ACEH UTARA, Selasa (29/07) suaraindonesia-news.com – Penjualan Atribut sekolah di tingkat Sekolah Menengah Atas Aceh Utara marak terjadi. Kepala sekolah mengakui hal tersebut lumrah terjadi. Penjualan atribut dengan harga tinggi ini dijual melalui Koperasi sekolah.
Penjualan atribut sekolah berkedok koperasi ini berupa simbol sekolah dan kelas secara disablon. Selain itu untuk siswa ditambahkan dasi dan siswi jelbab uniform khusus sekolah dijual dengan harga fantastis.
Seperti yang terjadi di SMA Negeri 1 Matang Kuli Kabupaten Aceh Utara, sebuah isu yang menyudutkan pihak sekolah dengan dugaan pungli dana dari siswa untuk pengadaan atribut sebesar Rp.130ribu persiswa/siswi.
Pihak sekolah membantah adanya pungli.
“Tidak ada pungli, namun yang ada kami wajibkan siswa untuk menggunakan atribut sekolah yang lengkap. Mereka bisa membelinya di koperasi sekolah,” kata Kepala Sekolah SMA N1 Matang Kuli, Khairuddin S.Pd, M.Pd melalui salah satu wakilnya, Faisal.
“Harga lengkapnya dijual Rp.130ribu,” lanjutnya.
Ia menambahkan, tidak hanya beban atribut seharga Rp130ribu, siswa setempat juga diwajibkan membayar yang disebutkan uang komite sekolah sebesar Rp25ribu persiswa.
“Ini kita wajibkan kepada siswa yang mampu, dimana uang ini untuk membantu siswa yang kurang mampu dan anak yatim,” tandasnya.
Kepala sekolah setempat, Khairuddin S.Pd, M.Pd, tidak mengambil pusing soal pembelian atribut di sekolahnya. Ia menganggap hal tersebut biasa terjadi. Malah ia mempercontohkan mahalnya harga pendidikan disalah satu sekolah bergengsi di Aceh, tidak pernah dipermasalahkan.
“Anak saya di fajar harapan, biaya masuk pendidikannya mencapai Rp13juta, kok tidak pernah dipersoalkan. Aturan Permendikbud kan sama saja?,” terangnya.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan di Aceh Utara, Muhammad Johan, S.Pd, M.Pd mengeluarkan statemen monohok, konfirmasi wartawan guna mempertanyakan perihal isu tersebut dijawab dengan jawaban singkat dan sangat padat.
“Itu tidak benar,” jawabnya via chat whatappsnya, Selasa (29/07/2025).
Berdasarkan informasi dan keluhan masyarakat, di Aceh Utara masih belum terbebaskan biaya biaya pendidikan. Calon siswa/siswi baru kesulitan masuk sekolah karena beban biaya, seperti untuk membeli atribut saja harus mengeluarkan biaya sebesar Rp130ribu untuk membeli simbol sekolah dan cetakan kelas serta jelbab bagi siswi, dasi untuk siswa.













