Upaya Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga, Departemen ESL Bersama PT SMI Adakan Pelatihan Urban Farming - Suara Indonesia
Regional

Upaya Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga, Departemen ESL Bersama PT SMI Adakan Pelatihan Urban Farming

Avatar of admin
×

Upaya Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga, Departemen ESL Bersama PT SMI Adakan Pelatihan Urban Farming

Sebarkan artikel ini
IMG 20210412 133817
Saat pelatihan urban farming

BOGOR, Senin (12/04/2021) suaraindonesia-news.com – Kegiatan pertanian termudah dan tidak terlalu rumit yaitu bercocok tanam yang dimulai dari rumah, dengan memanfaatkan limbah anorganik dan organik dilakukan untuk mendukung kegiatan tersebut. Limbah anorganik bisa dalam bentuk media tempat untuk menanam benih, seperti gelas plastik, botol plastik, dus maupun bahan plastik lainnya, sedangkan sampah organik yang terbuat dari limbah makanan yang telah dipisah dan dijadikan sebagai pupuk padat dan cair digunakan untuk menutrisi tanaman.

Pelatihan yang dilaksanakan oleh Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan (ESL) FEM IPB University bekerjasama dengan PT. Sarana Multi Infrastruktur (SMI) pada tanggal (11/04/2021) adalah Pelatihan Urban Farming dalam upaya Pemanfaatan Sampah Organik Rumah Tangga yang dilaksanakan di area kebun gudang Bank Sampah Srikandi Berdikari (BSSB) dengan peserta dari warga Desa Pasarean, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor.

Ketua Departemen ESL, Dr. Ir. Ahyar Ismail, M.Agr dalam menyampaikan sambutannya berharap dengan diadakannya pelatihan ini warga Desa Pasarean memperoleh edukasi yang baik karena narasumber dari NOSC sudah sangat berpengalaman dan diharapkan dapat langsung mempraktekannya, melalui pemanfaatan limbah anorganik dan organik yang ada di sekitar rumah. Cara menanam yang baik sehingga menghasilkan tanaman yang baik juga. Semuanya akan dijelaskan dan dipraktekan oleh narasumber.

Nagrak Organic SRI Center (NOSC) merupakan pusat pelatihan pertanian organik yang berlokasi di Nagrak-Sukabumi sebagai narasumber acara pelatihan tersebut, dipimpin oleh Iwan Setiaji bersama team. Urban farming adalah kegiatan bercocok tanam yang dilakukan oleh warga dengan memanfaatkan area sekitar. Terlebih pada saat pandemi covid ini banyak masyarakat yang melakukan urban farming karena aktifitas mereka banyak dilakukan di rumah.

Praktek persiapan bercocok tanam yang tidak rumit yaitu dengan memanfaatkan limbah anorganik dan organik sehingga keduanya bisa terpakai antara lain dengan menyiapkan unsur hara berupa tanah, sekam hitam dan pupuk cair berupa mol (mikroorganisme lokal) maupun pupuk kompos. Ketiga bahan tersebut harus ada dalam bercocok tanam untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Jika memakai unsur hara berupa tanah saja tidak cukup untuk tanaman walaupun dapat menampung air, dan jika hanya memakai sekam saja juga kurang baik karena sekam tidak mempunyai kemampuan untuk menyimpan air, kemudian pupuk untuk menutrisi tanaman agar tumbuh subur dan mendapatkan hasil maksimal.

Iwan menjelaskan perbandingan dari tanah, sekam hitam dan pupuk yang digunakan adalah 1:2:1 setelah ketiga bahan tersebut dicampur, kemudian lakukan penyemaian pada tempat yang terbuat dari limbah gelas dan botol plastik atau kardus dengan ketebalan 5 cm.

Dalam kegiatan bercocok tanam, pasti dipertemukan dengan organisme pengganggu tanaman (OTP) yaitu organisme yang tidak terlihat seperti bakteri, virus dan yang terlihat seperti hama maupun gulma. Oleh karena itu diperlukan adanya bahan organik untuk menghindari OTP tersebut seperti pestisida organik yang terbuat dari rempah-rempah yang telah dihaluskan seperti jahe, kunyit, temulawak, dan rempah lainnya ditambah dengan bawang putih sehingga tidak disukai oleh hama. Penyemprotan pestisida organik tersebut dilakukan pada sore hari dengan takaran 1 cc ditambah 1 liter air.

“Lebih baik menggunakan pestisida organik daripada kimia karena selain mencemari tanaman juga akan mencemari lingkungan sekitar,” tukas Iwan.

Reporter : Iran G Hasibuan
Editor : Redaksi
Publisher : Syaiful