BeritaPendidikan

Jadi Kasek dan Guru di Pulau Mandangin, Setiap Hari Bertaruh Nyawa Seberangi Lautan

Avatar of admin
×

Jadi Kasek dan Guru di Pulau Mandangin, Setiap Hari Bertaruh Nyawa Seberangi Lautan

Sebarkan artikel ini
IMG 20250308 205407
FOTO : Para guru yang mengajar di 9 SDN pulau Mandangin, Sampang, berangkat ngajar menggunakan kapal perahu terbuka dan bertaruh nyawa setiap hari ditengah ganasnya ombak laut. (FT/Nor/SI)

SAMPANG, Sabtu (8/3) suaraindonesia-news.com – Jadi kepala sekolah dan tenaga pengajar atau guru di Pulau Mandangin Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, tidak mudah. Harus punya didikasi dan tanggung jawab yang kuat dalam melaksanakan tugasnya.

Mengapa? Karena setiap hari para guru dan kepala sekolah harus naik kapal perahu terbuka menyeberangi laut dari pelabuhan Tanglok Kelurahan Banyuanyar, Sampang, menuju pelabuhan pulau Mandangin.

Mereka setiap hari bertaruh nyawa dengan cuaca yang terkadang ekstrim dan tidak bersahabat. Angin dan gelombang besar menjadi makanan mereka setiap hari. Jarak tempuh dari pelabuhan Tanglok jika cuaca normal selama 1,5 jam. Jika cuaca ekstrim selama 2,5 jam.

“Cuaca di laut terkadang tiba-tiba ekstrim dengan angin dan gelombang besar. Jika sudah demikian, kami semua hanya bisa pasrah pada Allah,” terang Moh. Hosen, Kepala Sekolah SDN Mandangin 1, yang juga Ketua K3S pulau Mandangin.

Diceritakannya, jika datang angin dan gelombang besar semuanya basah karena kapalnya hanya sebuah perahu terbuka. Menurutnya, mengajar dengan kondisi celana dan baju basah sudah biasa. Karena akan kering dengan sendirinya.

“Yang kasihan jika perempuan, saat ada angin dan gelombang besar bajunya basah semua. Sehingga harus mengajar dikelas dengan kondisi pakaian basah,” imbuhnya.

Lebih jauh ia menceritakan, jadwal keberangkatan kapal ke pulau Mandangin, satu minggu berangkat dari pelabuhan Tanglok Kelurahan Banyuanyar Kecamatan Sampang dan satu minggu berangkat dari pantai Desa Taddan kecamatan Camplong.

“Jika naik dari pantai Desa Taddan, kecamatan Camplong, kepala sekolah dan guru harus berjalan kaki dipantai dengan ketinggian air sepaha orang dewasa menuju kapal yang menunggu di laut, karena air surut. Sehingga, semuanya jadi basah,” ungkapnya.

“Jika laki-laki tidak repot karena mempersiapkan diri dengan memakai celana pendek atau pakai sarung. Celana dan sepatunya dimasukkan dalam tas. Guru perempuan yang kasihan, terpaksa bajunya basah semua. Sehingga, baju seragam mengajar di masukkan dalam tas dan berganti pakaian saat sampai disekolah,” urainya.

Sekedar diketahui, jam keberangkatan kapal pukul 05.00 subuh dan jam pulang ke Sampang pukul 13.30 siang. Kecuali hari Sabtu kapal berangkat pukul 06.00 pagi dan pulang pukul 11.30 siang.

Sistem kapal sudah dikontrak bayar bulanan secara patungan oleh kepala sekolah dan guru SDN. Sementara kepala sekolah dan guru SMPN dan SMKN pulau Mandangin, menggunakan carteran kapal lain. Jumlah lembaga SDN di pulau Mandangin ada 9 dan SMPN ada 1 serta SMKN ada 1.