Angka Stunting 30 Persen, Jadi Perhatian Serius Walikota Batu

oleh -112 views
Dewanti Rumpoko Walikota Batu bersama 100 anak yatim, Janda soleha serta jamaah pengajian Nurul Qolbi.

KOTA BATU, Minggu (19/5/2019) suaraindonesia-news.com – Angka Stunting atau gagal tumbuh kembang (gatumbang) di kota Batu tahun 2019 sungguh memprihatinkan, hingga tembus 30 persen.

Angka 30 persen itu kini menjadi perhatian serius Walikota Batu Dewanti Rumpoko. Orang nomor satu di Pemerintahan kota Batu ini meminta kepada seluruh orang tua anak untuk melakukan pencegahan, memperhatikan anak-anaknya, baik pola makannya maupun rasa kasih sayangnya.

Acara Santunan 100 Anak Yatim dan Janda Sholeha serta Pengajian Rutin Ahad (Minggu) pagi yang diselenggarakan oleh Ponpes Nurul Qolbi (cahaya hati) di Masjid Roudlotul Amin, Jl.Sultan Hasan Halim no.13 Kelurahan Sisir, Kec.Batu, Kota Batu, Minggu (19/5/2019) pagi. Dewanti menyebut bahwa stunting itu bukan hanya kurang gizi saja tetapi juga rasa kasih sayang orang tua kepada anak anaknya.

“Oleh sebab itu disini saya titip kepada ibu-ibu jamaah Nurul Qolbi untuk memperhatikan anak-anaknya, karena stunting itu bukan hanya kurang gizi saja tetapi juga rasa kasih sayang orang tua kepada anak anaknya,” kata Dewanti.

Menurutnya, berdasarkan data Badan Pusat Stastistik (BPS), Kota Batu termasuk mempunyai angka stunting yang tinggi yaitu 30% artinya disetiap 10 anak itu ada 3 anak yang stunting, Kasus shunting di kota Batu bukan hanya dialami dari keluarga miskin tetapi juga dialami anak dari keluarga yang lebih mapan. Untuk itu perhatian orang tua sangat diperlukan.

“Dengan memperhatikan pola asuh anak berarti menjadikan kita orang orang yang terpilih oleh Allah SWT, mudah mudahan kita yang berada disini bisa menjalankan syariat islam yang baik,” pesannya.

Selain itu Dewanti juga memuji kelompok pengajian Ponpes Nurul Qolbi yang dilakukan secara rutin stiap minggu sekali akan menjadikan menjadikan orang orang yang terpilih oleh Allah SWT.

“Bahwa perkumpulan ini adalah salah satu komunitas agama yang dibuat oleh masyarakat karena keguyubannya dan kegotongroyongannya yang sebetulnya itu adalah budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia,” pungkas Dewanti.

Reporter : Adi wiyono.
Editor : Amin
Publisher : Imam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *