SAMPANG, Jumat (26/6), suaraindonesia-news.com – Aksi demo mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sampang, di gedung DPRD Kamis (26/6), dengan salah satu poin tuntutanya mendesak DPRD Sampang meningkatkan kesejahteraan guru honorer serta memberikan kepastian status bagi guru PPPK paruh waktu menjadi PPPK penuh waktu, mendapat tanggapan positif Pengamat Pendidikan dan juga mantan Ketua Dewan Pendidikan Sampang, Drs. Ach. Mawardi, M.Pd.
Ach. Mawardi mengatakan, mahasiswa yang tergabung dalam PMII Sampang, memiliki Sense Of Crisis yang tinggi terhadap situasi dan permasalahan yang ada. Sehingga, saat gelar aksi demo meminta DPRD Sampang, memberikan rekomendasi pada Pemerintah Pusat agar melakukan evaluasi total terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Juga mendesak DPRD Sampang, meningkatkan kesejahteraan guru honorer dan memberikan kepastian status bagi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu menjadi PPPK penuh waktu secara adil dan transparan, melalui peningkatan insentif, jaminan kesejahteraan sosial, perlindungan hukum, dan peningkatan kompetensi secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Artinya ungkap Ach. Mawardi, dengan diselipkannya terkait kesejahteraan guru honorer dan P3K paruh waktu menjadi P3K penuh waktu, disalah satu tuntutannya menjadi hal yang menarik. Karena pada aksi demo yang digelar mahasiswa yang tergabung dalam PMII Sampang, isu utamanya meminta evaluasi total pelaksanaan program MBG gratis. Dan moratorium Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) .
“Sense Of Crisis memang harus dimiliki oleh mahasiswa, karena merupakan kepekaan, kewaspadaan dan kesadaran tinggi terhadap situasi atau potensi masalah,” imbuhnya.
Terakhir Ach. Mawardi mengatakan, status Pegawai Pemerintah Perjanjian Kerja (PPPK), walaupun masih berembel Paruh Waktu untuk tenaga pendidik (guru) dengan bayaran jauh dari harapan, sangatlah memprihatinkan. Karens tugas dan tanggungjawabnya sama dengan guru ASN.
Harusnya, Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat memperhatikan perbaikan dan nasib para PPPK, sehingga yang berstatus paruh waktu segera dientas menjadi PPPK penuh waktu. Alasannya, (1) guru PPPK paruh waktu tugas mulianya mencerdaskan anak bangsa, menyiapkan generasi Gen Z lebih hebat dan siap menghadapi masa depannya. Karena SPPG penghasilan jauh lebih besar dibanding guru tersebut. Wajar kalau para guru paruh waktu, iri akan kondisi ini.
(2) Kepastian kesejahteraan guru paruh waktu sangat jauh dari layak, dengan usia kebanyakan sdh 40 th keatas dengan jumlah anak yg banyak memerlukan penghasilan yg layak tentunya. (3) Tidak ada organisasi profesi dan sejenisnya yg memikirkan keberlangsungan guru paruh waktu.












