Narkotika Jenis Sabu di Kota Batu Mulai Digemari Masyarakat Bawah

oleh
Kepala BNN Kota Batu, AKBP Mudawaroh.

KOTA BATU, Sabtu (28/12/2019) suaraindonesia-news.com – Badan Narkotika Nasional Kota Batu (BNNK Batu) menyebut peredaran Narkotika jenis sabu di kota Batu Jawa Timur, sekarang ini bukan hanya digemari pada kalangan ekonomi menengah ke atas, tetapi sudah mulai digemari masyarakat ekonomi bawah.

Menurut Kepala BNN Kota Batu, AKBP Mudawaroh mengatakan jika sebelumnya penggunaan narkotika jenis sabu, mayoritas hanya digunakan pada masyarakat kelas atas, tetapi sekarang ini di kota Batu sudah menyasar pada masyarakat bawah, diantaranya petani, kuli bangunan dan sopir.

“Padahal harga sabu menurut pengakuan pelaku narkoba harganya sangat mahal, per gramnya berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 1,7 juta. inipun sekarang ini masyarakat bawah mampu membelinya,” Kata Kepala BNNK Batu, AKBP Mudawaroh, saat ditemui di Kantornya, Sabtu (28/12/2019).

Terbukti, lanjut dia, dalam catatan BNN selama kurun 2019 ini BNNK Batu berhasil menangkap basah tiga pelaku pengedar dan pengguna narkotika.

“Dari tiga kasus yang telah dinyatakan lengkap berkasnya oleh Kepolisian atau P-21. Dari penangkapan tersebut, BNNK Batu mengamankan 6,95 gram sabu dan 52,43 gram ganja,” jelasnya.

Tersangkanya adalah Anang Heriawan merupakan ASN Pemkot Batu yang ditangkap pada 22 Februari 2019 dengan BB sabu 4,81 gram dan ganja 52,43 gram. Serta uang tunai Rp 700 ribu dan dua hp merek Samsung.

“Kemudian tersangka berikutnya ditangkap 2 Juli 2019 dalah Ngadi dan Iis Damayanti. Penangkapan tersebut berhasil mengamankan barang bukti sabu seberat 2,14 gram dan satu buah HP merek Samsung,” ujarnya .

Meski demikian, Ia mengungkapkan, banyak dari pengguna narkotika di Kota Batu mengkonsumsi ganja dibanding sabu-sabu. Karena harga ganja lebih murah dari sabu-sabu. Ganja harganya pergram berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 400. Sementara yang paling digemari kalangan anak muda, termasuk pelajar adalah Pil Dobel L, harganya satu tik berkisar Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu. Dan terjangkau bagi mereka.

Selain pemberantasan, BNNK Batu juga melalukan aksi pencegahan dan pemberdayaan masyarakat. Aksi tersebut masuk dalam program Bang Wawan atau program berwawasan anti narkoba dengan melibatkan semua pemangku kepentingan di lingkungan pendidikan dan masyarakat.

“Untuk program Bang Wawan kami melibatkan 20 lembaga. 10 dari pendidikan dan 10 dari masyarakat. Dari seluruh lembaga itu empat lembaga kami nyatakan responsif, dua dari lembaga pendidikan dan dua dari lembaga masyarakat,” bebernya.

Serta, lanjut dia, desiminasi Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) melalui talk show dan penyebaran informasi ke media massa. Juga membentuk Pegiat Anti Narkoba sebayak 80 orang yang terbagi dari 20 orang pegawai pemerintah, 20 orang pegawai swasta, 20 orang dari pendidikan, dan 20 orang masyarakat di Kota Batu.

“Kami juga memfasilitasi tes urine secara mandiri kepada 3.389 orang dari instansi pendidikan, swasta dan pendidikan,” imbuh mantan Wakapolres Batu ini.

BNNK Batu, diungkapnya juga melakukan pelayanan rehabilitasi berupa layanan rahabilitasi rawat jalan kepada 35 orang. Dan layanan asesmen terpadu kepada 10 orang tersangka kasus narkoba.

“Terakhir kami juga memberikan layanan Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan (SKHP) di klinik pratama BNN. Selama tahun 2019 telah diberikan layanan kepada 1.063 orang. Angka ini menurun setiap tahunnya di tahun 2018 mencapai 1.456 orang,” pungkasnya.

Reporter : Adi Wiyono
Editor : Amin
Publisher : Oca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *