LUMAJANG, Senin (27/8/2018) suaraindonesia-news.com – Gas LPG 3 kilogram bukan langka, namun ada spekulasi dari toko-toko atau para pengecer. Hal itu, disampaikan Manager LPG Rayon VII Wilayah Sekar Kijang, Moh Ali Albar Felayati, kepada media ini mengatakan kalau ini karena memang pemintaan sedang tinggi, bukan langka seperti yang ada di pemberitaan salahsatu media online beberapa waktu yang lalu.
“Permintaan tinggi karena banyaknya masyarakat yang mempunyai hajatan, seperti bulan Haji ini. Kedua disebabkan dipakai pengairan sebagai bahan bakar pompa. Selanjutnya dipakai ternak karena sekarang musim pembesaran DOC ayam,” jelas Moh Akbar kepada wartawan Senin (27/8) siang.
Padahal kata Moh Akbar, pihaknya sudah menambah selitar 271% atau 77.280 untuk wilayah Kabupaten Lumajang.
“Dan itu di luar pasokan harian, yang berjumlah 28.467 tetap disalurkan ke wilayah Lumajang,” bebernya.
Diungkapkan kembali bahwa dari hasil operasi pasar di Kabupaten Lumajang, kata Moh Akbar malah sepi peminat.
“Serapan hanya di bawah 50 persen. Selain itu, dari sisi suplai sudah ditambah 70 ribu tabung di luar reguler untuk wilayah Kabupaten Lumajang,” tegasnya lagi.
LAPORAN OPERASI PASAR
Per Tanggal : 24 Agustus 2018
Wilayah Kabupaten Lumajang, antara lain :
– Kecamatan Gucialit : 1 tempat ( 156 tab )
– Kecamatan Jatiroto : 2 tempat ( 251 tab )
– Kecamatan Kedungjajang : 1 tempat ( 60 tab )
– Kecamatan Lumajang : 1 tempat ( 143 tab )
– Kecamatan Pasirian : 1 tempat ( 0 tab )
– Kecamatan Randuagung : 1 tempat ( 157 tab )
– Kecamatan Ranuyoso : 1 tempat ( 5 tab )
– Kecamatan Rowokangkung : 1 tempat ( 80 tab )
– Kecamatan Tekung : 1 tempat ( 80 tab )
– Kecamatan Tempeh : 1 tempat ( 250 tab )
– Kecamatan Yosowilangun : 2 tempat ( 427 tab )
Total ada 11 kecamatan, yaitu 13 tempat.
“Rata-rata sepi peminat, per tempat dijatah 250 tabung,” pungkasnya.
Seperti dikutip dari suarajatimpost.com bahwa temuannya ada kekosongan pasokan di wilayah kecil di Kabupaten Lumajang pasca Hari Raya Idul Adha beberapa waktu yang lalu.
Seperti dialami Joko (39) warga Desa Ranu Pakis, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, ini kepada suarajatimpost.com mengatakan, sulitnya memperoleh bahan bakar gas bersubsidi dari pemerintah ini dirasakan sejak awal Agustus 2018, memasuki tahun ke 73 HUT kemerdekaan Republik Indonesia.
“Sebulan terakhir ini, sulit untuk dapat. Harus keliling mencari toko lain bahkan ke desa tetangga. Karena di toko yang biasanya lagi kosong dan agak lama. Sementara kita mesti memasak tiap hari,” kata dia, Senin (27/8).
Ditanya soal harga ketika akhirnya memperoleh gas elpiji dilain tempat dari biasanya, pria berkulit putih itu mengaku masih wajar. Berkisar pada nominal Rp. 17.500 hingga Rp. 18.000.
“Harga segituan lah, tapi ya panik juga harus keliling. Bahkan huja ketika beli di toko yang ada di desa tetangga itu, juga bertemu dengan warga dari desa lain,” imbuh dia.
Sambil berjalan sembari menata gas elpiji 3Kg ke sepeda motor yang dikendarainya, saat itu joka berharap keadaan ini cepat mendapati disikap dari pihak terkait.
“Khawatir ada yang bermain dibalik apa yang kami rasakan ini, kami berharap pihak terkait segera mengambil langkah agar kondisi ini tidak berlangsung lama. Beli gas bisa di tempat terdekat dan normal, tidak sulit hingga harus muter – muter. Kami sudah meninggalkan kayu bakar. Tapi kalau elpiji 3Kg sulit didapat susah juga kami sebagai warga,” tukasnya lalu pergi.
Reporter : Achmad Fuad Afdlol
Editor : Amin
Publiser : Imam












