Makna Lebaran Ketupat Di Madura - Suara Indonesia
RegionalSosial Budaya

Makna Lebaran Ketupat Di Madura

Avatar of admin
×

Makna Lebaran Ketupat Di Madura

Sebarkan artikel ini
IMG 20210520 115953
Ngaji dan zikir bersama saat perayaan lebaran ketupat di Masjid Almubarokah Karang Nangka, Kec. Rubaru Kabupaten Sumenep, Madura, Provinsi Jawa Timur.

SUMENEP, Kamis (20/5/2021) suaraindonesia-news.com – Bagi warga Madura, Sumenep khususnya, Tellasan Topa’ merupakan bagian dari budaya yang berkategori sakral.

Disebut sakral, karena sebelumnya, sebagian umat Islam ada yang menjalani puasa sunnah 6 hari sejak di hari kedua bulan Syawal. Secara tradisi, Tellasan Topa’ digelar pada tanggal 8 Syawal, atau enam hari pasca lebaran Idulfitri.

Dalam kajian historis, tradisi ini berlangsung turun-temurun sejak masa pembumian awal Islam di Nusantara, khususnya di tanah Jawa. Islam yang diperjuangkan dan dibawa oleh tokoh-tokoh Wali Sanga Jawadwipa. Topa’ atau ketupat, merupakan makanan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman janur kuning. Biasanya, topa’ disajikan dalam bentuk menu berjenis soto, opor, campor, kaldu, dan lainnya.

Di antara sekian banyak makna Tellasan Topa’ atau lebaran ketupat, salah satu pelajaran yang penting untuk diambil dalam kehidupan sehari-hari ialah sikap guyub, gotong royong, saling membantu, dan saling memberi. Sikap tersebut seringkali kita temui, khususnya di masa lampau, tentang kisah dan pengalaman-pengalaman dalam proses menyambut telasan topa’.

Dahulu, warga menyiapkan topa’ dengan swadaya. Mulai dari mencari janurnya, lalu menganyam, dan selanjutkan mengisi wadah atau orong dalam bahasa Maduranya, dengan beras. Sebelum selanjutnya mengukus menggunakan tungku berapi. Semuanya, dilakukan bersama-sama. Melibatkan banyak anggota keluarga, sanak kerabat dan tetangga. Saling membantu satu sama lain. Dalam suasana suka cita dan gembira ria.

Kegiatan bertukar menu masakan ketupat, saling silaturrahim terasa begitu mengasyikkan. Mungkin bagi generasi yang mengalami masa kecil di tahun 90-an masih bisa mengingatnya.

Jamaudin salah satu ulama di Kecamatan Rubaru, Desa Karang Nangka menjelaskan bahwa filosofi telasan topak di Madura sebagai bentuk ketaatan kepada Allah karena menjalankan ibadah Sunnah puasa Syawal.

“Telasan topak ini salah satu bentuk rasa syukur karena sudah menjalankan ibadah Sunnah puasa Syawal,” ungkapnya.

Lebih lanjut Jamaudin mengatakan bahwa telasan topak merupakan hari terakhir hari raya idul Fitri.

“Dengan harapan semoga dengan diadakannya perayaan lebaran ketupat ini bisa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah,” harapnya.

Reporter : Sudirman
Editor : Redaksi
Publisher : Syaiful