Tanpa Alasan, Dua Perusahan Tidak Hadiri Panggilan Disnaker Kutai Timur

Reporter: Andre

Kutai Timur, Selasa 11/10/2016 (suaraindonesia-news.com) – Dari tiga perusahan yang dipanggil oleh Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur pada hari Senin, 10 Oktober 2016 dalam rangka menyelesaikan persoalan hubungan Industrial yang terjadi antara karyawan dan perusahan berujung gagal.

Pasalnya, dari ketiga perusahan tersebut dua perusahan tidak hadir dalam panggilan mediasi tersebut, yakni PT. Dinamika Prima Arta dan PT. Anugrah Energitama. Dan ketiga perusahan yang dipanggil diantaranya PT. Dinamika Prima Arta, PT. Anugrah Energitama PT. Nusa Indah Kalimantan Plantations dengan persoalan yaitu kekurangan THR thn 2016 dan hak karyawan berupa uang pesangon karyawan yang telah meninggal dunia tidak diberikan.

Ketiga perusahan tersebut dipanggil akibat terjadi persoalan industrial diperusahan yang diadukan oleh Organisasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia 1992 (SBSI 92) Kabupaten Kutai Timur sebagai perwakilan dari pekerja ke dinas tenaga kerja kutim.

Ketua DPC SBSI Kutim, Krispinus Rada, S.Sos yang di damping oleh Ketua Bidang advokasi Hukum Dan Ham, Bernadus Andreas Pong, S.Si, mengatakan bahwa persoalan ini sebenarnya sudah selesai apabila Pihak perusahan atau manegemen bersedia membayarkan hak karyawan pada saat mediasi antara perusahan dan SBSI 92 ditingkat perusahan, namun perusahan bersekukuh dan tidak mau membayar hak karyawan maka pihak SBSI 92 melanjutkan kasus ini ke disnaker.

“Persoalan ini sebenarnya tidak sampai ke dinas apabila perusahan mau taat terhadap aturan undang-undang atau regulasi tenaga kerja yang berlaku di Indonesia ini tapi kami masuk mediasi dan mempertanyakan masalah ini malah mereka bilang bawa saja ke disnaker aja,” ucap krispin.

Sudah beberapa kali perusahan melakukan pelanggaran (membayar THR dan jaminan kematian tidak sesuai aturan) namun selama ini belum ada orang/organisasi yang mau menyelesaikan, namun dengan hadirnya SBSI 1992 karyawan merasa terbantu dan sebagian hak mereka yang dulunya tidak ada sekarang sudah ada.

”Perusahan perusahan ini sudah berapa tahun menerapkan aturan seperti itu seolah olah tidak ada turan undang undang yang mengatur tetang THR maupun Jaminan kematian, apa lagi PT Anugrah Energitama masa orang meninggal ko dikasi hanya 1,5 juta,memangnya nyawa manusia ini sama seperti nyawa binatang. Ya beruntung kami masuk dan membantu mereka kalau tidak selamanya perusahan akan menerapkan aturan itu terus,” tandas Krispin.

Dia menambahkan bahwa khususnya di perusahan yang bergerak di sector perkebunan sawit maupun karet hampir tidak mengikuti regulasi tenaga kerja yang ada atau undang undang no 13 tahun 2003 tenteang ketenagakerjaan.

Ia berharap, dengan ketidak hadirannya perusahan tersebut pemerintah dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja lebih tegas lagi kepada perusahan yang tidak patut terhadap aturan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here