Tak Lagi Nyebrang Sungai, Sudah Ada Jembatan Kayangan

Terima kasih Bupati, Kini Kami Bisa Sekolah Tanpa Nyebrang Sungai. (Foto : Humas Pemkab Jember)

JEMBER, Senin (28/1/2019) suaraindonesia-news.com – Bupati Jember Faida meresmikan Jembatan di Dusun Curahrejo, Desa Curahtakir, Kecamatan Tempurejo, Senin (28/01). Jembatan yang baru dibangun dengan dana APBD Rp 5,7 miliar ini dinamakan Jembatan Kayangan. Selain karena mewujudkan mimpi masyarakat sehingga mudah untuk menyeberang, juga karena di daerah itu ada nama daerah Kayangan.

“Jembatan Kayangan ini memang diinginkan oleh warga Dusun Curahrejo, Desa Curahtakir. Karena selama ini warga di RT 3 dan 4, RW 24, Dusun Curahrejo kalau sungai banjir kesulitan menyeberang,” kata Faida, kemarin. Oleh karena itu, tidak ada alasan lagi siswa PAUD, SD Curahtakir 06, SMPN 2 Tempurejo, dan SMK yang terlambat atau bolos jika sungai sedang banjir.

“Utamanya anak-anak sekolah, sehingga banyak siswa yang terlambat ke sekolah atau mereka memilih tidak sekolah,” terangnya. Orang tua harus mengantar anaknya dengan menyeberang sungai. Sebelumnya, hal ini juga dikeluhkan oleh warga, bahkan penjual sayur yang biasa datang ke sana.

“Setelah jembatan ini selesai, benar-benar bermanfaat bagi warga setempat. Jembatan ini bukan hanya untuk warga Desa Curahtakir saja, tetapi untuk warga Kecamatan Tempurejo,” terangnya. Apalagi, Jembatan Kayangan yang baru selesai dibangun ini juga menghubungkan dengan Desa Harjomuyo, Silo.

“Mudah-mudahan selesainya jembatan benar-benar bermanfaat. Karena warga RT 3 RW 24 (timur sungai) ini terisolasi kalau Sungai Curahtakir ini banjir,” terangnya. Praktis, warga yang rumahnya di timur sungai tidak bisa menyeberang. Bahkan, anggota polisi dan perangkat desa selalu siaga menyeberangkan warga. Anak-anak pun harus membuka sepatu jika hendak menyeberang.

“Dengan terbangunnya jembatan ini, anak-anak tidak lagi direpotkan dengan harus membuka sepatunya,” terang Faida. Sementara itu, Plt Camat Tempurejo Sutarman mengatakan, warga di Dusun Curahrejo bangga karena sudah memiliki jembatan. “Dulunya seperti angan-angan memiliki jembatan megah ini, sehingga ikhtiarnya benar-benar terwujud,” jelas pria yang juga Camat Ambulu ini.

Ini akan menjadi akses bagi masyarakat di daerah timur sungai. Kini, saat musim hujan, masyarakat sudah tidak kesulitan lagi. Pihaknya pun memberikan pesan kepada masyarakat untuk bersama merawat jembatan dengan biaya pembangunan cukup besar ini, yakni Rp 5,7 miliar. “Mari rawat jembatan ini dengan sebaik-baiknya. Kita jaga bersama-sama,” terangnya. Sebab, jembatan bukan hanya milik warga Dusun Curahrejo, tetapi juga banyak orang dari luar Kecamatan Tempurejo yang memanfaatkannya.

Sementara itu, Asiz, 40, warga yang rumahnya di timur sungai mengaku senang dengan selesainya jembatan. Dirinya tidak perlu repot mengantar putranya yang masih duduk di kelas 4 SDN Curahtakir 06 ini. Untung, ketua panitia kegiatan dalam sambutannya mengatakan, keberadaan jembatan ini seperti mimpi. “Sudah puluhan tahun tidak ada jembatan. Jembatan ini benar-benar bermanfaat,” terangnya.

Nantinya jembatan ini bukan hanya untuk warga Tempurejo saja, tetapi semua warga. “Termasuk yang dari Desa Harjomulyo, Silo,” ujar pria yang juga mantan Kepala SDN Curahtakir 06 ini.

 

Sumber : radarjember.id

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here