BOGOR, Senin (5/2/2018) suaraindonesia-news.com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan 18 bulan pasca kemerdekaan tepatnya pada tanggal 5 Februari 1947 M (14 rabiul awal 1366 H) kini sudah memasuki usia ke – 71 tahun.
Usia yang tak lagi muda jika diibaratkan manusia fisik semakin lemas, daya tahan tubuh berkurang, dan produktifitas yang terbatas.
Namun lain hal dengan HMI, semakin tua harus dijadikan refleksi bagi Para kader untuk menjadi lebih produktif terhadap keberlangsungan eksistensi organisasi.
Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan bahkan Tahun demi tahun telah dilalui, fase demi fase telah dilewati oleh himpunan ini. Pertanyaan mendasar bagi kita semua, apakah masih ada kesadaran untuk mengabdi..? atau mungkin himpunan ini hanya sebagai ladang untuk mencapai kepentingan demi kepentingan, mementingkan golongan (gerbong) sehingga yang muncul hanyalah keberpihakan demi keberpihakan, Ntah apakah itu berpihak ke yang benar atau ke yang salah sudah tak jadi ukuran lagi, demikian dikatakan salah satu kader HMI Cabang Kota Bogor Ferga Aziz, Senin (5/2).
Ditambahkan Ferga Aziz, jika kita merujuk pada tujuan awal HMI didirikan pada hasil rapat 5 Februari 1947 M oleh para pendiri :
1. Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia
2. Menegakkan dan mengembangkan Syariat Islam.
Dengan tujuan tersebut sangat jelas membuktikan bahwa HMI sebagai anak kandung revolusi sekaligus anak kandung umat islam indonesia yang resah atas gelagat sejarah.

“HMI Menginginkan Rakyat indonesia merdeka dan siap menjadi garda terdepan bersama rakyat, karena kepeduliannya terhadap bangsa dan rakyat indonesia. Apakah kita masih memperhatikan bagaiamana keadaan bangsa ini,” terangnya.
Baca Juga: Rumah Baca Gagasan Kapolresta Bogor Kota Disambut Baik Warga
Dikatakan Ferga, kehidupan berbangsa masih sangat jauh dari cita-cita, kemunduran demi kemunduran himpunan ini terlihat jelas didepan mata kita semua, mudahnya diadu domba oleh pihak luar, seringnya konflik internal, miskinnya budaya intelektual, bahkan rakyatpun sudah tidak menyadari lagi keberadaan HMI saat ini.
“Kematian organisasi menjadi tanda gagalnya kader mempertahankan budaya produktifitasnya pada organisasi,” imbuhnya.
Melihat kondisi kekinian yang terjadi di HMI kata Ferga, maka sudah waktunya, HMI mereposisi diri, sehingga rakyat bisa merasakan keberadan HMI.
“HMI harus menentukan sikap keberadaannya saat ini, apakah masuk golongan pejabat, apakah masuk golongan mahasiswa elit/ apatis yang hanya berkumpul di mall-mall atau apakah HMI masih bersama rakyat untuk selalu memberikan kenyamanan dan membela kesejahteraan yang diidam-idamkan rakyat,” katanya.
Ia berharap di usia yang ke 71 ini, HMI masih tetap terus menggelorakan semangat keislaman dan keindonesiaan serta menjaga persatuan bangsa, sebagaimana pesan yang pernah di sampaikan oleh pendiri HMI, Lapran Pane.
“Dimanapun kau berada tidak ada masalah, yang penting adalah semangat keislaman dan keindonesiaan,” pungkasnya.
Reporter : Iran G Hasibuan
Editor : Amin
Publisher : Tolak Imam












