Mengingkari fakta ini sama saja dengan sikap tidak mengakui adanya cahaya matahari di kala siang bolong.

Keragaman agama dan budaya dapat juga diungkapkan dalam formula: pluralisme agama dan budaya. Al- Qur’an adalah Kitab Suci yang sudah sejak dini membeberkan keragaman ini berdasarkan kasat mata, karena hal itu merupakan bagian yang sudah menyatu, tidak banyak reaksi yang muncul, tetapi sekali menyinggung pluralisme agama, banyak orang yang naik pitam dan hilang keseimbangan, semata karena salah paham atau memang tidak paham.

Reaksi emosional dan temperamental terhadap isu ini hanya akan memperumit keadaan yang dapat berujung dengan perpecahan teologis yang sia- sia.
Dalam hal pluralisme (paham kemajemukan) agama, Al-Qur’an tampaknya berangkat lebih jauh.

Tidak saja orang harus mengakui keragaman agama yang dipeluk oleh umat manusia, mereka yang tidak beragama pun harus punya tempat untuk melangsungkan hidupnya di bumi.

Dalam sebuah masyarakat yang belum dewasa secara psikoemosional, Ahmad Syafii mengatakan bahwa perbedaan terlalu sering dianggap sebagai permusuhan, padahal kekuatan yang pernah melahirkan peradaban-peradaban besar justru didorong oleh perbedaan pandangan dalam melihat sesuatu. Gesekan pendapat jika didialogkan secara dewasa akan melahirkan rumusan pandangan yang lebih kuat dan komprehensif.

Orang tidak boleh merasa selalu berada di pihak yang paling benar, sebelum pendapatnya itu diuji melalui dialog yang sehat dalam suasana toleransi dan terbuka.

Dalam kaitan ini, mari kita bicarakan fakta tentang ldaim kebenaran oleh aliran-aliran pemikiran dalam Islam di era kontemporer yang oleh Abou El Fadl dikelompokkan dalam dua kategori: Islam puritan dan Islam modern.

Penutup

Neo-Modernisme dalam pemikiran Ahmad Syafii Maarif berusaha memahami pemikiran-pemikiran Islam dan Barat secara padu. Dengan kebebasan manusia mampu meningkatkan harkat martabatnya serta memperoleh keadilan sosial.

Neo-Modernisme adalah seperangkat metodologi yang sistematis dan konperenshif, khusunya yang terkait dengan penggalian terhadap sumber-sumber ajaran islam, yakni Al-Quran dan sunnah Nabi.

Pemikiran Islam Indonesia. Dengan berusaha memperkenalkan wajah Islam yang ramah, damai, tolera, kritis,dan dinamis yang diderisi dari pemahaman yang utuh terhadap pesan moral dan nilai-nilai universal Al-Quran dan Hadis.

Syaafii Maarif bukanlah seorang intelektual di menara gading karena ia telah menjadi bagian penting dari dinamika Muhammadiyah.
Menurutnya, berkiprah dalam ormas Islam semacam Muhammadiyah menuntut kesabaran tinggi.

Dalam konteks ini, ungkapan “Satu Kata,Satu Perbuatan” mencerminkan sebuah konsistensi intelektual dirinya yang dipengaruhi filosofi Iqbalian; filosofi yang menanamkan semangat kenabian dimana kesadaran langit (idealism –Qurani) harus bercumbuh dengan faktah-fakta kesejarahan bumi (realitas).

Walaupun dikatakan sebagai pemikir agak terlambat munculnya dalam pentas tokoh islam Indonesia, namun keberadaanya menjadi penting ketika tokoh-tokoh yang dimiliki bangsa semakin menghilang karena concern dan fokus perjuangannya telah bergeser pada wilayah yang pragmatis- politis.

Dengan konsistensi yang dimiliki, maka layaklah intelektual dari tanah Minankabau ini menjadi guru bangsa yang senantiasa kritis dan peka terhadap persolan umat. Ikhtiar membangun Islam dalam bingkai keIndonesiaan dan kemanusiaan dalam satu tarikan napas merupakan kerja dakwah dan kebudayaan yang diharapkannya berdaya jangka jauh.

Penulis : Akh. Fauzi
Editor : M Hendra E
Publisher : Nurul Anam

Tinggalkan Balasan