Tahuna, Suara Indonesia-News.Com – Mungkin karena tanpa adanya keterwakilan etnis Nusa Utara dalam perhelatan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulut yang sementara berproses dan bertahap, sebagian pihak merasa atmosfer atau nuansa Pilgub Sulut di Sangihe terlihat adem ayem atau biasa-biasa saja. Buktinya, hingga saat ini, sebagaimana dikatakan oleh beberapa Warga Sangihe tidak terlihat satupun atribut dari para kontestan atau peserta pilgub di sejumlah titik atau lokasi.
“Kalau mau dibandingkan dengan di Kota Manado, segala macam atau bentuk atribut dalam bentuk sticker, baliho, dan spanduk merajalela menghiasi setiap sudut jalan atau area umum hingga mudah dilihat oleh masyarakat. Mungkin, berdasarkan asumsi kami hal ini terjadi karena dari kandidat yang ada tak da satupun yang berasal dari etnis Nusa Utara,” tandas Tokoh Muda Sangihe, yan salasa, Rabu kemarin, pada media ini .
Menurutnya, hal tersebut bukan tidak beralasan atau tanpa sebab musababnya, sebab dari hasil wawancara yang dilakukannya dengan beberapa orang, rata-rata dari mereka mendukung opininya.
“Saya berkata begini karena dari hasil penuturan sejumlah orang yang pernah saya temui. Mereka mengaku santai dan tidak terbeban dalam menghadapi ajang pilgub ini, sebab tak ada satupun kandidat yang diusung menjadi representasi dari wilayah Nusa Utara,” tambah pria vokal itu.
Hal senada juga dikatakan oleh Ketua Bidang Investigasi LP3 Sulut, Johanis Anto Misa. Dijelaskannya, tanpa adanya keterwakilan etnis dari wilayah yang berada di bagian utara Indonesia itu, membuat para pemilih di kawasan itu terkesan adem ayem dalam menghadapi pesta demokrasi tersebut.
“Kondite ini terjadi karena tak ada tokoh Nusa Utara yang ‘bertarung’. Berbeda tahun-tahun sebelumnya kita punya keterwakilan. Tetapi, kali ini tidak sama sekali. Dan itu mungkin yang membuat situasi di Sangihe dan sekitarnya tensi politiknya tidak terlalu tinggi. Mestinya, sekarang ini sudah ramai dengan pernak-pernik pilgub. Tapi, coba lihat saja, sampai sekarang masih sepi atau biasa-biasa saja,” tutur Anto penuh nada penasaran.
Sementara itu, Ketua KPU Sangihe, Elsye Sinadia, tak menampik jika atribut pilgub di Sangihe sangat jarang dan bahkan kosong sama sekali.
“Iya benar, situasinya memang demikian adanya. Namun, bukan berarti hal ini pertanda animo atau antusiasme warga terhadap ajang pilgub sangat minim. Apalagi, sekarang ini masih belum tahapan kampanye,” tukas Sinadia.
Dia kemudian mengatakan, agar setiap pemilih dapat menggunakan hak suaranya dengan sebaik-baiknya.
“Suara anda sangat menentukan perjalanan bangsa dan daerah ini ke depan. Karena itu, gunakanlah hak anda dengan baik, dan usahakanlah agar anda tidak golput dalam pesta demokrasi kali ini,” ajak wanita yang berlatar belakang sebagai pendidik itu.
Diketahui, sampai sejauh ini tersisa dua pasangan calon yang akan mengikuti ajang Pilgub Sulut pada 9 Desember mendatang, yaitu Pasangan Olly Dondokambey-Steven Kandouw yang diusung oleh Partai PDIP dan Pasangangan Maya Rumantir-Glenny Kairupan yang terusung dari Partai Gerindra. (Handry).












