Perubahan Iklim dan Hama Pengaruhi Penurunan Produksi Panen Padi di Blora

oleh -216 views
Foto : Petani Desa Getas kecamatan Cepu kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah Sedang Membersihkan Rumput yang Mengganggu Perkembangan Tanaman Padi. Senin (27/6/2022)

BLORA, Senin (27/06/2020) suaraindonesia-news.com – Diam – diam Sebagian Kabupaten Blora mengalami penurunan produksi panen padi pada sektor pertanian sejak tiga tahun terakhir.

Diantaranya yakni Desa Ngloram, Desa Kapuan,Desa Getas, Desa kentong dan Desa Mulyorejo kecamatan Cepu Kabupaten Blora provinsi Jawa tengah.

Dari hasil penurunan panen padi tersebut berawal dari serangan hama tikus di tahun 2019. Setelah itu, padi petani di lima desa diserang hama wereng coklat di tahun 2020-2022.

Menurut Jasmin, warga RT/RW.04/02 desa getas, para petani tersebut kewalahan untuk memberantas hama tikus dan wereng.

Jasmin mengatakan, sejak 2019 pihaknya mengalami penurunan produksi panen padi hingga 60-70 %, dan pernah mengalami kenaikan panen sekali dikisaran bulan Juli 2021 lalu.

“Saya alami penurunan produksi panen sejak 2019-2022, sekali mengalami kenaikan,” ujarnya.

Diumpamakan, jika modal sebesar 20 juta maka hasil panin hanya 3 juta.

“Niku pun Kulo lampahi sampek hamane tikus niku Kulo tumbas kaleh tiang yang pembasmi hama. 1 tikus Kulo tumbas seribu tapi gih tetep ngalami kemrosotan produksi panen padi,” jelasnya.

Diro Beny Susanto, Kepala Desa Ngloram ketika dikonfirmasi wartawan di kediamannya mengatakan bahwa petani di Desanya hampir 50% mengalami penurunan produksi panen yang disebabkan faktor iklim, hama dan proses persilangan tanam.

Karena, kata dia, kondisi alam yang disebabkan serangan hama mulai dari tikus, wereng coklat dan kerdil yaitu binatang hama yang mempengaruhi pohon padi tidak bisa normal.

“Jadi untuk mengantisipasi terjadinya serangan hama petani harus menyemprot berulang ulang dua hari sekali,” ungkapnya.

“50% petani didesa Ngloram Yo iso diarani wis gagal panen wong diserang hama, mulai tikus, wereng coklat dan Kerdil. Kerdil iku semacam virus sing mempengaruhi pari gak iso ambyak, petani berupaya dua hari sekali menyemprot untuk membunuh hama tersebut, tapi hasil panennya juga tidak maksimal,” Katanya.

Jika dibandingkan dulu, tanaman padi 2 kali tanam dalam setahun, sedangkan yang satu kali polowijo, hal itu akan terjadi sirkulasi tanah.

Terpisah, Kiki Heruwati, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) kecamatan Cepu ketika dikonfirmasi diruangan kerjanya, mengatakan bahwa desa yang mengalami proses penurunan panen padi itu disebabkan selain iklim dan hama juga pola tanam yang Padi Padi pantun.

Menurutnya, tidak ada siklus hama untuk berhenti sementara, hama tersebut akan terus ada. Pihaknya menyampaikan apabila pola tanam setelah padi berhenti satu bulan atau dua bulan baru diganti dengan tanaman polowijo.

“Maka produksi juga membaik jadi memungkinkan tanah tidak bekerja terus,” terangnya.

Sementara itu, pihaknya berencana mengajak stakeholder dikecamatan Cepu mulai Camat, Lurah dan Kades.

“Yang pertama tanam padi dan yang kedua tanam serentak yang merupakan tanam yang efektif apalagi dilingkup sawah yang irigasi. Seperti Desa gadon, desa getas, desa sumberpitu, dan Nglanjuk akan tetapi harus melibatkan tenaga pengairan,” tandasnya.

Reporter : Lukman
Editor : Nurul Anam
Publisher : Romla

Tinggalkan Balasan