Pembangunan Jembatan Srepang Terganjal Pembebasan Tanah

Ilustrasi

SAMPANG, Suara Indonesia-News.Com – Proyek jembatan Srepang yang menghubungkan Kecamatan Sreseh dengan Kecamatan Pangarengan akan dibangun dengan panjang bentangan 300 meter dan lebar bahu jalan 30 meter. Meski sudah direncanakan Pemkab Sampang sejak 2010 dengan alokasi dana Rp 60 miliar, namun hingga kini belum ada tanda-tanda segera direalisasikan, karena terbentur pembebasan lahan.

Padahal sebelumnya telah menghabiskan anggaran dana feasibility study atau studi kelayakan sebesar Rp 300 juta dari APBD Sampang 2010.

Proyek monumental yang berintergarasi dengan program kegiatan yang dilaksanakan Badan Pengelola Wilayah Suramadu (BPWS) tersebut juga semakin terhambat karena ada perubahan titik koordinat lokasi jembatan. Sehingga terpaksa diubah dengan konsekuensi harus mengeluarkan lagi dana studi kelayakan senilai Rp 300 juta.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Sampang, Ir Mohammad Zis, menyatakan, untuk merealisasikan pembangunan jembatan tersebut memang terkendala pembebasan lahan milik warga setempat.

“Kita sudah merencanakan pembebasan lahan untuk akses Jalan Lingkar Selatan (JLS) dengan panjang mencapai 14,63 kilometer (km). Proyek JLS tersebut kelak sebagai jalur alternatif menuju Jembatan Serpang, berfungsi memperpendek jarak tempuh ke arah Suramadu, serta dapat mengurangi volume Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) yang cukup tinggi di jalur tengah. Namun dana pembebasan lahan bersumber dari APBD sebesar 15 miliar tidak terserap, karena terkendala harga pembebasan lahan tidak mencapai kesepakatan,” jelas Zis, kemarin.

Ditambahkannya, sebenarnya pembangunan Jembatan Serpang sangat bermanfaat bagi warga setempat, karena akan berpengaruh terhadap pengembangan industri garam, pengelolaan ikan air tawar, serta dapat meningkatkan sektor pariwisata. Mengingat wilayah selatan tersebut merupakan sentra tambak garam dan udang, tapi tidak optimal karena terkendala akses jalan yang masih belum terbuka.

“Jika proyek ini terwujud, pemerintah pusat akan melakukan tracer study, karena berkaitan dengan sarana modal transportasi diwilayah pedesaan. Sehingga akan berdampak terhadap meningkatnya roda perekonomian masyarakat,” paparnya. (nor/luk).


Warning: A non-numeric value encountered in /home/suaraindonesia/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 1008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here