Yan Cristian Warinussy: Berdirinya GKI Ditanatah Papua Merupakan Organisasi Modern Orang Papua Sejak Dahulu

oleh -75 views
Direktur LP3BH Manokwari, Yan Cristian Warinussy, SH.

MAYBRAT, Senin (15/3/2021) suaraindonesia-news.com – Gereja Kristen Injili (GKI) di tanah Papua (dahulu Irian Barat) adalah organisasi moderen yang didirikan atas inisiatif orang-orang asli Papua di masa Pemerintahan Netherland Nieuw Guinea tanggal 26 Oktober 1956. Hal tersebut dikatakan Direktur LP3BH Manokwari, Yan Cristian Warinussy SH, Senin (15/3/2021).

“Pada saat itu, secara legal keberadaan GKI di Irian Barat (Tanah Papua) diakui oleh Pemerintah Belanda sebagai Gereja yang berdiri sendiri berdasarkan Keputusan Gubernur Netherland Nieuw Guinea tanggal 8 Februari 1957 Nomor 26 yang dikeluarkan oleh Sekretaris Gubernemen A.Loojes,” terangnya.

Dikutip dari dalam Buku berjudul Sepuluh Tahun GKI sesudah seratus satu tahun Zending di Irian Barat yang disusun oleh Pdt.F.J.S.Rumainum (mantan Ketua Sinode GKI di tanah Papua yang pertama). Di dalam bukunya itu, Pendeta Rumainum menulis bahwa Keputusan tentang pengakuan Kerajaan Belanda kala itu (1956-1957) dilakukan dengan memperhatikan Keputusan Raja tanggal 29 Juni 1925 Nomor 80 (Lembaran Pemerintah Hindia Belanda Tahun 1927 Nomor 156) sebagaimana dirumah dengan Peraturan Nomor 16 Tahun 1927 (Lembaran Pemerintah Hindia Belanda Nomor 532).

“Menurut pandangan hukum saya bahwa sejak tanggal 26 Oktober 1956 bertempat di Sukarnapura (kini Jayapura/dahulu Hollandia Haven), telah berdiri sendiri Gereja Kristen Injili (GKI) di tanah Papua (Irian Barat) atas jerih lelah dan inisatif serta kemauan dari para pekerja gereja Orang Asli Papua. Sekaligus merupakan hasil dari bersemai dan bertumbuhnya buah karya Roh Kudus melalui misi penginjilan yang telah diawali sejak kedatangan 2 (dua) pemudan Jerman bernama Carl Willem Ottouw dan Johann Gottlob Geissler pada tanggal 5 Februari 1855 di pesisir Teluk Doreh, tepat di pantai Pulau Mansinam,” bebernya.

Lanjutnya, GKI Di Tanah Papua adalah organisasi moderen pertama Orang Asli Papua (OAP) yang pendiriannya diawali dan didasari atas kepemilikan Tata Gereja yang awalnya terdiri dari 6 (enam).

“Tata Gereja tersebut awalnya dihasilkan oleh pemimpin GKI di tanah Papua yang jika dibaca secara baik telah terpatri keinginan dan cita-cita umat GKI di tanah Papua untuk mempersiapkan Gerejanya kelak mandiri dalam aspek daya dan dana,” ujarnya.

Itulah sebabnya kata Yan Cristian Warinussy, tata Gereja GKI di tanah Papua ini pasti telah mengalami banyak perubahan yang kiranya tidak merubah substansi awal di tahun 1956. Sehingga dalam rencana penyelenggaraan Rapat Kerja (Raker) IV Am Sinode GKI Di Tanah Papua,16-20 Maret 2021 di Klasis Ayamaru, Aifat dan Aitinyo, Kabupaten Maybrat, Papua Barat kiranya para pemimpin GKI Di Tanah Papua senantiasa merujuk pada tujuan awal didirikannya GKI sebagai sebuah persekutuan orang-orang percaya di Tanah Papua dan realitanya sebagai sebuah organisasi moderen sesuai prinsip-prinsip menejemen yang bersifat universal.

“GKI di tanah Papua bukan merupakan Gereja milik suku tertentu, apakah Saireri, Tabi, Anim Ha, La Pago, Mee Pago, Bomberay atau Domberay. Sebab sesuai amanat Kitab Efesus 2:20, GKI adalah persekutuan segala segala jemaat Kristen yang menurut panggilan TUHAN dibangunkan diatas alas segala Rasul dan Nabi dan batu penjurunya ialah Jesus Kristus sendiri,” ujar Warinussy.

Reporter : Ones
Editor : Redaksi
Publisher : Syaiful

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *