Semarakkan HUT RI ke 72, “Pocong” Ikut Pawai Seribu Obor di Sumenep

oleh -284 views
Foto: Pawai Seribu Obor Ala Pocong, Rabu (16/8/2017) malam.

SUMENEP, Rabu (16 Agustus 2017) suaraindonesia-news.com – Masyarakat Desa Juruan Laok, Batuputih, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, merayakan HUT RI ke 72 berbeda dengan yang lain, Rabu (16/8) malam.

Peserta yang berasal dari siswa, perangkat desa, dan masyarakat umum membawa obor. Diantara mereka ada yang mengenakan baju serba putih, mirip pocong.

Mereka berjalan kaki sekitar 1 km menuju lapangan dekat balai Desa Juruan Laok. Selama perjalanan, penonton dihibur dengan musik kolaborasi tongtong dan drum band.

Di lapangan Desa, mereka melakukan antraksi unik, yakni membentuk formasi bertuliskan “Juruan Laok”. Baca Juga: PA Sumenep Dinilai Abaikan Bukti Kepemilikan, Keluarga Hj Maryam Tak Puas

“Ada seribu warga yang terlibat langsung. Mereka membawa obor sesuai dengan kreasi masing-masing,” kata Kepala Desa Juruan Laok, Kecamatan Batuputih, Sumenep, Sanhaji.

Menurutnya, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk memeriahkan HUT RI dan bentuk syukur terhadap kemerdekaan RI.

“Ini juga bagian dari cara mengenang perjuangan para Pahlawan yang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah,” ujarnya.

Kegiatan yang juga dihadiri tokoh masyarakat dan pihak Muspika setempat itu, juga disampaikan sejarah Desa Juruan Laok dan periode kepemimpinan dari masa ke masa yang diawali dengan pembacaan teks Proklamasi.

Pawai obor tersebut merupakan acara puncak dari rangkaian kegiatan HUT RI yang sebelumnya digelar sejumlah lomba, seperti tarik tambang, lari karung, bakiak, dan pindah bendera.

Pertandingan Bola Api Warnai Perayaan HUT RI di Sumenep

Sumenep – Permainan yang cukup membahayakan berupa sepak bola api mewarnai perayaan HUT RI ke 72 di Desa Juruan Laok, Kecamatan Batuputih, Sumenep, Madura, Jawa Timir, Rabu ().

Seperti bola pada umumnya, mereka memainkan bola api itu untuk masuk ke gawang lawan. Bedanya, pemainnya hanya 5 orang dalam setiap tim dan tanpa menggunakan alas kaki.

Pemain terlihat linca membawa bola api seakan tak peduli dengan kobaran api. “Ini sudah biasa dan tidak panas,” kata salah seorang pemain bola api, Miftahol Arifin.

Sementara, salah seorang panitia pelaksana, Zalwi, mengatakan, kegiatan tersebut sengaja diadakan untuk menunjukkan kepiawaian pemuda Desa Juruan Laok dalam membawa bola api.

“Tidak semua bisa memainkan bola api, tapi hanya mereka yang mempunyai keberanian dan kelebihan tersendiri,” ujarnya.

Bola api dibuat dari buah kelapa kering yang kulit luarnya dikupas. Lalu direndam pada minyak tanah.(Zaini)

Tinggalkan Balasan