MAGELANG, Selasa (10/02) suaraindonesia-news.com – Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Yogyakarta menggelar Penutupan Latihan Dasar Kedisiplinan (Latsardis) bagi Taruna Program Studi Sarjana Terapan STPN Tahun 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Lapangan Resimen Induk Kodam (Rindam) IV/Diponegoro, Magelang.
Komandan Rindam IV/Diponegoro, Brigjen TNI Hindratno Devidanto, menyampaikan bahwa sebanyak 396 Taruna dan Taruni STPN Yogyakarta mengikuti Latsardis yang bertujuan membentuk kedisiplinan, akhlak yang baik, serta ketangguhan mental sebagai bekal dalam menempuh pendidikan hingga terjun ke lapangan kerja.
“Tujuan pelatihan kedisiplinan dan akhlak baik ini agar para taruna menjalankan pendidikannya hingga saat di lapangan kelak dengan baik. Jika mengalami rintangan di jalan, dapat bertahan dan menganggap itu tantangan, bukan hambatan semata,” ujar Brigjen TNI Hindratno Devidanto dalam keterangannya saat penutupan Latsardis.
Ia juga menyinggung potensi bonus demografi Indonesia pada tahun 2045, di mana jumlah penduduk usia produktif diperkirakan lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Menurutnya, peluang tersebut harus didukung dengan sumber daya manusia yang berkualitas, baik dari sisi pengetahuan, mental disiplin, maupun daya juang.
“Untuk melatih disiplin dan daya juang tinggi ini, kami atur kegiatan mulai dari bangun pagi sampai tidur lagi. Kemudian bagaimana sikap saling menghargai, solidaritas, kekompakan, dan kepercayaan diri. Tujuannya supaya para taruna dapat menjalankan pendidikannya dengan baik,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua STPN Sri Yanti Achmad menjelaskan bahwa rangkaian Latsardis telah dilaksanakan selama lima hari, yakni sejak Senin hingga Jumat, 2–6 Februari 2026.
“Setelah mengikuti Latsardis ini, kami harapkan para taruna memiliki karakter yang kuat berupa integritas yang tangguh dan kepemimpinan yang baik. Hal itu didukung oleh kompetensi yang tak kalah penting sehingga setelah mereka selesai, mereka bisa mengabdikan diri dan bekerja dengan lebih baik lagi,” tutur Sri Yanti Achmad.
Ia menegaskan bahwa Taruna STPN 2026 merupakan aset calon punggawa di bidang pertanahan dan tata ruang di masa mendatang. Oleh karena itu, kemampuan pemecahan masalah (problem solving) menjadi salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki.
“Dalam Latsardis ini, mereka juga dilatih dalam problem solving. Ini menjadi bekal penting, baik untuk pendidikan setelah Latsardis maupun ketika sudah terjun ke lapangan,” jelasnya.
Selama empat hari pelaksanaan Latsardis, para taruna mendapatkan berbagai materi pelatihan, antara lain wawasan kebangsaan, Peraturan Urusan Dinas Dalam (PUDD) yang mengatur tata cara kehidupan sehari-hari taruna, Peraturan Baris-Berbaris (PBB), materi deradikalisasi, kepemimpinan dan problem solving, survival, serta pelatihan lainnya. Seluruh kegiatan tersebut dibina secara resmi oleh pelatih dari Bintara dan Perwira Rindam IV/Diponegoro.
Salah satu peserta Latsardis, Gabriel Nametaka Harap (18), taruna baru Program Studi Survei, Pengukuran, dan Informasi Pertanahan (SPIP), mengaku memperoleh banyak pengalaman berharga selama mengikuti kegiatan tersebut. Ia mengungkapkan ketertarikannya menekuni bidang pertanahan sejak awal masuk STPN.
“Saya terinspirasi dari kakak saya yang bekerja di BPN. Agar fokus dengan karier saya ke depan, makanya saya memilih STPN. Harapan saya setelah Latsardis ini, saya bisa lebih disiplin lagi, taat waktu karena itu yang terpenting, sehingga saya bisa menempuh studi dan mengatur kegiatan dengan lebih baik,” pungkas taruna asal Kalimantan Tengah itu.












