Paguyuban Pedagang Blok F Tolak TPS Ditempatkan Di Blok A

Blok A Pasar Kebon Kota Bogor

Reporter: Iran G Hasibuan
BOGOR, Selasa (13/6/2017) suaraindonesia-news.com – Paguyuban Pedagang Blok F Pasar Kebon, Kecamatan bogor tengah kota Bogor, Jawa Barat, tolak ditempatkan untuk Tempat Penampungan Sementara(TPS) di Blok A.

Pasalnya, jika ditempatkan di blok A akan merugikan semua pedagang blok F, padahal pada masa penampungan pedagang harus kerja keras untuk mengumpulkan uang untuk pembayaran kios di blok F usai revitalisasi.

“Kami menolak ditempatkan di Blok A, kami tau kalau kami akan ditempatkan disana, yang pasti kami tidak akan bisa mengumpulkan uang karena pelanggan kami akan hilang,” kata ketua paguyuban blok F Suryanto kepada media ini.

Ditambahkan Suryanto, bukan tanpa alasan mereka menolak ditempatkan di blok A,melihat kondisi blok A yang pengab(sirkulasi udara kurang memadai)apalagi ditempatkannya di lantai satu,sementara pedagang yang sebelumnya yang sudah menempati lantai satu sudah pada angkat kaki.

“Kenapa kami yang harus dikorbankan, pedagang yang sebelumnya aja sudah meninggalkan kiosnya, tegas suryanto dengan kesal,” tuturnya.

Dikatakan Suryanto, Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PD PPJ) jangan membuat dosa yang kedua kalinya seperti di blok sebelah yang mengakibatkan hilangnya pedagang lama.

“ini tanah negara dan dipergunakan untuk kesejahraan rakyat,bukan sebaliknya pedagang dijadikan untuk dijajah,kami sudah turun temurun dagang disini,” tegasnya.

Direktur Operasional PD PPJ Ir Syuhaeri Nasution ketika dikonfirmasi suaraindonesia-news.com mengatakan, bahwa pihaknya sudah menargetkan pedagang menempati TPS setelah lebaran tahun ini di Blok A lantai satu (1) dan mereka sudah bekerja sama dengan PT Javana dan ada sekitar 500 kios yang akan disediakan untuk TPS untuk menampung pedagang dari blok F yang berjumlah178 pedangan.

Menurutnya, pertimbangan dipilihnya TPS di Blok A Lantai 1 lantaran di area Blok F secara bersamaan dilakukan juga proses pembangunan, mulai dari Masjid Agung, pembongkaran bangunan di lahan PT. KAI dan lainnya.

“Sehingga hal ini sedikit banyak akan menyita badan jalan karena mobilisasi kendaraan ke lokasi pembangunan, juga termasuk akan timbulnya debu-debu dari material bangunan,” ujarnya.

Syuhaer juga mengatakan, sesuai amanat wali kota, pihaknya tidak boleh mengganggu kelancaran arus lalu lintas, apalagi jalan-jalan masuk alternatif SSA (Sistem Satu Arah).

“Makanya kita tidak ingin menyediakan TPS di kawasan Jalan Dewi Sartika, begitu juga Jalan Nyi Raja Permas yang tidak memungkinkan karena pertimbangan akses pengunjung.Untuk solusinya, sementara waktu menggunakan Blok A lantai satu (1),” sambung dia.

Terpisah, Pimpinan PT Mulya Giri Rudi Perdinan atau yang akrab dengan panggilan Rudi Bule saat dikonfirmasi terkait dengan penolakan pedagang untuk TPS yang akan ditempatkan di Blok A lantai satu (1) mengatakan, bahwa penolakan pedagang tersebut bukan tanpa alasan.

“Saya setuju pedagang menolak ditempatkan di blok A,mereka itu kan harus dikasih kesempatan untuk mencari bekal untuk tempat yang baru,kalau ditempatkan diblok A,apalagi dilantai satu bagaimana nanti mereka mau masuk lagi kalo modal dan dagangan nya sudah habis,” imbuhnya.

Dirinya berjanji akan menyampaikan keluhan pedagang kepada pihak PD PPJ untuk tetap ditempatkan ditempat yang lain yang tidak akan merugikan pihak pedagang.

“Saya akan sampaikan kepada pihak PD PPJ untuk ditempatkan disekitaran blok B,kalo dagang disekitar blok B,langganan mereka tidak akan hilang karena jangkauannya tidak jauh,semoga pihak PD PPJ mengabulkannya,” pamungkas Rudi Bule.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here