EkonomiRegional

Rumah Jokowi Jember Gandeng Bank Sampah Maju Bersama Untuk Entaskan Kemiskinan

123
×

Rumah Jokowi Jember Gandeng Bank Sampah Maju Bersama Untuk Entaskan Kemiskinan

Sebarkan artikel ini
Maju Bersama Untuk Entaskan Kemiskinan
Audiensi DPC Rumah Jokowi Jember dengan pengurus Bank Sampah Maju Bersama membahas potensi budidaya maggot untuk mengentaskan kemiskinan di Jember. (Foto: Guntur Rahmatullah/SI)

JEMBER, Jumat (10/12/2021) suaraindonesia-news.com – Dewan Pengelola Cabang (DPC) Rumah Jokowi Jember menggandeng Bank Sampah Maju Bersama, Dusun Curah Buntu Desa Jenggawah, Kec. Jenggawah untuk mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Jember.

Bank Sampah Maju Bersama mempunyai unit usaha budidaya Maggot atau belatung dari lalat Black Soldier Fly (BSF) dimana harga fresh maggot perkilonya Rp. 6000, berguna untuk pakan bagi hewan unggas, burung serta ikan.

Seperti belatung pada umumnya, maggot dari lalat BSF hidup dengan mengonsumsi sampah organik, sehingga budidaya maggot ini merupakan solusi untuk mengurangi sampah yang efektif.

Dewan Pembina Rumah Jokowi Jember Elok Hidayatie menyampaikan, pihaknya mempunyai misi untuk mengentaskan kemiskinan dengan mendorong graduasi KPM (Keluarga Penerima Manfaat) menjadi Keluarga Sejahtera.

“Kita targetkan bersama selama tiga bulan ke depan ada seribu KPM yang tergraduasi melalui program ini,” ungkap Elok usai bertemu dengan para pengurus Bank Sampah Maju Bersama, Jumat (10/12/2021).

Elok menjelaskan, untuk tahap awal Rumah Jokowi Jember akan menyelenggarakan seminar mengenai potensi budidaya Maggot ini secara rutin dengan target peserta para KPM, yang kemudian akan dipekerjakan sebagai tenaga di bank sampah tersebut.

“Tugasnya membantu produksi di sini, menghimpun sampah rumah tangganya masing-masing yang organik, kemudian dijual. Kita akan gandeng dinas terkait untuk pemasarannya,” sambungnya.

Bagi warga yang rumahnya jauh dari sekretariat Bank Sampah Maju Bersama, akan dibantu membuat secara mandiri tempat budidaya Maggot dengan pendampingan dan pengelolaan terpusat.

 

Baru 4 Bulan Rintis Usaha Budidaya Maggot

 

Budidaya maggot
Pengurus menunjukkan maggot yang dibudidayakannya. (Foto: Guntur Rahmatullah/SI)

Ketua Bank Sampah Maju Bersama, Indar Setiani menjelaskan unit usaha maggot baru dirintis sejak 4 bulan yang lalu. Saat ini sudah ada 60 orang yang tergabung bersama membudidayakan maggot.

“Kami juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan dukungan pemerintah desa setempat dan kami tawarkan supaya masyarakat ikut terlibat dan pada akhirnya juga bisa mendapatkan penghasilan untuk ekonomi keluarganya,” ungkap Indar.

Secara telaten Indar Setiani bersama timnya memberdayakan warga agar tidak jijik mengelola sampah, memisahkan antara organik dan unorganik.

Selain itu, Indar Setiani menjelaskan alur budidaya maggot diawali dari telur lalat BSF lalu ditetaskan sampai menjadi larva.

Kemudian jelas Indar, maggot itu diberikan makan dari limbah organik, biasanya sampah dapur seperti nasi, buah, atau sayur. Dalam waktu 14 hari, larva itu akan membesar.

“Magot usia 14 hari kadar proteinnya paling tinggi untuk digunakan pakan ternak,” sebut Indar.

Nantinya dari hasil produksi selama 14 hari itu, mereka akan memanen 90 persen sedangkan 10 persen lagi akan dibudidayakan. Sehingga budidaya maggot yang mereka lakukan akan berkelanjutan dan tidak perlu lagi membeli bibit.

Indar mengungkapkan dengan metode yang mereka lakukan telah terbukti mengurangi biaya budidaya maggot. Sehingga teknologi yang digunakan tidak terlalu banyak tetapi caranya bisa bermacam-macam.

Dirinya juga menjelaskan budidaya maggot ini cukup bermamfaat untuk mengurangi jumlah sampah organik, terutama di rumah. Tidak tanggung-tanggung, 100 kg maggot BSF dapat mengurai sekitar 1 ton sampah organik hanya dalam waktu singkat yakni 1×24 jam.

Menurutnya hal ini lebih efektif daripada solusi pengurangan sampah lain seperti metode kompos. Selain memerlukan lahan yang luas, metode kompos ini juga membutuhkan waktu yang lama untuk mengurai sampah.

“ Selain itu dengan pakan maggot untuk pakan ternak ikan maupun hewan unggas dapat menghemat sampai dengan 50 persen,” jelasnya.

Indar Setiani mengharapkan ada dukungan dari pemerintah dan berbagai pihak untuk bahu-membahu membantu perekonomian masyarakat serta mengurangi sampah.

“Saya sangat bersyukur ada gayung bersambut dari Rumah Jokowi karena selama ini saya melihat mereka yang dapat bansos pemerintah biasanya langsung habis untuk konsumsi, dan dengan ikut membudidayakan maggot ini mereka akan lepas dari ketergantungannya kepada bansos itu dan menjadi keluarga sejahtera bisa menghasilkan uang sendiri tapi syaratnya mereka tidak didropping uangnya, namun dibantu alat dan fasilitas produksi serta pendidikan untuk meningkatkan kemampuan SDM di bidang ini,” kata Indar Setiani.

Indar Setiani membutuhkan alat produksi yaitu mesin pemilah sampah dan pencacah sampah supaya produksi lebih cepat dan lebih besar lagi. Dia berharap pemerintah dapat mengakomodasi kebutuhan tersebut.

Reporter : Guntur Rahmatullah
Editor : Redaksi
Publisher : Syaiful