Soal Coklat Mermaid Yang Tewaskan Anak, Dinkes: Negatif Zat Berbahaya

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Slamet Budiyanto di ruang kerjanya.

PEKALONGAN, Jumat (10/5/2019) suaraindonesia-news.com – Isu soal coklat beracun yang menewaskan seorang di Kota Pekalongan akhirnya menemui titik terang. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan mengungkap hasil pemeriksaan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Semarang terhadap sampel jajanan Coklat Mermaid. Hasilnya menunjukkan bahwa dalam sampel tidak mengandung zat kimia berbahaya.

Kepala Dinkes Kota Pekalongan, Slamet Budiyanto menerangkan, sesuai hasil laboratorium dari BPOM Semarang, tidak terdapat unsur zat kimia berbahaya yang menyebabkan konsumen keracunan. “Biasanya zat kimia berbahaya yang timbulkan keracunan sampai meninggal adalah seperti arsenik dan sianida. Dari hasil lab, tidak ditemukan zat-zat tersebut dalam sampel,” jelasnya.

Sedangkan keracunan yang terjadi pada anak, bukan disebabkan oleh zat berbahaya dalam jajan tersebut. Sehingga untuk mengetahui penyebabnya harus dilakukan autopsi. “Itu wewenang pihak kepolisian, dan harus dapat persetujuan keluarga,” tandas Budi.

Budi sendiri mengaku, pihaknya kesulitan menemukan bukti otentik, karena keterlambatan dalam menerima informasi. Pihaknya hanya bisa membawa sampel jajanan yang dijual pedagang, bukan yang dikonsumsi korban. Begitu pula, Dinkes gagal mendapatkan bekas muntahan korban.

“Jadi yang kami periksa sampel jajanan yang ada di warung. Semula ada 10 coklat, 4 bungkus sudah dibeli konsumen, 3 sudah dibeli korban dan rekannya. 3 sisanya itulah yang kami jadikan sampel,” kata Budi.

Kondisi jajanan yang kedaluwarsa, memang akan menimbulkan bakteri. Namun menurut Budi, efeknya terhadap tubuh tidak akan secepat seperti saat terkontaminasi zat kimia berbahaya.

“Kedaluwarsa ataupun ada bakteri, itu dampaknya diare, 1-2 hari jika tak tertangani bisa berbahaya. Tapi, untuk kasus tersebut korban makan sore, kemudian malamnya meninggal. Jadi prosesnya cepat,” tegas Budi.

Karenanya ia mengatakan, baik Dinkes maupun BPOM belum bisa menarik kesimpulan soal korban yang meninggal dari hasil sampel coklat tersebut. “Kesimpulannya belum ada. Jika memang ingin diketahui penyebabnya harus melakukan autopsi yang melibatkan banyak pihak,” pungkas Budi.

Reporter : Arsyad
Editor : Amin
Publisher : Mariska

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here