Naumi Inspirasi Kemanusiaan, Perempuan dan Anak-anak Indonesia

oleh

Catatan seorang sahabat Tito Gatsu

Kenapa saya bersahabat dengan Naumi, saya melihat Naumi adalah interpretasi nyata dari sebuah realita kehidupan yang sangat suram menjadi sesuatu yang begitu menginspirasi.

Awal kedekatan kami adalah pada saat dia membangun KORNAS Tim Reaksi Cepat Perlindungan Anak (TRC PA) pada tahun 2011, saat itu saya tidak begitu optimis apa yang dia lakukan akan membuahkan hasil, kebetulan tahun itu kami bertemu di Mabes Polri diruangan seorang petinggi dibidang Pengawasan Polri.

Kami bertemu lagi pada tahun 2015, saat peristiwa pembunuhan Angeline di Bali, saya cukup terkesan dengan perjuangannya hingga menghadirkan realita dan kenyataan sesungguhnya peristiwa tersebut, padahal begitu dahsyatnya cobaan yang dia hadapi demi sesuatu kenyataan yang dia perjuangkan karena ibu angkat Angeline pun bukan orang sembarangan yang memiliki kedekatan dengan orang-orang terkenal di pemerintahan maupun di luar negri.

Kamipun akhirnya bersahabat walaupun fungsi saya sebenarnya lebih banyak hanya sebagai pendengar, justru banyak hal yang menginspirasi saya dalam perjuangan hidup dan kemanusiaan.

Ada sekelumit kisah nyata yang ingin saya ceritakan, Sebuah cerita yang hebat untuk diri saya, adalah begitu tragisnya pengalaman masa lalu Naumi, dia adalah seorang perempuan dari 8 bersaudara yang kesemuanya laki-laki, lahir dari seorang ayah yang dipecat dari ketentaraan karena sering mabuk, kehidupan yang broken home hingga pada saat dia berusia 11 tahun pernah diperkosa oleh 6 orang teman-teman kakaknya.

Sungguh luar biasa penderitaan sahabat saya ini, dia tidak mendapatkan perlindungan yang pantas dari orang yang seharusnya menjadi tempat mengadu dan petugas yang seharusnya melindunginya, peristiwa tersebut sempat terekspos tapi hanya menguntungkan pihak-pihak yang mengeksposnya saja, seperti kenaikan pangkat dari pihak petugas dan bantuan untuk keluarganya tanpa memikirkan penderitaan dan masa depan dirinya.

Hingga dia lari dari keluarganya dan berlindung kepada keluarga pemulung tapi tekatnya yang membaja pada saat itu, ‘Bahwa saya harus menjadi sesuatu! Karena saya harus bisa merubah kehidupan anak-anak Indonesia, jangan seperti apa yang saya alami!’. Katanya sambil terisak.

Dan saya melihat begitu lemahnya perempuan Indonesia ketika melihat sosok ibunya, apa bedanya laki-laki dan perempuan?, kenapa perempuan Indoneaia begitu lemah?’ tambahnya lagi!.

Karena tekat yang membaja dan kebetulan dia dikaruniai Tuhan kecerdasan bangku sekolahpun bisa dia selesaikan sampai perguruan tinggi, dengan kerja keras supaya mendapatkan bea siswa dan menjadi perhatian lingkungannya. Bahkan beberapa kali dia diangkat anak oleh aktivis dan petinggi kepolisian dan TNI karena dianggap mempungai kecerdasan diatas rata-rata dan naluri intelejen.

Bahkan sempat mendapatkan bea siswa belajar di Yordania atas referensi seseorang yang sekarang menjadi mentri dikabinet Indonesia maju.

Banyak kasus besar yang sudah dia bongkar, diantaranya kasus pembobolan Bank pelat merah pada awal tahun dua ribuan dan bukan Naumi namanya jika tidak sanggup pasang badan dan sempat menjadi narapidana dalan suatu tugas yang lainnya tapi diapun berhasil memberikan informasi kasus yang lebih besar lainnya dilingkungan kepolisian dan lembaga yudikatif.

Ini sedikit kisah yang disampaikan Naumi kepada saya pada saat bertemu di jakarta, Naumi menulis ini ketika kembali dari Mabes Polri :

Seorang Naumi Kornas Tim Reaksi Cepat Perlindungan Anak (TRC PA) adakan giat “Stop Pengkredilan di kalangan TNI -POLRI, Beberapa kegiatan kemanusiaan bermitra dengan Polri pun juga di laksanakan, hingga terjadi Revolusi Mental, Polri Go To School, Polri KOI Darat, hingga setiap divisi yang prestasi di berikan reward dengan kenaikan pangkat, hal itu di sambut baik oleh masyarakat.

Seorang sahabat / My Best Friend, seorang Polisi yang menjabat sebagai Dirreskrimum tugas di salah satu Polda Zona A, berkata “Naumi” sebenarnya kamu layak dapat “PENGHARGAAN” dari Kapolri atas apa yang sudah kamu lakukan membawa dampak positif bagi Polri.

Namun saya jawab, tidak bang, kegiatan saya itu tak butuh penghargaan, setidaknya saya merasa bangga, saya berhasil laksanakan giat itu, meski harus berdebat dengan oknum Bhayangkari kala itu yang berucap “Emangnya kita dinas Sosial”??

Terima kasih pak Tito, inilah yang saya maksud pergerakan saya dari dulu, saya rela meski sempat di lacak siapa saya, nomor hand phone dan email saya di sadap, kemanapun saya pergi, terpantau..

Namun sekarang kalian sudah tau, apa sebenarnya pergerakan yang tak terbaca, tak tersurat namun tersirat yang telah saya lakukan?

Kini POLRI NAIK DAUN, bagaimana tidak, Ketua KPK seorang Polisi, Kepala BIN dari unsur Polri, Mendagri seorang Polisi, Ka Bulog adalah Polisi, Dirjen Imigrasi juga seorang Polisi, Kepala BNPT dari unsur Polri, Kepala BNN seorang Polisi, Dir Pindad juga dari Polri, ketua Pramuka seorang Polisi, Ketum PSSI juga Polisi, Kapolri, Wakapolri, Kapolda, Kapolres dan Kapolsek yang jelas juga Polisi.

Sementara Puluhan ribu Brimob adalah Polisi, Ribuan Polwan juga Polisi, Hehe… Semoga Amanah dalam menjalankan tugas Kawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *