Tolak Kegiatan MTA Di Japah, Ratusan Warga Gelar Aksi

Suasana Ratusan warga sejumlah Desa di Kec. Japah, Blora, Jawa Tengah, saat menggelar aksi demo menolak kegiatan keagamaan yang akan dilaksanakan oleh anggota Majelis Tafsir Alquran (MTA).

Reporter : Lukman

BLORA, Senin (20/3/2017) suaraindonesia-news.com – Ratusan warga sejumlah Desa di Kecamatan Japah, Blora, Jawa Tengah, menggelar aksi demo menolak kegiatan keagamaan yang akan dilaksanakan oleh anggota Majelis Tafsir Alquran (MTA) di rumah Ali Sugeng, RT-05/RW-02, Desa Japah, Kecamatan Japah, Blora, Senin (20/3).

Warga yang menentang kegiatan keagamaan di rumah Ketua MTA Kecamatan Japah itu, datang secara bergelombang mulai pukul 14:30 WIB, hingga berkumpul sekitar 500 orang, mereka bergerombol menolak pengajian digelar di rumah Ali Sugeng.

“Warga sudah pulang ke rumah masing-masing pukulk 17:00 WIB, mereka menolak pengajian di dekat Ponpes, aksi penolakan berlangsung aman,” jelas Kapolres Blora AKBP Surisman SIK. M.hum.

Menurut Kapolres, kegiatan keagamaan memang akan dilaksanakan di rumah Ali Sugeng pada Senin (20/3), karena situasi kondisi tidak memungkinkan, akhirnya kegiatan diundur pada Rabu (29/3).

Pelaksanaan juga gagal dilaksanakan di rumah Ketua MTA Kecamatan Japah, selanjutnya dipindah ke tempat lain rumah salah satu anggota MTA Sagimin, Dukuh Ngrowo RT-03/RW-01, Desa Japah, Kecamatan Japah.

Ketika massa berkumpul di depan Pasar Japah depan rumah Ali Sugeng, dilakukan mediasi upaya penengah Kapolres AKBP Surisman, Dandim Letkol (Inf) Susilo, Kepala Kesbangpol Mei Naryono, Camat Japah Kiswoyo dan Forkompicam setempat, kegiatan di rumah Ali Sugeng akhirnya dihentikan.

Sementara Camat Japah Kiswoyo menjelaskan, hari-hari sebelum massa berkumpul, Forkompimcam Japah sudah memberikan masukan kepada pengurus MTA Japah agar pengajian jangan digelar di dekat pondek pesantren (ponpes) A-Sidiq.

“Yaa sudah, terpenting semua berjalan damai, dan pengajian disepakati dipindah di tempat lain,” tambah Kiswoyo.

Di Japah sendiri, kata Camat Kiswoyo, terdapat 10 kepala keluarga (KK) atau 25 anggota keluarga (jiwa) menjadi anggota MTA.

Dari pengamatan suaraindonesia news.com, gejolak penolakan warga terhadap anggota MTA sedikitnya terjadi sebanyak empat kali, dua diantaranya soal penolakan kembalinya 57 jiwa (22 kk) kelompok MTA ke Dukuh Bangkerep, Desa Balong, Kecamatan Kunduran, Blora.

Aksi penolakan paling hebat terjadi 14 Juli 2012, ketika itu Kota Blora bagioan selatan yang sempat tegang dan mencekam dari buntut penolakan massa terhadap kegiatan keagamaan (pengajian) MTA, di Desa Kanmolan, Kecamatan Kota Blora. Situasi kembali kodusif, setelah seluruh satuan tugas (Satgas), panitia dan peserta pengajian MTA dari berbagai daerah meninggalkan kota Blora.

Satgas MTA yang disebutkan Wakil Komandan Satgas Rujio mencapai 2.000 personil, dan dilokalisir dari TKP bentrok massa di Desa Kamolan ke Markas Kepolisian Resor (Markas Polres), secara bergelombang meninggalkan kabupaten penghasil kayu jati itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here