Angka Perceraian di Malang dan Batu Naik 10 Persen

oleh -438 views
Drs M Hilmi MH ES Hakim Madya Pengadilan Agama Kepanjeng saat ditemui usai Jumatan, di Masjid Al Khodijah Junrejo, Jumat (1/12/2017)

KOTA BATU, Jumat (1/12/2017) suaraindonesia-news.com – Angka perceraian kota Batu dan Kabupaten Malang sejak Januari 2017 hingga akhir Nopember 2017 naik 10 persen dibanding tahun 2016. Dari data Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Malang, naiknya angka perceraian di Kota Batu dan Kabupaten Malang itu karena dipengaruhi factor ekonomi, kekerasan Dalam rumah tangga (KDRT) dan pernikahan usia dini serta adanya Perselingkuhan.

Drs M Hilmi MH ES Hakim Madya Pengadilan Agama Kepanjeng saat ditemui usai Jumatan, di Masjid Al Khodijah Junrejo, Jumat (1/12/2017) mengatakan raking teratas timbulnya angka perceraian di Kota Batu Dan Kabupaten Malang itu adalah karena Faktor Ekonomi, Perkawinan usia muda atau dibawah 20 tahun.

“Penyumbang terbesar angka perceraian itu pada perkawinan usia dini, calon mempelai yang mengajukan dipensasi perkawinan , itu rata-rata perkawinannya baru berjalan dua bulan, tiga bulan mereka langsung mengajukan cerai,“ kata M Hilmi

Faktor ekonomi kata dia, juga merupakan raking atas, selain itu perselingkuhan atau pihak ketiga juga sangat berpengaruh terjadinya angka perceraian, seperti media social yang selalu berkembang.

Baca Juga: Bakal Calon Wakil Bupati Ngamuk, KPU Pamekasan Mendapat Penjagaan Ketat 

Ia juga mengaku tidak hafal persisnya jumlah angka perceraian di Kabupaten Malang dan Kota Batu, namun ia menyebut tahun 2016 ada dikisaran 6000 tetapi dalam tahun 2017 hingga akhir Nopember sudah berada pada kisaran 7.000 pasangan suami istri. Artinya ada kenaikan sebesar 10 persen.

Di Kota Batu, data di Pengadilan Agama, Perkawinan yang mengajukan dispensasi adalah menjadi penyebab utama tingginya angka perceraian di Kota Batu. Dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan, termasuk tahun2017 meningkat drastis bila dilihat dari prosentasi jumlah penduduk di kota Batu.

Djazilatus Rochmat Panitera Permohonan pengadilan Agama (PA) kota Malang membenarkan jika perkawinan usia dini juga menjadi salah satu permohonan cerai talak, cerai gugat. Mereka rata-rata yang mengajukan cerai itu, pada masa perkawinan belum matang yakni pada usia dibawah 20 tahun.

“Bahkan mereka dulunya pernah mendatangi kantor PA meminta dispensasi agar perkawinannya diusia di bawah 17 tahun agar dikabulkan ternyata baru dua bulan mereka mengajukan cerai, sementara itu orang tua pemohon juga ngotot agar permohonannya dikabulkan,” jelasnya.

Tetapi faktanya, dalam perjalanannya, mereka yang melangsungkan perkawinan pada usia muda ini tak lama kemudian mendatangi lagi kantor PA bukan untuk dispensasi lagi tapi mereka mengajukan permohonan cerai. (Adi Wiyono/Jie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *