E-Warong Desa Jambu Diduga Permainkan Harga, TKSK Terkesan Tutup Mata

oleh -112 views
Ilustrasi

SUMENEP, Sabtu (27/6/2020) suaraindonesia-news.com – Penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) atau Sembako di Desa Jambu, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Akhir-akhir ini terus menjadi polemik dikalangan masyarakat Desa setempat. Sebab e-Warong Desa tersebut, diduga terus mencari cara agar bisa mengelabuhi KPM untuk bisa mengambil keuntungan tinggi.

Seperti diberitakan sebelumnya, e-Warong Desa Jambu diduga mengambil keuntungan dari sisa harga sembako yang diberikan kepada KPM.

Selain itu, suami dari penanggung jawab e-Warong Desa Jambu pendapat istrinya kurang benar yang disampaikan diawal, dan sekarang ia beralih mengaku hanya menaikkan harga beras lebih tinggi dari harga pasaran untuk mencukupi nominal 200 ribu. Ini saja sudah melanggar apa yang disampaikan TKSK dan Tikor.

Anehnya, pendapat yang sudah dilontarkan oleh penanggung jawab e-Warong Desa Jambu, Zahratul Asriah di pemberitaan awal dibantah oleh suaminya, bahwa hal itu harga saat mengambil dari supplier.

Suaminya mengatakan, yang benar ia menaikkan harga beras yang akan disalurkan ke KPM. Harga beras yang ia ambil dari supplier 10 kg seharga 112,000, 5 kg seharga 56,000.

Selanjutnya, untuk harga yang disalurkan ke KPM dinaikkan. Seperti, harga beras 10 kg 123,000, beras yang 5 kg 61,500, telur 6 butir 9,000 dan kacang tanah 1/4 6500.

“Bahasa istri saya, “saya kan ngambilnya ke suplayer, sampean tanya berapa ??. Istri saya bilang 112.000 dari supplier bukan yang ke KPM,” kata suami penanggung jawab e-Warong Desa Jambu saat menghubungi suaraindonesia-news.com melalu via whatsapp, Sabtu (27/6).

Saat disinggung melalui pertanyaan terkait harga penyaluran sembako ke KPM. Ia mengatakan bahwa dalam hal itu, ia hanya menaikkan harga beras saja. Dari tiap kilonya dikalikan nominal 12,300 rupiah.

“Untuk harga beras yang disalurkan ke KPM 10kg 123,000, 5 kg 61,500 total dari itu 184.500,” jelasnya.

Faidi selaku TKSK Kecamatan Lenteng menyampaikan, pihaknya sudah melakukan koordinasi bersama Tikor dengan agen atau e-Warong se Kecamatan Lenteng terkait harga dan kualitas barang. Tapi disini TKSK sendiri diduga terkesan menutup mata bila dihadapkan dengan persoalan ini. Karena e-Warong yang disebutkan diatas sudah diduga bermain harga dan tidak mengikuti mekanisme pasar.

“Tikor juga mrnyamapaikn ke agen mas. Agen itu harus mandiri begitu mas. Yang terpenting kualiatas dan kuantitas barang mengikuti pasar. Karena sudah di sampaikan harus pakai mekanisme pasar mas. Selain itu soal keuntungan, selebihnya dapat itu mas,” ungkapnya.

Pihaknya saat disinggung beberapa persoalan terkait BPNT atau Sembako, ia juga menegaskan bahwa dalam mekanisme penyaluran e-Warong Desa tersebut kurang memahami.

“Ya, mungkin agenya itu mas kurang faham,” tandasnya.

Reporter : Dayat
Editor : Amin
Publisher : Ela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *