exodus
Berita UtamaKesehatanNewsPendidikan

Ratusan Siswa di Madat Keluhkan Menu MBG, Guru Sebut Banyak Makanan Tidak Tersantap

×

Ratusan Siswa di Madat Keluhkan Menu MBG, Guru Sebut Banyak Makanan Tidak Tersantap

Sebarkan artikel ini
IMG 20260804 210011
Foto: Dapur SPPG Yayasan Syifa Dara Mandiri di Gampong Tanjong Ara.

ACEH TIMUR, Selasa (04/08) suaraindonesia-news.com – Ratusan siswa dari berbagai jenjang pendidikan di Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, dilaporkan menyampaikan keluhan terkait kualitas dan cita rasa menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keluhan tersebut disampaikan oleh sejumlah guru dan orang tua siswa yang menilai banyak makanan tidak dikonsumsi sehingga berpotensi terbuang.

Program MBG tersebut didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Syifa Dara Madani yang berlokasi di Desa Tanjong Ara, Kecamatan Madat. Paket makanan disalurkan ke sejumlah satuan pendidikan dan pesantren di Gampong Lueng Sa, Matang Guru, Pante Bayam, Meunasah Tingkeum, dan Meunasah Asan, mulai dari jenjang PAUD, SD, MIN, MTs hingga santri.

Seorang guru MIN yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan banyak siswa tidak menghabiskan makanan yang diberikan karena dinilai kurang sesuai dengan selera mereka.

“Rasa menu makanannya tidak enak, banyak makanan mubazir atau dibuang. Jangankan siswa, orang tua saja tidak selera untuk makan,” ujar sumber tersebut.

Keterangan serupa juga disampaikan oleh sejumlah orang tua siswa. Mereka mengaku anak-anak kerap membawa pulang paket makanan dalam kondisi masih utuh karena tidak menyukai menu yang disajikan.

Selain cita rasa, guru di SD Negeri Lueng Sa juga menyoroti variasi menu yang dinilai kurang beragam.

Menurutnya, menu yang disajikan hampir setiap hari didominasi telur ayam dengan sambal dan kacang panjang rebus. Sementara susu, yang disebut menjadi menu favorit anak-anak, baru diberikan satu kali sejak program berjalan.

Guru tersebut juga menilai buah-buahan yang dibagikan umumnya berupa salak dan lengkeng yang terkadang sudah tidak segar, sehingga kurang diminati siswa.

“Kami sudah komplain beberapa kali, tetapi pihak SPPG tidak pernah menanggapi,” ungkap guru tersebut.

Sejumlah guru dan warga berharap pengelola SPPG segera melakukan evaluasi terhadap kualitas, cita rasa, serta variasi menu agar makanan yang disediakan dapat dikonsumsi siswa secara optimal.

Mereka khawatir apabila kondisi tersebut terus berlangsung, semakin banyak makanan yang terbuang sehingga tujuan Program Makan Bergizi Gratis untuk meningkatkan asupan gizi peserta didik tidak tercapai secara maksimal.

Ketua Tuha Peut Gampong (TPG) Lueng Sa, Darkasyi Usma, juga menyampaikan kritik terhadap fungsi pengawasan program. Menurutnya, apabila terdapat penyajian menu yang tidak sesuai dengan ketentuan, pengawas seharusnya memberikan pembinaan maupun teguran kepada pengelola.

“Seharusnya pengawas dapat memberikan teguran bila ada pengelola SPPG yang tidak mengikuti aturan yang ditetapkan pemerintah,” tegas Darkasyi.

Darkasyi menegaskan masyarakat mendukung penuh Program Makan Bergizi Gratis karena diyakini dapat meningkatkan kesehatan dan kecerdasan anak-anak. Namun, menurutnya, manfaat program akan berkurang apabila makanan yang disediakan tidak dikonsumsi.

“Tentu kami sangat mendukung program MBG agar anak-anak lebih sehat dan cerdas. Tapi jika makanan tersebut tidak dimakan dan hanya mubazir, bukan saja anak-anak yang dirugikan, tetapi pemerintah juga dirugikan karena tujuan program tidak tercapai,” ujarnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pengelola SPPG Tanjong Ara, Faisal, belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi yang disampaikan Suara Indonesia News melalui aplikasi WhatsApp.

Redaksi akan memuat penjelasan dari pihak SPPG apabila yang bersangkutan memberikan tanggapan pada kesempatan berikutnya.