BLORA, Sabtu (18/04) suaraindonesia-news.com – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Andongrejo melakukan langkah pembenahan untuk meningkatkan standar operasional dan kualitas layanan. Upaya tersebut dilakukan melalui evaluasi menyeluruh terhadap menu makanan serta pemasangan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) guna memenuhi standar kelayakan lingkungan.
Pemasangan IPAL menjadi prioritas untuk memastikan limbah sisa produksi diolah dengan baik sebelum dibuang ke lingkungan. Muhammad Qomari Burhanuddin, selaku pemilik yayasan sekaligus mitra SPPG Andongrejo, menyampaikan bahwa perangkat IPAL didatangkan dari Kediri.
“IPAL sudah tiba di Blora dan saat ini sedang dalam proses pemasangan komponen pendukung seperti instalasi paralon. Kami targetkan hari Senin depan sistem ini sudah bisa beroperasi penuh,” ujar Qomari saat dikonfirmasi pada Jumat (17/04/2026).
Untuk memastikan efektivitas sistem tersebut, SPPG Andongrejo akan melakukan uji parameter air hasil olahan dengan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Blora. Pihak pengelola menyatakan siap melakukan perbaikan apabila hasil uji laboratorium menunjukkan adanya parameter yang belum memenuhi standar.
Dalam pengelolaan sampah padat, SPPG Andongrejo juga berkoordinasi dengan DLH setempat untuk pengangkutan rutin. Sampah organik berupa sisa bahan makanan dimanfaatkan warga sekitar sebagai pakan ternak, sementara sampah anorganik disimpan agar tidak mencemari lingkungan.
Langkah pembenahan ini merupakan respons atas insiden pengembalian 192 porsi makanan oleh salah satu sekolah mitra. Qomari mengakui adanya kendala teknis pada proses pengemasan yang menyebabkan menu protein hewani tercampur dengan sayuran mentah sehingga menimbulkan aroma kurang sedap.
Sebagai bentuk tanggung jawab, pihak SPPG Andongrejo berkomitmen mengganti seluruh porsi makanan yang dikembalikan dengan menu baru serta memberikan kompensasi kepada siswa penerima.
“Ini menjadi bahan evaluasi bagi kami. Ke depan, koordinasi dengan pihak sekolah akan diperketat, baik dalam kontrol kualitas menu maupun penyesuaian jadwal kegiatan belajar agar kejadian serupa tidak terulang,” kata Qomari.












