Di Banyuwangi, HIPPAM Diduga Jadi Ajang Praktik KKN

Pipa HIPPAM Sumber Urip Desa Watukebo, kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi

Reporter: Irl

BANYUWANGI, Kamis (18/5/2017) suaraindonesia-news.com – Himpunan pengguna air minum (HIPPAM) di pedesaan yang dibentuk untuk masyarakat penerima air bersih diduga jadi ajang untuk praktik KKN.

Informasi yang diterima suaraindonesia-news.com dari salah satu warga Desa Watukebo, kecamatan Wongsorejo yang meminta namanya tidak dicantumkan mengatakan, HIPPAM yang ada di pedesaan kabupaten Banyuwangi, ternyata hampir keseluruhan tidak jelas terkait pembukuan dan juga kepengurusannya.

“Padahal anggaran untuk HIPPAM itu sendiri bersumber dari APBN yang harus dipertanggung jawabkan,” ujarnya.

Salah satunya terjadi di HIPPAM sumber urip yang berada di Desa Watukebo, kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, mulai dari pembukuan yang tidak jelas dan juga stakeholder kepengurusan HIPPAM itu sendiri juga tidak jelas.

“Buktinya, mulai dari pemasangan, pengecekan meter, dan juga penarikan tiap bulan dilakukan 1 orang saja,” terangnya.

Lanjutnya, yang lebih tragis lagi disaat masyarakat lagi membutuhkan air bersih malah tidak bisa terlayani akibat mesin HIPPAM rusak sudah hampir 1 bulan dan disaat harusnya diperbaiki malah tersendat akibat uang kas atau anggaran perawatan perbaikan tidak ada sama sekali alias nol.

Sementara Ashari yang sudah menjabat dari tahun 2010 sebagai ketua HIPPAM juga sudah dinilai melanggar ad/art HIPPAM itu sendiri karna tertulis wajib diganti dan dipilih  setidaknya 3 tahun masa jabatan.

Menurut Ashari, saat ini konsumen sudah ada seitar kurang lebih 350, dengan biaya pemasangan awal 450 ribu/ konsumen.

“Tarif air yang kami tarik sebesar 4000 rupiah/meter atau kubik,” jelasnya.

Sementara menurut keterangan Ho, selaku bendahara HIPPAM sumber urip Desa Watukebo, kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, menyampaikan bahwa saat ini mesin HIPPAM dalam keadaan mati.

“kita tidak bisa memperbaiki mesin HIPPAM karna tidak ada uang kas sama sekali mas,” terangnya.

Dan disaat ditanya kalau tidak ada uang kas sama sekali bagaimana dengan pembukuannya?… Pak Ho pun menjelaskan bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan untuk membukukan keuangan HIPPAM.

“Saya tidak bisa pembukuan mas karna saya hanya lulusan SD jadi tidak bisa membuat pembukuan,” dalilnya sambil tertawa seolah tidak ada beban sama sekali.

Sementara Kepala desa Watukebo saat dikonfirmasi mengatakan bahwa pihaknya dari desa berjanji akan segera mengadakan pertemuan terkait persoaln tersebut.

“Kita akan kumpulkan untuk forum pertemuan dan membahas hal ini, akan kita lakukan pembinaan terlebih dahulu, dan memang sebelumnya tidak pernah ada laporan pembukuan ke desa karna bukan kewenangan kami tapi kita hanya sebatas pembinaan saja mas,”jelasnya.

Sampai berita ini dipublikasikan, mesin HIPPAM Sumber urip belum hidup dan masyarakat desa selaku konsumen belum bisa terlayani akan air bersih dan sudah hampir 1 bulan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here