Mengenal Rahmad Aulia, Bocah Belia Pahlawan Keluarga Asal Kabupaten Pidie Jaya

oleh -115 views
Foto : Rahmad Aulia dalam perjalan merujuk ayahnya ke RSUCM setiap sepuluh hari sekali, momen tersebut satu dari sepanjang aksi Rusli Yusuf dilarikan ke rumah sakit guna menyedot cairan perutnya atas kasus pembengkakan limpa. (Foto : Komparatif)

ACEH, Selasa (31/1/2023) suaraindonesia-news.com – Rahmad Aulia, satu dari jutaan anak Indonesia yang pemberani dan mandiri. Jarak 230 kilometer adalah perjalanan yang melelahkan bagi orang dewasa, bagaimana dengan bocah belia yang masih berusia 11 tahun ini?

Tidak dapat mengukur dalamnya kasih sayang hamba, kehendak sang pencipta cinta itu bisa mengubah apa saja, bisa terjadi kepada siapapun, cinta itu tidak memiliki ruang dan waktu. Namun, seperti apa yang dimiliki oleh Rahmad Aulia (11) bocah asal Gampong Geulanggang, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya.

Tak dapat dibayangkan, tak dapat pula diukur apa yang sebenarnya dimiliki oleh bocah kelas enam sekolah dasar, Pidie Jaya ini. Ia setia menempuh perjalanan jauh sepanjang 230 kilometer setiap sepuluh hari sekali demi kesehatan ayah tercinta.

Sebuah becak motor termakan usia menjadi saksi cinta Rahmad Aulia kepada keluarga, khususnya sang Ayah yang telah enam tahun terakhir mengidap penyakit kronis, ia mengalami pembengkakan Limpa dengan kondisi yang kritis.

Terik mata hari pada Kamis siang (26/01/2023) tepatnya pada pukul 14.00 WIB sepasang lelaki dengan becak motornya dicegat warga pelintas jalan raya. Mungkin saja Rahmad saat itu sedang memacu waktu. Tapi terpaksa menepi sambil mengusap peluhnya, ia beristirahat sejenak melepaskan rasa penat karena telah mengendarai becak motor butut selama kurang lebih lima jam perjalanan.

Aulia sapaan manjanya ternyata telah terbiasa menempuh perjalanan dengan jarak 115 kilometer dari Ulim ke Kota Lhokseumawe pulang-pergi. Ia harus melintasi jalan Nasional, Medan – Banda Aceh itu setiap 10 hari sekali. Lamanya perjalanan itu sampai enam jam baru sampai tujuan.

Perjuangan Aulia terkuak, ketika bocah temben yang berpostur sedikit gemuk berkulit sedikit gelap itu bertemu dengan seorang pria di tengah jalan. Yanto (28) alias Ridha warga Blang Mee, Kecamatan Kuta Blang, Bireuen berempati dan ingin tau ada apa dengan Aulia dan bawaannya. Karena diusianya itu membawa sebuah becak motor dengan seorang lelaki tua terbaring lemas diatas alas Kasur di atas becaknya adalah hal yang tak biasa.

Dengan wajah miris, dipenuhi iba Yanto membuntuti becak motor pengangkut orang sakit tersebut. Ada rasa simpati yang mendalam dihati Ridha, keingin-tahuannya, membuat ia nekat mendekati dan menepikan Rahmad bersama ayah yang sedang sekarat tak berdaya diatas dipan becak motornya, sejenak itu pula Rahmad berhenti di depan Kantor Urusan Agama (KUA) kawasan Cot Buket, Peusangan, Bireuen.

Perjuangan Ibu Hingga Nafas Terakhir

Bukan tak punya alasan, Aulia harus berbeda dengan bocah sebayanya, ia tidak dapat menikmati gedjetnya seperti kebanyakan anak-anak lainnya. Ketika anak seusia itu harus patuh pada kelalaian bermain, namun beda dengan Aulia, ia memiliki beban hidup tak terbayangkan yang ia pundaki.

Rahmad Aulia adalah putra semata wayang dari pasangan Rusli Yusuf (46), merupakan pria kelahiran Punteut, Lhokseumawe. Dia menikahi belahan jiwanya yang bernama Maryati, warga Gampong Geulanggang, Kecamatan Ulim, Pidie Jaya. Mereka mengalami gejolak ekonomi yang tiada tara senasib dengan kaum dhuafa lainnya, namun Rusli adalah pria terhormat dan penuh tanggung jawab terhadap keluarga.

Kemalangan Aulia bermula, seiring pencahariannya Rusli Yusuf mengalami masalah dengan kesehatannya, tiba-tiba saja Rusli Yusuf jatuh sakit. kian hari bertambah parah. Perutnya mulai buncit. Ia pun melempar handuk dan memutuskan pulang kepangkuan istri dan anak-anaknya.

Awalnya, kondisi rumah tangga mereka sedang dihimpit kesulitan ekonomi. Maryati membutuhkan belanja keluarga. Dalam masa-masa kritis itu, Ruslipun berinisiatif meninggalkan rumah kediaman dan keluarga kecil merantau ke ibu kota Banda Aceh beberapa waktu silam. Tiba disana di Pasar Peunayoeng ia mengais rezeki dengan sisa-sisa tenaganya yang dipupuk harapan dengan berjualan ikan, pendapatannya pun perlahan-lahan, sedikit demi sedikit dikumpulkan dan dikirimkan kepada istrinya di kampung.

Pulangnya Rusli menyayat hati sang istri, Maryati mendapati kepulangan sang suami dengan perasaan duka, ia pula mencemaskan kesehatan suaminya itu.

Pun demikian, segala daya upayapun tak terputus ditempuhkan Maryati, Rusli dibawa berobat ke sana kemari, hingga akhirnya solusinya ditemukan dengan menjalani perawatan di RS Umum Cut Mutia, Kota Lhokseumawe. Hasil pemeriksanaannya, Ruslipun divonis mengalami pembengkakan limpa, yang menyebabkan cairan tidak dapat keluar dari tubuhnya.

Gedung megah nan mewah serta elite tenyata pusat pelayanan kesehatan daerah tidak semuanya bisa diandalkan. Sakit yang dialami Rusli hanya bisa ditangani di RSU Cut Mutia dan RSUD dr. Zainoel Abidin.

Akibat sakitnya, setiap 10 hari sekali secara rutin cairan yang memenuhi kantung perutnya harus disedot keluar. Maryatipun memilih RSUCM yang dianggap lebih efesien untuk mendapatkan pelayanan berobat Rusli Yusuf. Ia tak memilih RSUZA, selain jarak tempuh yang lebih jauh juga lebih rawan melewati lembah pengunungan selawah yang terjal.

Demikianlah wanita perkasa itu, Maryati, setiap 10 hari sekali harus menempuh perjalanan ratusan kilometer, dengan mengendarai becak motor butut, demi membawa suaminya ke rumah sakit. Tetangga mereka turut membantu. Ada yang memberikan beras, lauk pauk, dan uang. Maryati sangat berterima kasih atas bantuan dari jiran-jirannya.

Bertahun-tahun telah berlalu, Maryati akhirnya tumbang, keperkasaannya ditaklukkan oleh kelelahan, mungkin saja ia sudah tidak lagi memiliki rasa sakit, tapi rasa takut menggrogoti akal sehat dan perasaannya, Ruslipun tak kunjung pulih, bahkan sakitnya semakin kritis.

Maryati jatuh sakit, ia pun pergi pamit menghadap ilahi membawa rasa setianya, meninggalkan mereka yang masih membutuhkannya, namun tuhan berkehendak lain, ia harus menghadap ilahi, tugasnya hanya sampai disitu genap di usia 38 tahun meninggalkan dua buah hati dan suaminya yang sedang terkapar sakit keras.

Duka mandalam, istilah kata belum pula fajar menyingsing, senja pun tiba. Ia belum sempat bercengkrama dan bersenda ria dengan keluarga utuhnya, disaat ia harus melawan rasa sakitnya, Rusli justru dihadapkan dengan ujian lainnya. Rusli harus merelakan wanita setianya pergi untuk selama-lamanya.

Didalam keputus-asaan, bocah belia bersama kakak perempuannya yang berusia 12 tahun itu tetap harus melanjutkan perjuangan almarhumah, yakni berdoa, berusaha dan berharap ayah bisa pulih sediakala, sehingga mereka bisa dimanjakan kembali. Bersama kakaknya, Aulia membagi tugas.

“Di rumah kakak akan merawat ayah, sedangkan urusan mengantar dan membawa pulang ayah menjadi tanggung jawabku,” ujarnya.

Tak Ingin Kehilangan yang Kedua, Giliran Aulia Yang Berjuang

Beberapa pria tegar telah mendapatkan apa yang menjadi tanda tanyanya seputar bocah pengendara becak motor butut dengan pasien sakit didalamnya. Sesekali Aulia kecil menunduk malu saat diphoto, namun ia lebih berani bercerita. Aulia terlihat lebih semangat, apalagi ketika kondisi yang miris itu terjadi ia masih bisa menghibur ayah dengan kelakarnya.

Para pria ini melihat sebuah becak motor butut dan rentan rusak ditengah jalan, dipan becak dipenuhi kasur berbaluti kain dan terdapat seorang pria paruh baya mengenakan kain sarung warna kuning kunyit kombinasi dan mengenakan jaket kain yang tebal serta sehelai kain penutup kepala, Rusli Yusuf yang sedang terbaring miring, sesekali meringkih mengeluhkan rasa sakit.

Tidak terlihat ia (Aulia) mengeluh, sesekali nampak wajah kusut lelahnya, wajar saja, ia baru saja mengarungi jarak tempuh hingga lima jam perjalanan. Bilapun sang ayah meringis kesakitan, ia akan menghiburnya. Upaya Rahmad menghibur sang ayah, meski tidak dapat mengurangi rasa sakit di tubuhnya, tetapi menjadi obat hati untuk Rusli. Ia melihat Rahmad memiliki ketulusan yang sama seperti istrinya yang telah almarhumah.

Setelah kepergian ibunda tercinta Rahmad Aulia menjadi pahlawan bagi Rusli dan keluarga kecilnya yang tersisa. Meski masih duduk di bangku kelas VI SD Aulia telah belajar banyak tentang dunia dan lingkungannya. Pun Rusli, ia mungkin adalah seorang ayah yang hebat dan Aulia dilahirkan dari kandungan ibu yang taat.

Pengabdian Aulia terhadap upaya mencapai kesehatan sang Ayah merupakan estafet sepeninggal mendiang ibunya, Maryati. Ia pun faham, melanjutkan perjuangan sang ibu merupakan tanggung jawabnya. Ia pun dengan tulus melaksanakannya.

Ia mengaku tak ingin berhenti merawat Rusli Yusuf. Ia juga berharap suatu hari nanti ayah sembuh dari sakitnya yang telah menahun. Ia selalu siap menempuh 12 jam perjalan setiap 10 hari sekali, asalkan ayahnya bisa kembali memeluknya kelak

“Saya berharap ayah sembuh. Itu doa yang selalu saya ucapkan,” sebutnya.

Tugas Aulia tidak terpaku pada perawatan ayahnya saja, Rusli. Ia pun harus bekerja ekstra. Usianya yang masih bocah namun ia harus mencari nafkah. Ia terpaksa bekerja upahan dengan membantu para nelayan menjaring ikan atau dengan kata lainnya menarik pukat. Dengan hasil kerjanya, ia sisihkan untuk keperluan perobatan ayahnya dan juga untuk biaya sekolah bersama kakaknya serta belanja makan di rumah.

Bila hasil panen pukat banyak, Rahmad Aulia mendapatkan upah Rp150.000. Bila tidak panen, maka ia harus pulang dengan tangan kosong. Malam harinya ia mengaji pada teungku di kampungnya.

Mulianya Akhlak Aulia Undang Simpati Ridha

Allah senantiasa memberi ujian kepada hamba sebatas kemampuan yang ia sanggupi. Dibalik musibah tersirat rahmat, demikian dibalik kenikmatan senantiasa hamba berqanaah. Dibalik kejadian itu, terdapat orang tulus terhadapnya. Yanto atau Ridha sempat berkomunikasi dengan rekan sejawatnya seraya mengabarkan situasi yang memilukan yang didapatinya disiang hari itu dipelintasan jalan negara.

Rahmad Grugok yang dihubungi Ridha pun hadir dengan satu unit Ambulance kemanusiaan milik PT. Takabeya, Bireuen. Demikianlah perjalanan hidup Rahmad Aulia. Dia tidak menyangka akan bertemu sang pria muda yang bermukim di Blang Mee itu. Selain mengundang ambulance kemanusiaan tiba tepat waktu, Ridha juga tak sungkang memberikan bantuan uang sebesar Rp.1 juta kepada sang bocah. Seorang anggota polisi laiinya juga memberikan sumbangan kepada sang anak.

Antara percaya dan tidak percaya, Aulia seperti mimpi. Maklum saja, sejauh usahanya menekuni perawatan sang ayah, mendadak bocah shaleh tersebut mendapatkan uluran tangan manusia berhati mulia. Anak 11 tahun itu terharu, dia tidak menyangka bila pada Kamis siang itu akan ada yang memberikan perhatian kepadanya.

Matanya sembab. Ia tidak dapat menahan haru. Ia tambah terkejut, ketika becaknya itu diangkut dengan satu unit pick up dan dibawa serta ke RSU Cut Mutia hari itu juga.

Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit Cut Mutia, dia berkali-kali menyapu matanya yang basah. Ia bercerita banyak kepada Rahmat Geurugok, sang sopir ambulance Takabeya. Rahmad sempat menuturkan, menurut kabar yang didengarnya, bila ingin mengoperasikan ayahnya, harus dirujuk ke Penang, Malaysia.

Mungkin menusuk jantungnya, rasa takut dan getir Aulia mendengar nama Penang, ia pikir mustahil ayahnya dapat sampai ke Malaysia, toh berobat di dalam negeri sendiri saja ia harus mengorban masa bermainnya. Ia harus banting tulang guna mengumpul biaya perjalanan membawa ayah ke rumah sakit selama ini. Tidak lagi memenuhi kebutuhan sekolah dan belanja rumah.

“Kami tidak punya uang, Bang,” ungkapnya lirih seaka-akan menggugurkan langit yang tegak.

Tiba di RSU Cut Mutia, petugas segera menyambutnya dan membawanya ke ruang perawatan. Rahmad Aulia mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah membantu dirinya dan Rusli.

Rahmat Geurugok yang sejak dalam perjalanan ke rumah sakit mencoba tegar, ketika pulang ia kalah melawan gejolak hati. Ia berharap ada solusi terbaik untuk sang bocah dan keluarganya.

Kondisi yang dialami oleh Rahmad Aulia bukan tentang siapa yang salah dan siapa yang luput perhatian para pihak, namun siapapun mereka harus terbuka hatinya untuk menyelamatkan keluarga Rusli Yusuf. Terlebihnya terhadap dua bocah yang masih duduk di bangku sekolah. Jauh sudah waktu mereka bagikan antara banting tulang dan meraih pendidikan. Nasib Aulia berada ditangan kita semua, tertutama para pemimpin negeri.

Cita-cita mulia juga sempat diungkap Rahmad Aulia, jika kelak ia ingin menjadi seorang anggota Polisi Republik Indonesia.

Disclaimer: Sebagian dari berita ini diolah dari beberapa sumber.

Reporter : Efendi Noerdin
Editor: Wakid Maulana
Publisher: Nurul Anam

Tinggalkan Balasan