PKPA Kota Medan Launching Buku Saku Paralegal Untuk Komunitas

oleh -35 views
Acara Launching perdana Buku Saku Paralegal yang digelar Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Kota Medan, di Cafe Kito, Kamis (17/12/2020). (Foto: M. Habil Syah/SI).

SUMATERA UTARA, Jumat (18/12/2020) suaraindonesia-news.com – Untuk pertama kali Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Kota Medan meluncurkan sebuah buku panduan untuk komunitas yang mempunyai profesi atau pekerjaan dalam hal membela dan melindungi hak-hak anak, namun dengan dasar sifat sosial sosial dalam pemberdayaan hukum masyarakat khususnya terhadap anak.

Buku yang dikemas secara sederhana namun terlihat apik itu bertajuk sampul “Buku Saku Paralegal Untuk Komunitas”, dalam hal ini komunitas binaan atau asuhan PKPA Kota Medan.

Ada 50 examplar yang di launching perdana PKPA Medan Buku Saku Paralegal Untuk Komunitas. Buku ini di terbitkan agar Paralegal atau pendamping yang dapat memberikan bantuan hukum diluar persidangan.

Hal ini adalah menjadi kepedulian Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Medan.

“Dengan pembekalan selain dari buku panduan ini, PKPA juga telah melakukan Training of Trainers (ToT), Paralegal diharapkan dapat memperjuangkan sekaligus membela haknya sendiri dan/atau membela hak dari orang-orang lain disekitarnya untuk mendapatkan keadilan,” jelas Keumala Dewi saat memeberi komentarnya melalui pesan singkat WhatsApp nya, Jumat (18/12).

Karena Paralegal bukan sebagai profesi atau pekerjaan, tapi kesukarelawan pemberdayaan hukum masyarakat, menurut Direktur Eksekutif PKPA Keumala Dewi Paralegal dibekali pengetahuan hukum (baik Hukum formil maupun Hukum Materil).

Untuk diketahui, Paralegal hadir dari komunitas dan bekerja untuk Komunitas. Mereka diberdayakan untuk membantu masyarakat terutama kaum marjinal saat mencari keadilan dengan pengawasan dari Organisasi Bantuan Hukum.

Dijelaskan Camelia Nasution, satu dari tiga penulis buku saku Paralegal itu, Paralegal bukan Advokat atau Pengacara. Fungsi utamanya memberikan nasehat hukum, mendokumentasikan kasus, menumbuhkan kemampuan sosial masyarakat, mendampingi masyarakat dalam proses perundingan dalam suatu perselisihan hukum atau memberikan pertolongan pertama apabila terjadi peristiwa hukum di komunitas atau wilayahnya namun harus berkoordinasi dengan Organisasi Bantuan Hukum resmi, hal itu di utarakan Kamis (17/12/2020) saat launching perdana sebanyak 50 examplar di Cafe Kito Medan.

Dia juga menjelaskan siapapun dapat menjadi paralegal, sepanjang dia bukan advokat atau pengacara dan mau bekerja sukarela untuk kepentingan masyarakat miskin, rentan atau juga di komunitasnya sendiri.

“Mereka bisa saja pemuka masyarakat, pemuda, ketua adat, aktivis, serikat buruh, guru, mahasiswa, petani, nelayan dan lain-lain,” tambah Camelia.

Dari wilayah kerjanya, paralegal dapat bekerja bersama dengan kelompok petani, kelompok buruh, kelompok perempuan, kelompok masyarakat adat, atau kelompok miskin kota. Paralegal juga dapat bekerja saat terjadi kasus-kasus di masyarakat termasuk di dalamnya kasus-kasus kekerasan dalam rumaht tangga perdagangan manusia, kekerasan fisik, fisikis seksual pada perempuan dan anak, juga kasus-kasus lainnya.

Komunitas Paralegal dibawah asuhan PKPA Kota Medan ada di 3 wilayah yakni Pinang Baris, jalan Ayahanda dan di jalan Simalingkar.

Lebih jauh lagi Keumala Dewi menjelaskan, bahwa dalam pembuatan buku ini sangat membutuhkan tahap-tahap proses yang lumayan sulit termasuk dalam hal pendapat, namun akhirnya Buku Saku Paralrgal ini bisa di terbitkan saat ini, untuk buku saku paralegal ini tidak untuk diperjual belikan.

“Namun buat rekan-rekan komunitas yang ingin memperbanyak atau menggandakan buku ini silahkan saja, namun kami berharap sebelum memperbanyak buku saku ini harus berkomunikasi dahaulu kepada kami ataubteman-teman di PKPA kota Medan,” tutupnya.

Reporter : M. Habil Syah
Editor : Redaksi
Publisher : Syaiful

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *