Keluh Kesah Nelayan Muncar, 7 Tahun Dilanda Paceklik Ikan

oleh
Perahu selerek beserta para nelayan sedang perbaiki jaringnya

BANYUWANGI, Jumat (5/1/2018) suaraindonesia-news.com – Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, semenjak Tahun 1990-an sudah terkenal sebagai penghasil ikan urutan kedua terbesar tingkat Asean, sehingga di wilayah muncar sendiri tercatat sebagai kawasan produksi ikan sarden (ikan dalam kaleng).

Bahkan, gedung-gedung perusahan produksi ikan baik sarden maupun kasturid (pembeku ikan) terhitung berjumlah 100 lebih perusahaan sekecamatan muncar.

Banyaknya perusahaan disana, nampaknya tidak berbanding lurus dengan kenyataan sekitar 7 tahun terakhir ini, nelayan di wilayah Muncar – Banyuwangi dilanda kesulitan perekonomian karena paceklik ikan yang berkepanjangan.

Seperti yang dituturkan oleh juragan perahu selerek berinisial ‘TR’ dan nama perahu selereknya ‘REGAL’ pada media suaraindonesia-news.com diarea pelabuhan Muncar saat memperbaiki/menjahit jaring selereknya bersama rekannya dengan raut wajah lesu menyampaikan keluh kesahnya lantaran sudah 7 tahunan bekerja sebagai nelayan dengan penghasilan yang pas-pasan.

Bahkan, sekedar cukup untuk makan dirinya dan keluarga kecilnya mengingat sangat sulitnya mecari ikan, terkadang tidak dapat ikan sama sekali hingga tidak mencukupi untuk bahan bakarnya.

“Saat ini kami hanya bisa bertahan bekerja sebagai nelayan, karena hanya inilah pekerjaan kami jadi walaupun kerja jadi nelayan sudah sekitar 7 tahunan sampai sekarang dapatnya ikan hanya 1 keranjang (100kg) pastinya cukup untuk bayar bahan bakarnya kalau dapatnya ikan sampai 3 keranjang (300kg) itu sudah tidak rugi untuk bahan bakar dan kamipun dapat bagian cukup tuk makan kami sekeluarga, berbeda dengan dulu saat musim ikan membludak paling tidak dapat 50 keranjang (5000kg) jadi sangat jauh sekali perbedaannya,” katanya menceritakan.

Ditanya kira-kira penyebab dari pacekliknya ikan, TR dengan nada agak kesal menyatakan bahwa yang mengakibatkan sulit dapat ikan karena seringkali ada perahu nelayan luar muncar yaitu perahu Rompong (nelayan porsin) yang berasal dari wilayah Pekalongan Jawa Tengah melakukan penangkapan ikan diperairan muncar.

Sehingga, lanjut dia, nelayan muncar yang notabene kalah peralatannya tidak kebagian ikan, apalagi mereka melakukan penangkapan diarea yang lebih ketengah arungan sedang nelayan daerah muncar sendiri agak kepinggir.

“Mereka jumlahnya bukan sedikit, perahu nelayannya selain alat tangkap mereka pakai porsein juga mereka selalu memilih arungan laut lebih jauh ketengah dari kami, jadi karena kami agak dekat kedarat gimana bisa kebagian ikan,” tuturnya.

Ia mengingatkan nelayan luar daerah yang melakukan aktifitas penangkapan ikan di perairan Muncar, apalagi mereka para nelayan rompong menggunakan alat tangkap yang demikian kenapa tidak ada larangan dari petugas yang berwenang.

“Entahlah hal itu kok bisa berlarut-larut tanpa ada pembelaan terhadap kami agar mereka (nelayan rompong asal pekalongan), dicegah dan dilarang, apa tidak kasihan pada kami sebagai nelayan setempat yang selalu kesulitan mendapatkan ikan. Tolonglah agar keluh kesah kami ditanggapi karena dari dulu hanya kami para nelayan Muncar yang memberikan keuntungan pada pihak perusahaan jugapun pada pihak pemerintah karena pajak dari kami,” jelasnya panjang lebar.

Berbeda dengan penjelasan dari pihak Sahbandar Pelabuhan Perikanan Muncar saat ditemui di kantornya melalui perwakilan Ketua Sahbandar, Erlambang menyangkal keterangan kalau perahu nelayan yang berasal dari Pekalongan dikatakan melakukan aktifitas penangkapan ikan diperairan Muncar.

“Mengenai perahu nelayan yang berasal dari Pekalongan jumlahnya memang banyak, tapi mereka pada beberapa hari yang lalu dari satu orang perwakilan mendatangi kantor kami dengan meminta ijin bersandar karena mereka butuh berlindung,” kilahnya.

Sementara itu, berhubung saat itu cuaca angin sangat kencang dan gelombang besar sekali, maka di izinkan untuk bersandar.

“Sesuai perjanjian, setelah cuaca reda maka mereka langsung berpamitan pada kami untuk melanjutkan perjalanan pulang karena mereka memang bertujuan pulang dari pekerjaannya. Jadi kalau mereka melakukan penangkapan ikan di wilayah dekat perairan Muncar pasti kami cegah sebab kami bekerja sama dengan pihak polisi Airut yang selalu melakukan operasi pemantauan,” tukasnya.

Dijelaskan pula oleh Erlambang, Mewakili ketua Sahbandar Pelabuhan Perikanan Muncar, tentang analisa penyebab yang terjadi pada nelayan muncar mengalami paceklik ikan berkepanjangan, hingga Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2010 lalu, menetapkan Mencar sebagai mina politan serta saat itu mencanangkan anggaran yang cukup besar untuk membangun pelabuhan Muncar. Tujuannya agar mampu menuju taraf Internasional.

Kalau mengenai penyebab ketidak adanya ikan, menurut para pengamat ekosistem laut yang berhasil kami himpun, adalah salah satunya berada pada ketidak sadaran para nelayan sendiri, contohnya beberapa pihak instansi terkait selalu meghimbau agar menggunakan alat tangkap (jaring) ramah lingkungan dengan ukuran mata jaring yang agak tawang/lebar.

“Tujuannya agar anak ikan tidak ikut terangkap sebab apabila anak ikan juga ikut tertangkap bagaimana bisa berkembang biak! Tapi himbauan tersebut tidak pernah didengar oleh para nelayan bahkan mereka malah seakan berlomba menangkapi ikan yang sangat kecil-kecil, nah ketika sudah tidak ada lagi ikan yang bisa berkembang biak terjadilah paceklik ikan bertahun-tahun tapi semoga dengan upaya Pemerintah Pusat dan Provinsi membangun pelabuhan perikanan Muncar menuju taraf Internasional segera mencapai tujuan agar perekonomian masyarakat muncar bisa kembali stabil, amin,” ujar Erlambang.

Reporter : Sudarsono
Editor : Panji Agira
Publisher : Tolak Imam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *