Miris..!!!, Tiga Keluarga Dhuafa di Aceh Timur Tinggal Digubuk Reot Kondisi Memprihatinkan

oleh -797 views
Foto Rumah Ina Marlina dan Ti Yusna yang tidak layak huni.

ACEH TIMUR, Senin (13/04/2020) suaraindonesia-news.com – Slogan “Bereh” yang menjadi icon Pemerintahan Aceh Timur dan Aceh Hebat sepertinya tidak berlaku bagi Kak Ina Marlina (33) dan Kak Ti Yusna (57) dua janda dhuafa warga Desa/Gampong Paya Dua, Kecamatan Peudawa, Kabupaten Aceh Timur bertahun -tahun tinggal dalam gubuk reot bersama anak-anak nya.

Berdasarkan pantauan awak media dan LSM Acheh Future, Senin (13/04), ketiga kondisi rumah dengan ukuran 4 x 5 meter sangat miris dan memprihatinkan, dengan beratap daun rumbia,bertiang bambu dan berdinding tenda serta daun kelapa yang di anyam.

“Sejak suami saya meninggal terpaksa saya menjadi tulang punggung keluarga untuk mencari makan untuk lima anak-anak saya,” ujar Ina Marlina.

Ia menceritakan kepada suaraindonesia-news.com, bahwa sehari hari pekerjaan nya hanya mencari tiram di sungai kemudian menjual nya untuk kebutuhan hidup.

“Beginilah keadaan kami tinggal berteduh di gubuk peninggalan alm suami saya,” ucap Ina dengan suara terbata bata menahan air mata.

Bahkan kata dia, pernah beberapa kali harus menahan lapar, karena tidak bisa bekerja karena air sungai besar dan kondisi sakit.

Nasib yang sama juga di alami Ti Yusna (67), janda miskin ini juga sehari hari mencari tiram untuk menafkahi kehidupan keluarga nya yang tinggal di gubuk yang tidak layak huni.

“Saya sangat berharap bisa mendapatkan rumah bantuan, tapi saya tidak tau harus mengadu kemana,” kata Ti Yusna.

Begitu juga halnya dengan nasib Anita (40), ibu lima anak yang tinggal tak jauh dari rumah Ti Yusna konsdisi rumah nya lebih miris lagi, bagian depan gubuk nya tak berdinding, hanya menutup dengan tenda.

Suami nya bekerja sebagai buruh kasar perusahaan kepala sawit di pedalaman Pereulak. Sedangkan suami pertamanya meninggal dunia 10 tahun yang lalu saat terjadi gempa bumi di Takebgon.

Kepala Desa/Keuchik Gampong Paya Dua Ibrahim, saat dimintai tanggapan mengatakan bahwa selama ini kedua janda tersebut sangat berharap ada rumah yang layak untuk nya. Namun pihaknya tidak bisa membangun rumah karena menurutnya bertentangan dengan Perbub.

“Yang bisa kami lakukan dengan dana Desa hanya biaya rehab, tapi rumah kedua janda miskin tersebut tidak bisa untuk di rehab harus di bangun yang baru, dan kami telah berupaya membantu Ina Marlina dan Ti Yusna dengan program pemberdayaan ekonomi,” jelas Ibrahim.

Sementara LSM Acheh Future Razali Yusuf mengatakan, sangat prihatin dengan kondisi ketiga keluarga ini, yang rumah nya benar benar tak layak di huni.

Padahal kata dia, setiap tahun ribuan rumah bantuan untuk masyarakat dibangun oleh pemerintah, tapi kenyataan nya berbanding terbalik dengan fakta di lapangan.

“Kita mensinyalir banyak bantuan rumah bantuan pemerintah mengalir penerimanya tidak tepat sasaran dan tumpang tindih,” ujar Razali.

Reporter : Masri
Editor : Amin
Publisher : Ela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *