Petani Nias Masih Gali Lobang Tutup Lobang, Pemerintah???

oleh -45 views
Yuwinka Hendrik Sandroto, S.H.

Pertanian di wilayah Nias masih dikelola secara tradisional, meskipun dalam beberapa waktu terakhir ini sudah mulai menggunakan alat yang lebih modern dari pada alat-alat tradisional sebelumnya. Namun, tentu masih belum dapat dikategorikan, ini dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian di daerah Nias. Entah kenapa, pertumbuhan perekonomian di Nias masih sangat melambat. Nyata dalam kehidupan petaninya, yang terkesan masih gali lobang tutup lobang dalam menjalankan usaha pertaniannya.

Orientasi menjalankan pertaniannya masih hanya sebatas pada pemenuhan kebutuhan pokok keluarga atau untuk mencukupkan kebutuhan hidup sehari-hari. Tentunya tingkat pendidikan yang relatif rendah menjadi salah satu faktor yang menjadikan pertumbuhan ini menjadi sangat melambat, ditambah keterampilan serta pengetahuan yang masih tergolong sedikit dibidang pertanian itu sendiri.

Olehkarenanya, perlulah pemerintah daerah Nias merencanakan serta memulai secepatnya mendorong pertumbuhan sektor pertanian di wilayah Nias. Ini memang bukan suatu tugas yang mudah untuk dikerjakan, namun dengan kesan yang sangat melambat ini, bukanlah sebuah jawaban yang tepat untuk tidak segera direncanakan dan dikerjakan secara berkelanjutan.

Para petani setiap saat, masih tercekik dan berteriak minta tolong tidak karuan untuk dapat bertahan dan menghidupi keluarganya. Para petani bukannya tidak mampu untuk bekerja, namun harga hasil panen yang belum dapat mencukupi kebutuhan pokoknya membuat mereka mungkin sudah mulai putus asa bahkan menyerah. Sehingga tak jarang ditemui, banyak masyarakat Nias yang mulai mencari penghidupannya diluar Pulau Nias.

Mengembangkan pertanian kearah pertanian modern, pastinya butuh waktu yang lama untuk mewujudkan hal ini. Namun kedaulatan pangan khususnya untuk wilayah Nias harus segera diwujudkan. Masyarakat Nias harus mampu mengekspor hasil pertaniannya keluar daerah dalam jumlah banyak, tentu inilah mimpi untuk dapat segera diwujudkan. Tentu sangat disayangkan, Nias masih sangat-sangat bergantung dari hasil impor dari daerah-daerah lainnya dalam mencukupi kebutuhan pokoknya.

Tentunya diharapkan pemerintah dapat mampu segera dengan nyata melakukan proses ini, mungkin dengan memulai penganekaragaman pertanian (diversified farming) untuk memulai masa-masa transisi dalam membangun sektor pertanian tradisional kearah pertanian modern. Hal ini dilakukan agar produk pertanian dapat memperkecil dampak kegagalan panen tanaman pokok dan memberikan jaminan kepastian pendapatan bagi para petani.

Penyuluhan atau pelatihan diharapkan dapat lebih ditingkatkan lagi, secara terstruktur dan berkelanjutan ditinggkat kecamatan, desa sampai kepada tingkat RTnya. Ini artinya, petani tidak boleh dibiarkan mengelola usaha pertaniannya sendiri tanpa adanya pelatihan yang cukup dan memadai serta wawasan yang matang untuk mengelola suatu usaha pertaniannya.

Pemerintah daerah diharapkan mampu dapat berada sebagai sahabat bagi para petani, sebagai tempat mengadu, bertanya dan harapan. Tentunya kita mengetahui bahwa diselenggarakannya otonomi daerah ini bertujuan untuk mengembangkan dan memandirikan suatu daerah agar dapat tercapainya cita-cita bersama yakni demi mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, bukan hanya sekedar menciptakan elit-elit penguasa daerah yang sejahtera hidupnya dan memelaratkan masyarakat lainnya.

Sebuah sistem transformasi kearah pertanian modern dan mandiri serta berhaluan kepada hasil panen yang dapat dikomersialkan bukan hanya sampai kepada tujuan penghidupan kebutuhan pokok para petani saja. Juga diharapkan menjadi daerah yang mampu mengekspor hasil pertanian dan membawa keuntungan bagi daerah dalam mengembangkan dan memandirikan daerahnya.

Patut kita tunggu, jika pemerintah daerah sudah memulainya, sudah menjadi hal yang lumrah untuk diapresiasi dan ditunggu hasilnya, jika masih belum, maka segeralah, perbaikilah, kita berharap dapat mengecap kehidupan yang sejahtera rohani dan jasmaninya ditanah kelahiran kita.

Catatan: Ini bukan tulisan ilmiah, ini hanya berangkat dari pengamatan dan pembicaraan singkat penulis dengan saudara-saudara petani masyarakat Nias

Penulis : Yuwinka Hendrik Sandroto, S.H.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *