JAKARTA, Kamis (24 Agustus 2017) suaraindonesia-news.com – Walau banyak tantangan akhirnya peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI Ke-72 terlaksana juga di Pluit yang di ikuti oleh anak anak Tionghwa dan Papua, tutur Pembina TRC PA, Roostin Ilyas Kepada media ini.
Lanjut Roostin bercerita, minggu yang pertama, Donny Sumarsaid melatih anak anak etnis Tionghwa ini di sekolah saya pun sangat terharu karena mereka sangat semangat menyanyikan lagu lagu kebangsaan seperti lagu Garuda Pancasila, Padamu Negri, Maju Tak Gentar, Satu Nusa satu bangsa, Sorak sorak bergembira dan Indonesia Raya.
Namun keesokan saya dan Donny terkejut karena tiba tiba anak anak yang kami latih memundurkan diri, saat kami konfirmasi ke orang tua anak anak tersebut mereka menjawab “bu maaf kalau lagu lagu biasa gak apa apa bu atau menari itu boleh boleh saja, tapi ini kan lagu lagu kebangsaan untuk itu kami selaku orang tua takut bu kalau anak anak kami nanti salah menyanyikannya pasti kami habis dimarahi banyak orang bu,” Roostin meniru kalimat orang tua anak itu.
Lanjut Roostin, mendengar kalimat dan rasa takut orang tua itu, saya langsung menjawab dengan kata untuk meyakinkan mereka sebagai orang tua.Baca Juga: Museum Pancasila dan Konstitusi di Jember, MK Setujui Program Bupati Faida
“Ya gak lah bu, kan kalau salahpun mereka ini kan masih anak anak bu,” kata Roostin menyakinkan orang tua itu.
Namun orang tua anak anak itu menjawab lagi, jadi kita ini kan cina bu, gak boleh salah, kita takut kalau nanti ada apa apa sama anak anak kita kalau mereka salah.
Lalu Roostin menjawab setelah mendengar alasan orang tua itu “Aku speechless, aku dia, ya Allah masalah kemanusiaan seperti ini didepan mataku dan aku gak tau jika masih ada berapa orang lagi yang ketakutan di negeri ini, ya ini adalah benang merah jaman orde baru yang gak perbolehkan etnis tionghwa jadi TNI Polri dan PNS, ya jadi mereka berkelompok dan menekuni ekonomi dan kala itu mereka menguasai ekonomi kita malah marah, maka terjadilah kebencian yang dikarenakan ketidak bijaknya sebuah keputusan politik, tutur Roostin penuh rasa kecewa.
Lebih lanjut Roostin menceritakan Keesokan harinya aku mencari anak anak sipit yang lain, ku ajak bicara orang tua mereka kuyakinkan anak anak mereka akan tampil keren seperti anak anak indonesia yang lain dan hasilnya Alhamdulillah ada 30 anak yang orang tuanya juga aku ajak nyanyi bersama anak anaknya ditambah 30 anak dari Papua ikut menyanyikan lagu kebangsaan.
“Peristiwa ini bagiku sangat menyakitkan, mengapa harus anak keturunan Tionghwa yang jadi tumbal, mereka adalah anak Indonesia, merdeka juga ingin masuk sekolah SDN namun gak cukup berani untuk di bulli,” ucap pembina TRC PA itu.
Untuk itu, Roostin mengajak kita yang mayoritas ini mau merangkul yang minoritas sehingga kesenjangan, kebencian dan kecemburuan sosial akan menurun karena perjalanan bangsa ini masih jauh, kedewasaan politikpun masih jauh, wakil rakyat masih merupakan wakil partai, namun apapun itu bagiku yang penting adalah selamatkan anak anak bangsa ini jangan wariskan kebencian pada anak kita kita.
“Jangan ajarkan mereka membenci dan dendam meski dengan alasan apapun,” ajak Roostin. (T2g)












