Surat Pernyataan dan Peringatan Diambil Alih Pemkab, Tak Digubris Pedagang

oleh -122 views
Foto : Tulisan pengambil alihan toko dan lapak K-5 yang tidak dibuka dipasar Margalela I tak membuat pedagang keder. (Foto: Nora/SI).

SAMPANG, Senin (27/4/2020), suaraindonesia-news.com – Surat pernyataan untuk selalu membuka toko atau lapak K-15 (los pasar kering, red), dan peringatan diambil alih oleh Pemkab Sampang, jika toko dan lapaknya tidak dibuka setiap hari, tidak digubris oleh para pedagang yang memiliki toko dan lapak K-5, di pasar Margalela I, Jl. Syamsul Arifin, Kecamatan Sampang Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.

Penyebabnya, puluhan toko dan lapak K-5 (los pasar kering), yang ada di pasar Margalela I, di tutup dan ditinggal tak berpenghuni. Surat pernyataan kesanggupan untuk membuka toko atau lapak K-5 setiap hari dan ancaman pengambilan alih oleh Pemkab, yang di tuliskan dipintu roling setiap toko, tidak membuat para pemilik toko dan lapak K-5 takut.

Telusur suaraindonesia-news.com, awalnya para pedagang yang mempunyai toko dan lapak
K-5, di pasar Margalela I, membuka toko dan lapak K-5 nya untuk berjualan bahan kering. Berjalan satu atau dua bulan, mulai ada keresahan di para pedagang yang mempunyai toko dan lapak K-5, karena sepi pembeli dan jualannya tidak laku.

Berawal dari keresahan sepi pembeli tersebut, akhirnya para pedagang yang mempunyai toko dan lapak K-5 di pasar Margalela I, mulai menutup jualannya satu persatu. Hingga, akhirnya toko dan lapak K-5 tutup semua. Walaupun ada yang buka, hanya ada satu atau dua toko.

“Bagaimana tidak ditutup mas, jualan di pasar Margalela I, sangat sepi pembeli. Satu hari belum tentu laku satu baju. Keberadaan pasar Margalela I (baik los pasar basahnya dan los pasar keringnya), masih kalah dengan pasar besar Srimangunan. Masyarakat masih terpaku untuk pergi belanja ke pasar Srimangunan. Sehingga, pedagang di pasar Margalela I, sangat sepi pembeli,” terang seorang pedagang yang mempunyai toko di pasar Margalela I, tapi ndak mau namanya dikorankan.

Jadi imbuhnya, mau dibuat surat pernyataan atau ancaman mau diambil alih Pemkab, jika tidak dibuka, tidak membuat pedagang takut. Sebab, dipaksakan untuk dibuka sekalipun, sangat sepi pembeli.

“Apakah kami harus membuka dan menjaga toko setiap hari, tapi tidak ada satu pun pembeli,” pungkasnya.

Ditambahkannya, seharusnya Pemkab Sampang, melalui dinas terkait mencari pola atau solusi terobosan agar masyarakat Sampang, tertarik berbelanja ke pasar Margalela I.

“Saya kira pasti ada solusi atau terobosan untuk menghidupkan dan menggerakkan masyarakat mau berbelanja ke pasar Margalela I. Libatkan semua pihak terkait dan masyarakat untuk mencari solusi tersebut,” pungkasnya.

Reporter : Nora/Luk
Editor : Amin
Publisher : Ela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *