Berita UtamaPendidikan

Inovasi dan Adaptabilitas Jadi Elemen Penting Menuju Rancangan Baru Bisnis Indonesia

53
×

Inovasi dan Adaptabilitas Jadi Elemen Penting Menuju Rancangan Baru Bisnis Indonesia

Sebarkan artikel ini
IMG 20161014 WA0050

Reporter: Cahya

Surabaya, Jum’at 14/10/2016 (suaraindonesia-news.com) – Peningkatan kemakmuran dan kemampuan bertahan hidup adalah tujuan-tujuan utama yang ingin dicapai oleh setiap organisasi bisnis. Kedua tujuan ini bisa dicapai jika organisasi bisnis memiliki keunggulan bersaing di industrinya.

Untuk mencapai keunggulan bersaing yang diharapkan, organisasi bisnis tidak dapat mengabaikan perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan bisnisnya. Merujuk pada teori sistem terbuka, organisasi bisnis mau tidak mau harus berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungannya. Organisasi bisnis juga harus menyadari bahwa lingkungan bisnis yang dihadapinya kini semakin bersifat dinamis dan penuh ketidakpastian.

Kesadaran ini harus diikuti dengan cara merespon secara proaktif, bahkan mampu menjadi agen perubahan bagi industrinya.

Sejak awal tahun 2016, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) telah resmi diberlakukan. Hal ini menuntut para pelaku bisnis untuk melakukan inovasi-inovasi agar dapat menciptakan keunggulan bersaing terhadap produk-produk asing yang kian membanjiri pasar domestik. Selain hal tersebut, lingkungan bisnis akhir-akhir ini juga mengalami perubahan yang sangat signifikan akibat adanya perkembangan teknologi informasi. Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat mendorong munculnya inovasi-inovasi baru yang mengubah model-model bisnis yang ada. Satu contohnya adalah pergeseran toko serba ada tradisional menjadi situs belanja online.

Perkembangan ini menyebabkan perusahaan-perusahaan yang memiliki model bisnis tradisional berupaya untuk melakukan adaptasi dan inovasi untuk mempertahankan posisinya di industri.
Berkaitan dengan pentingnya inovasi bisnis sebagai akibat dari perkembangan teknologi yang amat pesat, maka Fakultas Bisnis dan Pascasarjana Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) menyelenggarakan agenda akademik guna menggagas arsitektur baru dunia bisnis di Indonesia.

Agenda akademik yang diselenggarakan berupa konferensi berskala Nasional dan Kolokium Doktoral yang diharapkan dapat menjadi jembatan antara perkembangan ilmu pengetahuan di satu sisi dan dunia bisnis di sisi lain. Secara mendalam hendak distudikan wacana-wacana seputar pentingnya inovasi, perannya bagi kemajuan dunia bisnis, hambatan pelaksanaan, serta alternatif solusinya.

Menghadirkan tiga orang narasumber yang mumpuni di bidangnya, acara yang berlangsung di Auditorium A301 Kampus Dinoyo Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya ini berhasil menarik minat berbagai pihak.

Pembicara pertama adalah Rahmat Danu Andika, (Head of Business Partner Special Project Bukalapak. com). Bergaya luwes khas anak muda, pria yang akrab disapa sebagai Mas Dika ini berbagi pengalamannya bertemu wirausahawan muda yang datang dari berbagai kalangan.

“Banyak juga wirausahawan muda yang berangkat dari kondisi tidak punya modal. Namun mereka berani mencoba dan berani susah, sementara yang lain hanya berpikir ‘bagaimana kalau gagal’, mereka ini berpikir ‘bagaimana kalau sukses?’ dan mencoba dulu. Selalu ada resiko untuk gagal, tapi ya kenapa tidak dicoba? Mulai banyak loh, calon mertua yang menanyakan ‘punya bisnis apa?’ Kalau bisa jawab kan bangga,” ungkapnya sembari berkelakar.

Pembicara kedua adalah Dr. Ir. Made Sukarta selaku Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Provinsi Jawa Timur yang memaparkan data bahwa 95.58% dari piramida UMKM di Jawa Timur merupakan usaha mikro.

“Jawa Timur dideklarasikan sebagai propinsi dengan basis perekonomian UMKM. Dalam hal menjalankan usaha, kesulitannya adalah pada proses dari produk hingga sampai ke tangan pelanggan. Oleh sebab itu perlu ada tiga pilar yang mendukung pengelolaan dan pemberdayaan UMKM tersebut; akademisi-peneliti, pemerintah dan pelaku koperasi dan UMKM. Perlu ada juga peraturan yang mendukung tata laksana usaha di era digital untuk perlindungan penjual maupun pembeli,” tandasnya.

Yohanes Harimurti – Pengajar FB UKWMS yang menjadi pembicara ke-tiga, sedikit berbagi tentang pengalamannya di kegiatan pengabdian masyarakat menghadapi pelaku UMKM. Ceritanya seorang dosen Fakultas Teknik UKWMS menciptakan alat pengering krupuk yang diberikan kepada warga suatu desa di kawasan Kenjeran. Dengan mesin itu, krupuk yang dihasilkan kualitasnya bagus dan bisa kering walaupun tidak tersedia sinar matahari.

Hanya setahun dipergunakan, kemudian tidak lagi di manfaatkan.

“Usut punya usut, ternyata krupuk yang dihasilkan terlalu bagus. Kering dan tahan lama, kadar airnya sangat minim dan tidak mudah rusak. Namun jika ditimbang di pasar jadinya sangat ringan, jadi harga perkilonya lebih rendah jika dibandingkan dengan produk sebelum menggunakan alat tersebut. Bagi mereka yang hanya berpikir keuntungan jangka pendek, maka kualitas belum tentu penting. Padahal kalau kualitasnya tinggi, harga jual juga bisa ditingkatkan dan produk dipasarkan lebih jauh. Jika seperti itu, artinya kita berhadapan dengan masalah pola pikir. karena masalah pola pikir bisa membuat pertolongan kita mubazir,” ungkapnya.

Itulah yang menjadi PR bersama terutama di bidang pendidikan, bagaimana caranya agar pola pikir itu bisa berubah.

Dr. Teodora Winda Mulia selaku panitia menyampaikan manfaat yang dapat diperoleh dari penyelenggaraan The 9th National Conference Faculty of Business (NCFB) and Doctoral Colloquium tersebut.

”Keberadaan dan kesinambungan kegiatan ini di masa mendatang diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kajian ilmiah kepada dunia bisnis dan pertukaran pengetahuan dunia bisnis dengan dunia akademik, sehingga kontribusi Fakultas Bisnis dan Pascasarjana UKWMS bagi masyarakat dapat semakin dirasakan,” pungkasnya.