Masyarakat Bogor Tolak Keberadaan Glow KRB

oleh -812 views
Budayawan Bogor Raya, saat di pintu KRB.

KOTA BOGOR, Sabtu (02/10/2021) suaraindonesia-news.com – Tolak keberadaan Glow KRB di Kebon Raya Bogor (KRB), ratusan orang terdiri dari Budayawan Bogor Raya, LSM, ormas dan masyarakat umum geruduk KRB dan meminta pengelola menghentikan Glow KRB dan memintak maaf kepada masyarakat, Jumat (01/10/2021) siang hingga selesai.

Direktur Jaringan Advokasi Masyarakat Pakuan Padjajaran Saleh Nurangga menyampaikan, pihaknya merasa kecewa dan keberatan atas pengelolaan KRB yang tadinya oleh LIPI (sekarang BRIN) menyerahkan pengelolaan KRB kepada pihak swasta.

Menurut Saleh, setelah dikelola pihak swasta, ternyata semakin jauh dari marwah pengelolaannya, seperti diadakan acara-acara di malam hari, merubah tatanan yang ada seperti jalan-jalan yang sengaja dibuat dari bebatuan agar tetap menjadi resapan air hujan, kini di tutup dengan semen.

“Parahnya lagi Glow KRB ini menggunakan sound sistem yang menyebabkan memecah keheningan di waktu malam serta penggunaan lampu-lampu berlebihan yang bahkan diarahkan ke beberapa tempat yang medianya adalah tanaman juga pohon-pohon yang ada di KRB,” ungkapnya.

Untuk itu tambah Saleh, budayawan dan masyarakat Bogor merasa wajib menegur dan mengingatkan kepada pihak-pihak terkait terhadap kondisi KRB saat ini, ada beberapa hal yang disampaikan antara lain, Keluarkan Pihak Swasta dan Investor dari KRB untuk dikembalikan kepada insttitusi semula, kembalikan fungsi KRB kepada marwah semula, yaitu sebagai area penelitian, area edukasi, dan area rekreasi alam bagi seluruh lapisan masyarakat yang terjangkau oleh semua kalangan.

Selain itu kata Saleh, pihaknya juga menolak keras segala bentuk komersialisasi yang berkaitan dengan ekploitasi KRB, karena akan berdampak pada rusaknya tatanan originalitas yang sudah terbentuk selama berabad-abad, mengedepankan KRB sebagai Hutan Kota, resapan air, jantung oksigen kota, jaga kelestarian ekosistem 15 ribu jenis tumbuhan dan pohon, menolak ada Hotel ataupun Homestay di dalam KRB.

“Karena kawasan sakral ada maqom leluhur atau orang tua Bogor Bah Japra dan masuk ziarah gratis,” tuturnya.

Pihaknya juga memintak agar Kota Bogor jangan dijadikan Kota metropolis, segala bentuk penamaan harus menggunakan Bahasa SUNDA, ambil alih Manajemen Teknis dari pihak swasta menjadi Aset Pemkot Bogor.

“Kami mendesak Wali Kota dan DPRD Kota Bogor untuk menerbitkan PERDA agar merawat, menata dan mensakralkan patilasan leluhur (Raja, kolot sunda) di kota Bogor agar tidak di ambil alih oleh pihak manapun, kembalikan fungsi KRB sebagai lahan Hijau dan Situs Sejarah Bogor, KRB adalah milik Warga Bogor, jadi berikan fasilitas kepada Warga Bogor,” tuturnya.

Seperti tertulis dalam sejarah, Saleh menceritakan, KRB pada mulanya merupakan bagian dari “Samida” hutan buatan atau taman buatan yang setidaknya pada saat pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), 1474 – 1513) dari kerajaan Sunda, sebagaimana tertulis dalam prasasti Batutulis yang berlokasi di Kota Bogor juga.

Hutan buatan ditujukan untuk keperluan menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat memelihara benih-benih kayu yang langka. Hutan ini kemudian dibiarkan setelah kerajaan Sunda takluk dari kesultanan Banten, hingga Gubernur Jendral Van der Capellen membangun rumah peristirahatan disalah satu sudutnya pada pertengahan abad ke 18.

Pada awal 1800 Gubernur Jendral Thomas Stamford Rafles yang mendiami istana Bogor dan memiliki dan memiliki minat besar dalam botani, tertarik mengembangkan halaman istana Bogor menjadi sebuah kebun yang cantik. Dengan bantuan para ahli botani, W.Kent yang membangun Kew Garden di London. Raffles menyulap halaman istana menjadi taman bergaya Inggris klasik, inilah awal mula Kebun Raya Bogor yang ada sekarang.

Ide pendirian Kebun Raya bermula dari seorang ahli biologi yaitu Abner yang memeohon kepada Gubernur jenderal G.A.G Philip Van der Capellen, meminta sebidang tanah untuk dijadikan kebun tumbuhan yang berguna, tempat pendidikan guru dan koleksi tumbuhan bagi pengembangan kebun – kebun yang lain.

Abner dibantu Prof. Casper George karl Reinwardt, seorang ilmuwan botani dan kimia yang juga menteri bidang pertanian, seni dan ilmu pengetahuan di Jawa dan sekitarnya, tertarik menyelidiki berbagai tanaman yang digunakan untuk mengobati dan mengumpulkan semua tanaman tersebut disebuah kebun botani di Kota Bogor, yang saat itu disebut Buitenzorg (yang artinya “tidak perlu hawatir”). Reinwardt juga menjadi perintis dibidang pembuatan herbarium, ia kemudian dikenal sebagai seorang pendiri Herbarium Bogorienses.

Baru pada 18 Mein 1817, Kebun raya Bogor diresmikan oleh Gubernur jenderal G.A.G Philip Van der Capellen yang untuk pertama kalinya diberi nama Lands Plantentuin te buitenzorg. Dengan perjalanan waktu akhirnya semua itu dikelola oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

Sayang akhirnya Kebun Raya – Kebun raya ini (Kebun raya Bogor, Cibodas, Purwodadi dan Bali) diam-diam menyerahkan pengelolaannya kepada pihak swasta, sejak awal tahun 2020 yang pada saat itu dikepalai oleh Laksana Tri Handoko. Saat ini PT.Mitra Natuna raya mitra yang mengelola Kebun Raya – Kebun raya tersebut, mungkin pada saat awal apa yang mereka lakukan baik untuk menata dan merapihkan KRB ini agar terlihat indah apabila dipandang pengunjung.

“Tapi kesininya banyak hal-hal yang akhirnya menyalahi aturan dan keluar dari marwah Kebun Raya Bogor itu sendiri sebagai kebun untuk Konsevasi, Pendidikan dan Budaya. Dimana di dalam KRB itupun terdapat makam dan makom leluhur, juga karuhun kita yang semenjak dulu mempengaruhi tatanan hidup dan kehidupan Bogor. Apalagi saat ini KRB sedang dalam proses untuk ditetapkan menjadi Situs Warisan Dunia (World Heritage Site / WHS),” pungkas Saleh.

Sebelumnya Ketua DPRD Kota Bogor Atang Trisnanto bersama Komisi III yang membidangi lingkungan hidup mendatangi KRB dan bertemu denga pengelola.

Pada saat itu Atang menyampaikan, beberapa poin keberatan warga terletak pada rencana wisata malam GLOW KRB, komersialisasi yang ditandai mahalnya tiket masuk, pembangunan betonisasi, dan ancaman terhadap ekosistem yang sudah berjalan baik di kawasan Kebun Raya Bogor.

Reporter : Iran G Hasibuan
Editor : Moh Hasanuddin
Publisher : Syaiful

Tinggalkan Balasan