Menagih Janji Presiden

oleh
Dhafir Munawar Sadat, Pegiat Anti Korupsi

Oleh : Dhafir Munawar Sadat (Pegiat Anti Koropsi)

Tahun 2019 sudah berlalu dan sudah memasuki tahun 2020, beberapa peristiwa atau kejadian yang telah berlalu jadi memori masa lalu, tak ketingalan Indonesia juga, sebagai negara besar dengan penduduk muslim terbesar di dunia, juga melalui dinamika yang beragam, yang cukup menguras keringat, pikiran, tenaga dan financial yang tidak sedikit.

Suasana tahun 2020 masih hangat, masih bulan januari, sudah banyak peristiwa baik kejadian yang dari alam ataupun yang dibuat manusia itu sendiri. Kejadian tahun kemaren di tahun 2019 dijadikan catatan sejarah atau masa lalu untuk dijadikan kaca perbandingan atau tolak ukur masa depan. Peristiwa terbesar di tahun 2019 adalah pemilihan umum (PEMILU) untuk menentukan Pemimpin negara Indonesia.

Pemilu atau pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2019 dihelat pada tanggal 17 April tahun 2019, dan merupakan rentetan proses demokrasi untuk lima tahun kedepan. Pemilu kali ini di ikuti dua pasangan calon capres dan cawapres. Dan pemilu kali ini dimenangkan oleh calon Presiden no urut 1 Bapak Joko Widodo dan Bapak Ma’ruf Amin dengan perolehan suara 55,50 %, sedangkan pasangan no urut 2 Bapak Prabowo Subianto dan Bapak Sandiaga Sholahuddin Uno mendapat perolehan suara 44,50%. Hasil perhitungan ini berdasarkan rekapitulasi nasional penghitungan suara Pemilu 2019 di Jakarta dan secara resmi diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum RI pada Selasa, 21 Mei 2019 dini hari.

Hasil pengumuman Pilpres ini tidak diterima oleh Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi karena dianggap penuh ketidak adilan, kecurangan dan kesewenang-wenanga istilah mereka ada kejahatan terstruktur, sistematis dan massive (TSM). Untuk itu, BPN Prabowo-Sandi mengajukan gugatan sengketa hasil Pilpres 2019 kepada Mahkamah Konstitusi (MK), gugatan pasangan no urut 2 ditolak semua sama MK, dengan demkian no urut 1 pasangan Jokowi dan Ma’ruf Amin berhak dilantik dan resmi menjadi presiden Indonesia 5 tahun kedepan.

Perlu digaris bawahi, janji para calon memang luar biasa manisnya, dalam rangka terpilih,segala macam cara dilakukan samapai- sampain kawan jadi lawan, lawan jadi kawan, luar biasa hebatnya pengaruh dari dukung mendukung paslon tertentu pada pemilu nkali ini, ada yang sampai detik ini belum bisa move on, terus melancarkan serangan-serangan atau kritikan-kritikan pedas dan pahit antar pendukung namun itu semua merupakan warna-warni demokrasi di nusantara tercinta ini. Salah satu bentuk demokrasi yang besar dan terus berkembang hanya terjadi negara yang unik yang bernama Indonesia.

Rakyat tinggal menagih janji pemimpinnya, mengawal roda perintahannya, bagaimanapun pemimpin perlu koreksi, kroscek terus menerus, jangan sampai ada kesenjangan, dan ketimpangan sehingga menyakiti perasaan rakyatnya yang timbul malah kemarahan ke egoisan dan kecemburuan, ketidak puasaan akibat ke tidak adilan seorang pemimpin atau penguasa.

Sungguh ironis jikalau pemimpin hanya mementingkan golongannya, mementingkan pendukungnya sehingga masyarakat kecil jadi korban, contoh besarnya, KPK yang dulu nya KPK jadi macan negara harapan rakyat sebagai pencegah tangan-tangan serakah yang tamak akan harta dan kekusaan, tahun ini di awal tahun 2020 jadi macan ompong, dalam judul majalah tempo yang terbit tanggal 06 Januari 2020 ”Baru kali ini OTT memerlukan waktu beriminggu-minggu”, bahkan berbulan-bulan bisa jadi bertahun-tahun atau malah hilang ditelan isu murahan.

Suara mahasiswa tidak di indahkan sama sekali, ketika mereka demo menolah pelemahan KPK dalam hal ini rencana Presiden membentuk Dewan Pengawas KPK, beberapa kali demo, nihil sekarng terbukti.
Itu contoh besar yang pertama (pelemahan KPK), contoh selanjutnya, kenaikan iuran BPJS ini betul-betul merusak UUD 45, sudah jelas dalam UUD 45 bahwa kesehatan rakyat ditanggung oleh pemnerintah, lagi-lagi pemerintah melukai dan mencederai amanah UUD. Awal tahun seharusnya menjadi kado istimewa dari Presiden untuk rakyatnya bukan sebaliknya memberikan luka yang mendalam. Bahkan tidak jauh kemungkinan BBM akan naik, semoga tidak terjadi.

Akhirnya dalam akhir tulisan ini, perlu digaris bawah bahwa pemerintah setengah-setengah dalam menjalankan amanah undang-undang, dan menjadi catatan buruk dalam sejarah ke pemimpinnnya. Sejarah akan mencatat alam tinta emas dan rakyat akan mengenang selamnya. Semoga rakyat Indonesia tidak terkecoh lagi dengan janji-janji para pemimpin selanjutnya, yang hanya sebagai pemoles retorika bibir semata.

Indonesia, 14 Januari 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *