BLORA, Kamis (28/03/2019) suaraindonesia-news.com – Rudi Karisma adalah satu diantara 40 orang peserta Diklat bantuan masyarakat Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan gas Bumi (PPSDM Migas), Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian ESDM.
Pria 23 tahun itu, merasa beruntung bisa mendapatkan kesempatan mengikuti program gratis yang diselenggarakan oleh PPSDM Migas, sebagai bentuk perhatian lingkungan bidang pendikan. Tidak semua orang bisa memperoleh kesempatan langka.
Rudi termasuk salah satu orang beruntung, bisa mengikuti diklat yang ilaksanakan mulai (11-29/3/2019) itu. Sebagaima diketahui, ratusan peserta harus melelui seleksi pada dinas tenaga kerja di masing-masing kabupaten. Ada tiga kabupaten yang mendapat program gratis tersebut, diantaranya Kabupaten Blora Jawa Tengah, dan Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
“Saya sekarang mengikuti diklat Operator Scaffolding,” ujarnya.
Dia mengaku, banyak ilmu pengetahuan yang dia peroleh. Terlebih dalam diklat yang dia ikuti tersbut juga diimbangi dengan ilmuKeselamatandanKesehatanKerja (K3).
“Waktu di SMK dulu saya pernah mendapat materi K3. Itu pun hanya sekadar materi. Dari materi yang dulu saya dapatkan, akhirnya saya tahu prekatiknya,” kata pria lulusan SMK Migas tahun 2015 lalu.
Di sangat berterima kasih kepada PPSDM Migas, yang telah menyelenggarakan diklat tersebut.
“Ilmu yang saya dapatkan, mudah-mudahan bisa termanfaatkan. Harapannya harapannya bisa langsung mendapat pekerjaan,” kata pria yang tinggal di Jalan Taman Siswa Gang Dewantara nomor 8, Balun Sawahan Kecamatan Cepu.
Alasan untuk segera mendapatkan kerja itu, cukup beralasan. Sebab, kedua orang tua kandung Rudi sudah tidak ada. Ayah Rudi, meninggal pada Mei 2017 lalu. Lalu disusul sang Ibu, meninggal dunia pada Desember 2018.
“Saya sekarang tinggal bersama adik dan abahya. Saya sama adik beda ayah,” katanya.
Kendati demikian, Rudi tak lantas berpangku tangan. Selama setahun terakhir, dirinya mencoba perungtungan dengan menjadi penerjemah novem beberbahasa asing. Namun, usahanya masih belum membuahkan hasil karena harus bersaing dengan grup besar.
“Saya berdiri sendiri. semantara yang grup besar, mereka sudah memiliki tim sendiri. Jadi saya kalah Cepat, karena kompetisinya bebasis Online, kalah cepat,” katanya.
Ada beberapa novel yang sebenarnya sudah pernah dia terjemahkan. “Isekai izakaya Nobu, Tensei Slime dan Green Skin. Semua drop karena ada grup yang ambil dan rilisnya lebih cepat,” ujarnya.
Dia sebenarnya ingin menelateni dunia penerjemah. “Sebenarnya ingin gabung dengan grup besar. Tapi bingung gabungnya dimana. Semoga kedepan ada kesempatan,” ungkap Rudy.
Disela-sela praktik scaffolding, Rudi menyampaikan, ingin fokus dulu dengan diklat yang dilaksakan saat ini.
“Sementara fokus ini dulu Mas. Untuk penerjemahan novel, mungkin nanti setelah pelatihan selesai sambil menunggu kesempatan kerja,” tandasnya.
Reporter : Lukman
Editor : Amin
Publisher : Imam












